Zaman Disrupsi II

oleh -

Oleh : Achmad Chodjim*

DALAM dunia yang sedang dilanda fenomena yang disrupsi, dunia yang perubahannya sangat cepat, pergerakan dunia industri dan persaingan kerja tidak linear, kita tidak mudah untuk mengetahui orang yang fasiq (tahu hukum tapi melanggar) sebagaimana disebutkan dalam ayat Alquran. Berita hoaks dilempar ke masyarakat tidak dengan menggunakan orang, lalu berita itu tersebar dari mulut ke mulut. Berita hoaks dilempar ke masyarakat dengan menggunakan media sosial, yang tak mudah untuk ditelusuri. Belum sempat ditelusuri kebenarannya, langsung ada kekerasan terhadap sebagian orang, lalu diikuti dengan berita hoaks terhadap kejadian yang ada. Hal semacam ini menyebabkan apa yang bisa kita saksikan di Timur Tengah sekarang ini.

Berita hoaks yang terjadi di Timur Tengah itu sekarang sedang melanda di Indonesia, terutama setelah runtuhnya Orde Baru (Orba). Sekolah dengan nama agama, merajalela di mana-mana. Memang, tidak salah dan bahkan baik-baik saja orang beramai-ramai mendirikan sekolah bernuansa agama bila hal itu merupakan sarana untuk menanamkan nilai-nilai kebajikan dan bukan doktrin agama dan dogma agama yang ditanamkan. Bila sekolah-sekolah agama terpadu dengan ilmu pengetahuan dan teknologi itu dibangun sebagai sarana untuk mendidik, mengajar, dan melatih keterampilan untuk kesejahteraan secara nyata lahir dan batin, maka sekolah yang demikian sangat diperlukan. Tetapi, bila sekolah yang bernuansa agama dan terpadu itu untuk membangkitkan semangat sektarian, maka keadaan demikianlah yang menjadi sumber hoaks yang diformalkan. Hoaks yang dibungkus dengan dalil agama.

Generasi milenial harus dididik untuk memahami dengan benar makna hidup di dunia ini. Dalam bahasa kuna selalu ditekankan apa yang namanya pendidikan untuk memahami dengan benar Sangkan Paraning Dumadi. Kita harus mendidik anak-anak kita agar memahami asal dan tujuan hidup dengan benar. Bila SPD ini ditanamkan dengan benar, maka kita dan generasi milenial akan memahami arti hamemayu hayuning bawana. Ternyata hidup di dunia ini untuk melestarikan kebajikan yang ada di dunia ini. Konsekuensi logis dari tumbuh dan kekalnya kebajikan di dunia adalah kesejahteraan hidup di akhirat, atau di masa yang akan datang.

Yang diajarkan adalah kebenaran dan kesejahteraan hidup secara nyata. Apa yang disebut “masuk surga” bukan suatu yang dikhayalkan, lalu diyakini dan diimpikan keberadaannya. Surga harus dicipta, dibangun, dengan amal saleh secara nyata, dan bukan tafsiran tentang kesalehan. Surga harus diwujudkan dengan kerja nyata secara disiplin, jujur, rajin, dan cermat. Surga harus dihadirkan melalui kerja nyata yang dapat menyejahterakan dan memakmurkan kehidupan di dunia ini. Inilah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Di era disrupsi ini kita tidak akan bisa memberantas hoaks dengan bicara dan menyatakan bahwa berita itu hoaks atau tidak, lalu memviralkan berbagai kisah sukses lewat media sosial. Di era disrupsi ini generasi milenial harus diberikan bimbingan yang benar dalam menggunakan sarana media sosial. Bila yang dibimbing itu anak-anak yang belum cukup umur bila terpapar hal-hal yang belum dapat dicerna oleh mereka, maka sarana media sosial yang berupa ponsel cerdas, gadget (perangkat canggih) dan sejenisnya, harus diatur untuk kebutuhan mereka; dan tidak dibiarkan terpapar terhadap segala kandungan yang muncul di layarnya.

Inovasi teknologi bukan merupakan sesuatu yang buruk. Dengan inovasi teknologi digital yang merambah media sosial, kita dapat melaksanakan pembelajaran daring yang dirancang secara terbuka. Kita dapat saling berbagi, saling terhubung dan berjejaring satu sama lain dalam hal-hal yang berguna bagi kesejahteraan hidup bersama. Guru konvensional tidak mungkin mampu bersaing dalam hal mencari sumber informasi, mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan pertumbuhan dan perkembangan industri. Semua sudah dijalankan oleh mesin AI (Artificial Intelligence).

Tugas guru dan orang tua di era disrupsi ini adalah mengajarkan niliai-nilai etika, budaya, kearifan lokal, dan empati sosial. Guru dan orang tua harus menjadi mentor, tutor, stimulator, fasilitator, motivator, bahkan inspirator mengembangkan imajinasi, kreativitas, karakter, serta team work siswa yang dibutuhkan pada masa depan. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua tidak boleh lagi acuh tak acuh terhadap perkembangan teknologi digital dan AI. Kita harus belajar kembali untuk dapat menguasai aplikasi internet, termasuk untuk dapat membuka situs-situs porno yang diblokir. Tanpa mengetahui hal-hal yang sperti ini, kita akan kebobolan dan kecolongan.

Dengan kedunguan kita, generasi milenial yang ada di Indonesia ini akan tidak terarah, dan akan tertipu oleh jutaan berita hoaks. Oleh karena mereka merasa orangtua mereka tidak mengerti internet dan media sosial lainnya, maka mereka akan mengakses situs-situs yang malah bisa merugikan, atau bahkan menghancurkan masa depannya. Hal yang dapat menghancurkan masa depan generasi milenial di Indonesia ini bukan hanya hal-hal yang tampaknya berbau negatif seperti situs porno dan sejenisnya, tetapi yang lebih bahaya adalah ceramah-ceramah agama yang sepotong-sepotong untuk membangkitkan khayalan-khayalan tentang surga dengan dalil-dalil yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Dalam hal-hal yang berkaitan dengan agama, kita harus mengarah untuk hal-hal yang membangkitkan semangat hidup untuk bekerja keras dan cermat dalam amal kebajikan, yaitu amaliah untuk menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa dan negara. Sudah jelas, bahwa laki-laki dan perempuan yang beramal saleh dan tetap teguh dalam imannya, maka Tuhan akan mem-berikan balasan yang lebih baik.

Dunia ternyata tidak diam. Tidak statis. Dunia selalu berubah, baik itu peru-bahan yang terjadi secara alami, maupun perubahan oleh ulah makhluk-makhluk-Nya. Ketika perubahan itu sangat lambat, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan oleh para orangtua dan tetua-tetua masyarakat. Dalam era perubahan yang sangat lambat, pewarisan nilai-nilai luhur dengan mudah dicerna oleh generasi berikutnya. Tetapi, di dunia yang disrupsi, perubahan yang sangat cepat, kita akan kesulitan menanamkan nilai-nilai luhur itu, bila generasi tuanya tidak mau melakukan perubahan terhadap diri mereka sendiri.

Generasi tua harus tidak menanamkan jarak terhadap generasi mudanya. Generasi tua harus bisa menjadi teman dalam menghadapi perubahan yang serba cepat di dunia ini. Oleh karena itu, Tri Ajar dari Ki Hajar Dewantara dalam dunia pendidikan harus diterapkan. Tri Ajar tersebut tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi pijakan nyata untuk generasi Zaman Now.

Wassalam,
Rahayu,
Hongngngngng…..

*Penulis adalah Buku Centhini , Syech Siti Djenar, Sunan Kalijaga serta berbagai buku lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *