Zaman Disrupsi (Bagian V)

oleh -

Oleh : Achmad Chodjim*

ALGORITMA diambil dari kata al-khawârizmi yaitu Muhammad bin Musa al-Khawârizmi, seorang ahli di bidang matematika, astronomi, dan astrologi. Ia dilahirkan di Persia (sekarang Uzbekistan) pada 780 dan wafat di Bagdad pada 850, di masa Kedaulatan Abbasiyyah. Ia adalah bapak aljabar dan orang yang memperkenalkan desimal dan angka nol.

Mengapa agama Islam pada waktu itu bisa menghasilkan orang-orang yang memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi? Yang harus kita pahami, pada waktu itu Alquran bukan sebagai buku yang disucikan dan tabu untuk dipahami dengan menggunakan nalar. Alquran merupakan kitab yang mulia, yang digali sedalam-dalamnya kandungannya untuk kemuliaan hidup manusia. Agar lahir pemikir-pemikir ulung, hingga hari ini pemerintah Israel menggaji warganya dari kalangan Yahudi Ortodoks yang menekuni Talmud. Mereka terbagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan berdiskusi sedalam-dalamnya tentang kandungan Talmud.

Sekarang, mari kita perhatikan ayat-ayat yang mendorong kita untuk memahami secara nyata dunia ini. Di bawah ini dikutipkan Ayat Alquran 85: 19-22 dan 16: 10-12. Yang pertama tentang pemahaman kita terhadap Alquran, dan ayang kedua tentang pemaham kita terhadap ayat-ayat-Nya.

Q. 85:19-22
19. Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan.
20. Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka.
21. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Bacaan yang mulia.
22. Yang ada di dalam Lauh Mahfuzh.

Q. 16:10-12
10. Dia yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya untuk tumbuh-tumbuhan, yang di sana kamu menggembalakan ternakmu. 11. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda bagi orang yang memikirkan. 12. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda bagi kaum yang menggunakan akal-pikirannya.

Bila kita kaji dengan saksama, orang yang mendustakan kandungan Alquran adalah orang kafir. Dengan demikian, orang yang membaca Alquran dan tak mengerti makna yang terkandung dalam ayat yang dibacanya, bisa menjadi orang kafir yang tak disadarinya. Oleh karena itu, setelah kita membaca Alquran dan merenungkan isinya, maka berusaha menerapkan dalam kehidupan ini dan tentunya harus disesuaikan dengan keadaan lingkungan hidupnya.

Menerapkan ayat yang berpijak pada nilai-nilai yang sudah mengakar dan bahkan tertulis dalam lontar-lontar kuna agar keharmonisan dengan alam tetap terjaga, seperti juga dengan Alquran yang berada di Loh yang terjaga.

Pada rangkaian ayat yang kedua, dijelaskan bahwa hujan, tumbuhan, peternakan, serta beredarnya bintang-bintang di langit merupakan ayat-ayat Tuhan yang harus dipelajari. Hasil dari mempelajari ayat adalah lahirnya ilmu pengetahuan dan teknologi, yang selanjutnya adalah penciptaan lapangan kerja. Jadi, jika kita membaca ayat dan tidak bisa menghasilkan lapangan kerja yang sesuai dengan kemajuan zamannya, maka itu sama saja dengan melupakan kehidupan manusia.

Mengenai proses perubahan zaman ini Yuval Noah Harari merumuskan makna pengetahuan (knowledge) bagi kehidupan manusia. Mereka yang bisa mengikuti perkembangan pengetahuan di dunia ini, akan bisa mempertahankan eksistensinya di dunia ini. Pengetahuan tetap berkembang, meskipun kita tidak mau menerimanya atau bahkan kita melarangnya. Oleh karena itu, proses berkembangnya pengetahuan itu harus kita pahami sebagai proses berjalannya malam dan siang dan beredarnya bintang-bintang di angkasa.

I. Pengetahuan = skriptura x logika.
II. Pengetahuan = data empiris x matematika.
III. Pengetahuan = kumpulan pengalaman x sensitivitas.

Bilamana kita menyaksikan kenyataan di dunia dewasa ini, kita sebagai umat Islam, sebagian besar masih berada pada tingkat pertama dalam memahami ayat-ayat Tuhan yang dibentangkan di alam raya ini. Keadaan demikian tak akan sesuai dengan lapangan kerja yang tersedia di abad ke-21 ini. Kitab suci dipelajari sebenarnya hanya untuk landasan moralitas kita sebagai orang Islam. Bahkan mereka yang sudah hidup dalam panggung pengetahuan II sudah meninggalkan panggungnya, karena mereka mengutamakan efisiensi dalam bekerja agar bisa menikmati hidup sebagai manusia.

Ketika kita dalam fase pengetahuan I, kita rajin membaca kitab suci dan kita topang dengan logika untuk bisa memberikan harapan hidup yang lebih baik bagi manusia. Tetapi setelah lahirnya Revolusi Industri, apalagi kita sekarang sudah di abad Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan sistem cyber-physical, kita harus bisa melompat ke tahap Pengetahuan III. Kita harus bisa mengumpulkan pengalaman dari berbagai bangsa yang telah hidup maju bertahun-tahun, dan meningkatkan daya sensitivitas kita terhadap perubahan dunia ini.

Saat ini industri mulai menyentuh dunia virtual, berbentuk konektivitas manusia, mesin dan data, dan semua sudah ada di mana-mana. Penguasaan algoritma-AI menjadi nomor satu untuk Generasi Milenial (Aquarius). Ini adalah syarat dasar ke depan agar tidak kehilangan pekerjaan. Penguasaan algoritma-AI ini seperti penguasaan membaca, menulis, dan berhitung zaman dulu.

Bersambung ke Zaman Disrupsi VI

Salam,
Rahayu,
Peace

*Penulis adalah dosen untuk kuliah tasawuf di Yayasan Wakaf Paramadina  serta penulis buku Centhini, Syech Sitidjenar, Sunan Kalijaga dan berbagai buku lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *