ZAMAN DISRUPSI III

oleh -

Oleh : Achmad Chodjim*

TANTANGAN yang kita hadapi adalah apa yang telah kita siapkan untuk generasi tersebut, yang notabene merupakan anak dan cucu kita. Berdasarkan perkiraan dengan melihat realitas yang terjadi dewasa ini, pasar kerja pada zaman itu akan didominasi “machine learning” (pemelajaran mesin) dan robotik. Pemelajaran mesin adalah disiplin ilmu yang mencakup perancangan dan pengembangan algoritma yang memungkinkan komputer untuk mengembangkan perilaku yang didasarkan pada data empiris, seperti dari basis data. Contoh nyata algoritma dalam kehidupan sehari-hari adalah seperti cara membuat mie instan, membuat sayur dengan bumbu masak kemasan, dan lain-lain, yang tertulis pada bagian luar kemasannya.

Dengan kemahiran dalam mengoperasikan pemelajaran-mesin dan robot, maka orang yang menjadi pengusaha restoran tidak lagi membutuhkan banyak pekerja untuk membuat masakan yang dipesan. Membuat pakaian secara konveksi pun tidak memerlukan banyak pekerja, tetapi cukup dengan satu orang pembuat pola pakaian dengan memprogramnya di komputer, satu orang yang menyusun kain bahan untuk pakaian, sedangkan pemotongan kain dan penjahitannya semuanya dikerjakan oleh robot. Dengan demikian akan lahir industri rumahan yang mungkin hanya dikerjakan oleh satu dua orang anggota keluarga untuk memenuhi kehidupannya.

Tidak terlalu lama lagi, pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan padat karya akan semakin hilang. Negara tidak akan mampu lagi menyediakan lapangan kerja. Buruh-buruh kasar yang berpendidikan kerja pasti akan kehilangan pekerjaan. Negara-negara maju tidak lagi melakukan relokasi bagi industrinya ke negara-negara berkembang untuk mendapatkan upah murah. Mengapa? Sebab, dengan pemelajaran mesin dan robot ongkosnya lebih murah, dan kualitas produknya dijamin seragam, tidak tergantung pada keterampilan pekerja yang sangat dipengaruhi oleh emosinya dan kesehatan tubuhnya. Sistem pengendalian kualitas produk dijalankan dengan mesin sehingga produk yang cacat akan mendekati nol.

Perubahan zaman itu seperti bendungan jebol. Hal demikian ini tak bisa dilihat secara lahiriah apa yang sedang terjadi hari ini. Kalau kita melihat hari ini, rasanya tak mungkin akan terjadi “lenyapnya pekerjaan tenaga manusia” secara massal. Kita terjebak oleh penglihatan lahiriah yang sedang terjadi pada hari ini, seperti masih banyaknya guru honorer, buruh lepas, dan pabrik-pabrik yang masih mengandalkan tenaga kasar. Tetapi, kalau kita berani dengan jujur melihat perjalanan sejarah umat manusia, saat ini kita bisa merasakan akan terjadinya perubahan yang disebut kebangkitan generasi.

Mari kita melihat masa lalu sejenak, bagaimana Islam yang dibawa Nabi Muhammad itu dalam waktu yang tak terlalu lama, membangkitkan bangsa Arab yang tak dikenal dunia itu mampu menguasai dunia melalui Dinasti Abbasiyyah (750 – 1258), Dinasti Umayyah di Andalusia, Spanyol (711 – 1492). Setelah selesai Perang Salib (1096 – 1192), bangsa Barat lebih banyak belajar untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilandasi oleh sikap hidup lebih maju daripada umat Islam yang ada di Timur Tengah dan Andalusia. Ternyata Dinasti Umayyah di Andalusia tidak menyadari perkembangan yang terjadi pada masyarakat Eropa, dan tak disangka-sangka pada 2 Rabul awal 897 H (2 Januari 1492 M) Granada jatuh ke tangan Spanyol.

Pada awal abad ke-16 Dinasti Ottoman di Turki merasa jaya dan merasa menguasai Dunia Islam, padahal bangsa Eropa mulai menjelajah dunia. Sejak saat itu sebenarnya umat Islam di dunia mengalami hidup nestapa, di mana-mana dikuasai bangsa Eropa, dan sejak 1602 kerajaan-kerajaan di Nusantara yang berjumlah 337 kerajaan itu dikuasai oleh para pedagang Belanda yang bernama VOC. Turki tidak menyadari keadaan itu selama ratusan tahun, dan tinggal menunggu keruntuhannya (runtuh pada 1924).

Meskipun Dinasti Ottoman baru runtuh pada 1924, Turki tidak mengetahui perubahan kehidupan yang terjadi di Eropa. Pada abad ke-17 (1600 – 1699) bangsa Eropa menguasai benua Asia, Afrika, dan Amerika. Bangsa Eropa menguasai kekayaan dunia, dan menjadikan bangsa-bangsa di ketiga benua itu sebagai mesin-mesin pencetak kekayaan. Dari hasil penjarahan kekayaan dari ketiga benua itu, pada 1750 lahirlah Revolusi Industri. Dunia mengalami titik balik dalam kehidupan, hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari dipengaruhi oleh Revolusi Industri, khususnya dalam hal peningkatan pertumbuhan penduduk dan pendapatan rata-rata yang berkelanjutan negara-negara merdeka di dunia. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Selama dua abad setelah Revolusi Industri, rata-rata pendapatan perkapita negara-negara merdeka di dunia meningkat lebih dari enam kali lipat.

Bersambung ke Zaman Disrupsi IV.

Salam damai,

Rahayu,

*Penulis adalah Buku Centhini , Syech Siti Djenar, Sunan Kalijaga serta berbagai buku lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *