Zaman Disrupsi (Bagian VI)

  • Whatsapp

SEJAK generasi manusia pra-sejarah manusia membutuhkan kebebasan dalam hidupnya. Daya kebebasan yang dimiliki manusia itulah yang membuat manusia bisa berkembang menjadi makhluk dengan kecerdasan untuk menguasai alam dunia. Berangkat dari ditemukannya alat untuk berburu, lalu penemuan api oleh manusia, dan dengan menggunakan api itu manusia mampu memasak makanan sehingga daging mudah dikunyah, dan buah-buahan pun tidak harus dimakan mentah, melainkan ada yang harus dimasak. Karbohidrat sebagai bahan bakar di dalam tubuh dimasak agar mudah dimanfaatkan oleh tubuh.

Dengan kecerdasannya yang luar biasa, suatu kecerdasan yang tidak dimiliki oleh binatang, ditambah dengan kebebasannya, manusia berpetualang di bumi ini, manusia menjelajah bumi, dan akhirnya membangun komunitas baru dan berusaha mempertahankan eksistensi komunitasnya itu dengan berusaha memahami keadaan lingkungan hidupnya dan membangun nilai-nilai budaya yang bisa diwariskan kepada generasi penerusnya. Inilah kenyataan hidup manusia, yang dari awalnya bisa mempertahankan eksistensinya dengan nilai-nilai budayanya.

Bacaan Lainnya

Komunitas manusia bertambah besar dan menjadi kumpulan klan dan suku. Meskipun telah menjadi besar dan terdiri dari banyak suku sehingga menjadi suatu bangsa, jika semua suku yang ada di dalamnya masih berpegang teguh dengan budayanya, maka mereka bisa menjadi satu bangsa dan satu negara yang jaya dan bertahan hingga ribuan tahun. Hal ini bisa kita lihat pada bangsa Cina, atau Chunghoa (Tionghoa). Untuk dapat tetap mewariskan nilai-nilai itu setiap bangsa mengembangkan cerita, kisah, atau dongeng tentang leluhurnya di dunia ini. Di Timur Tengah, kisah leluhur manusia dipotret oleh kaum Yahudi lewat Kitab Kejadian, lalu dikuatkan oleh agama Kristen dan diendorsa (disetujui) oleh agama Islam.

Quran 2:30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada banyak malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu manusia yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami (para malaikat, termasuk iblis) senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Ayat di atas tentunya merupakan varian dari Alkitab, yaitu Kitab Kejadian 1, Ayat 26, “Allah berfirman: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

Ternyata, manusia bukan sekadar dicipta sebagai makhluk hidup yang sebangsa binatang, melainkan manusia mendapat mandat untuk berkuasa di bumi. Agar manusia bisa berkuasa, maka manusia pun diberi kebebasan oleh Tuhan Semesta Alam, dan kebebasan ini tidak diberikan kepada hewan. Dalam hal ini, baik Alquran maupun Alkitab sama-sama memberikan kebebasan manusia untuk memetik buah-buahan di taman, kecuali buah satu jenis pohon, yang di dalam Alkitab disebut sebagai pohon pengetahuan baik dan buruk, dan dalam Alquran disebut “pohon ini” (yang oleh setan disebut pohon khuldi alias pohon kekekalan).

Kej. 2:16-17, Lalu, Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas. Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu jangan kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya pastilah engkau akan mati.

Quran 2:35. Dan Kami berkata: “Hai Adam diami oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan jangan mendekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.

Sebenarnya, banyak bangsa di dunia ini yang mempunyai mitos penciptaan manusia pertama, dan dari mitos penciptaan itu diselipkan legenda manusia sebagai cara untuk membangkitkan nilai-nilai suatu bangsa untuk eksistensi bangsa pemilik mitos itu. Setiap suku bangsa di Nusantara juga mempunyai mitos manusia pertamanya. Semua mitos juga mengandung kebebasan dan pantangannya. Artinya, kebebasan itu harus dijamin, dan agar kebebasan itu tidak rusak, harus ada pembatasnya.

Bersambung ke Zaman Disrupsi ke VII

Salam,

Salim,

Peace…

Hongngngngngngng…….

Rahayu…

*Penulis adalah dosen untuk kuliah tasawuf di Yayasan Wakaf Paramadina  serta penulis buku Centhini, Syech Sitidjenar, Sunan Kalijaga dan berbagai buku lainnya.

  • Whatsapp

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.