ZAMAN DISRUPSI

oleh -
Achmad Chodjim.

Oleh : Achmad Chodjim*

DISTRUPSI adalah kekacauan. Keadaan yang terpecah-pecah, sedangkan disruptif berarti yang mengacau, mengacaukan, atau yang memecah-belah keadaan yang sudah mapan. Sebelum adanya internet, kedaulatan Orde Baru seakan-akan dapat berlangsung selamanya untuk mengantarkan kehidupan bangsa Indonesia ke masa depan yang lebih maju. Ternyata dengan masuknya intenet di Indonesia sejak awal 1990-an (ada yang menyebut 1992, IndoNet beroperasi pada 1994), tahun 1998 Orba runtuh.

Belum sempat kita menyikapi keadaan pasca runtuhnya Orba, telepon genggam berkembang dengan pesat, seolah-olah telekomunikasi dengan telepon genggam dapat digunakan sebagai sarana untuk menyatukan, memperkuat, dan memajukan Indonesia. Tak berapa lama dengan tersebarnya telepon genggam dan penggunaan internet di masyarakat, generasi muda malah mendapatkan kemudahan untuk menyebarkan, memaparkan, dan menikmati video porno yang dulunya harus diperoleh dengan sembunyi-sembunyi dari tempat-tempat penyewaan kaset video, ld, dan vcd.

Tidak berapa lama dari keadaan tersebut, smartphone (ponsel cerdas) dari Nokia masuk ke Indonesia pada 2005. Lalu, Android mulai digunakan pada 2008, dan diselingi dengan munculnya BB pada 2004 dan dominasinya runtuh pada tahun 2015. Sejak itu WA (WhatsApp Mesenger) yang merupakan aplikasi pesan lintas platform mulai menguasai media sosial di Indonesia. Dengan WA kita dapat mengirim pesan, foto, video, audio, lokasi, dan kontak dengan mudah. Akibatnya, setiap hari kita kebanjiran berita yang tidak kita ketahui kebenarannya. Berita yang kita terima bisa benar, dan bisa pula palsu (hoaks).

Generasi milenial yang dipatok lahir 1990, yang ditandai dengan tumbuhnya internet di dunia, dihadapkan pada perubahan keadaan yang sangat cepat. Mereka belum sempat untuk hidup mapan pada suatu keadaan, datang gelombang baru yang sulit diantisipasi akibatnya. Mereka belum sempat membangun bisnis yang sesuai dengan tren atau kecenderungan pertumbuhannya, muncul arus baru yang mengacaukan bisnis yang ditekuninya.

Dalam situasi disrupsi, agama ternyata tidak mampu memberikan solusi bagi umat manusia. Secara faktual, ayat-ayat kitab suci justru dijadikan alat untuk menyerang pihak lain. Agama dijadikan pembenaran untuk menyerang dan menghancurkan pihak lain yang tidak sekeyakinan. Akibatnya, generasi milenial yang belum sempat mencerna apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup ini, menjadi korban kebiadaban manusia generasi pendahulunya. Akibat perang telah menghancurkan masa depan mereka.

Semoga para elite bangsa menyadari hal ini, dan tidak hanya untuk berburu kuasa tetapi melupakan masa depan generasi penerus bangsa. Bila generasi penerus bangsa ini diabaikan, maka jangan berharap Indonesia ada di masa depan!(*)

*Penulis Buku Centhini , Syech Siti Djenar, Sunan Kalijaga serta berbagai buku lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *