Zaman Disrupsi (Bagian Ke-8)

oleh -
Achmad Chodjim.

Oleh: A. Chodjim*

Sesi ini masih melanjutkan pembahasan tentang “Kebebasan” dalam kehidupan di dunia ini.

Kepemimpinan yang berlandaskan hikmat dan kebijaksanaan berdasarkan perwakilan tidak mendapatkan tempat lagi di Indonesia saat ini. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat semakin jauh panggang dari api. Banyak pencari kerja pada kebingungan karena lapangan kerja semakin mengecil di Zaman Disrupsi ini. Dengan berkembangnya artificial intelligence, kecerdasan buatan, akan banyak orang yang kehilangan pekerjaan, dan tenaga kerja yang baru tidak memperoleh tempat. Inilah yang sebenarnya lebih patut kita namakan Al-Waqi‘ah atau Peristiwa yang Dahsyat. Inilah yang harus kita hadapi, dan kita tidak boleh terbius oleh perebutan kekuasaan.

  1. 56:4-10.
  2. Apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya.
  3. Dan gunung-gunung dihancurluluhkan.
  4. Maka jadilah itu debu yang beterbangan.
  5. Dan kamu menjadi tiga golongan.
  6. Yaitu golongan kanan. Alangkah –bahagia– golongan kanan itu.
  7. Dan golongan kiri. Alangkah –sengsaranya– golongan kiri itu.
  8. Dan orang-orang yang paling depan adalah yang paling depan –memetik hasilnya.

Bumi digoncang dengan dahsyat merupakan perumpamaan bagi kehidupan masyarakat secara umum yang sedang mengalami kecarut-marutan dalam hidupnya. Gunung-gunung yang hancur adalah perumpamaan tentang runtuhnya kekuasaan karena tidak mampu mengatasi kejadian di Zaman Disrupsi saat ini. Bila masyarakat runtuh dan kekuasaan juga sudah tidak bisa bekerja dengan baik, maka semua kejadian itu bagaikan debu yang beterbangan.

BACA JUGA :

Zaman Disrupsi (Bagian ke-VII)

Zaman Disrupsi (Bagian VI)

Zaman Disrupsi (Bagian V)

Keadaan dunia akan menjadi tiga lapisan kelas, yaitu lapisan terdepan, lapisan kanan, dan lapisan penderita atau golongan kiri. Tentu, lapisan generasi manusia yang terdepan ini akan mendapatkan berbagai kemudahan dalam hidup mereka. Mereka tumbuh dari masyarakat terpelajar, terdidik dengan baik, dan disiplin penuh dalam menjalani hidupnya. Mereka digambarkan sebagai orang yang hidup seperti dalam 56: 11- 26.

  1. Mereka adalah orang didekatkan.
  2. Berada dalam taman kenikmatan.
  3. Di atas tahta yang dihias.
  4. Bersandar pada itu, berhadap-hadapan.
  5. Berputar mengelilingi mereka anak-anak muda yang tetap muda.
  6. Dengan gelas, guci, dan cangkir berisi minuman yang jernih.
  7. Mereka tidak pening, dan tidak pula mabuk.
  8. Dan buah-buahan dari yang mereka pilih.
  9. Dan daging unggas dari yang mereka sukai.
  10. Dan orang merdeka yang sarat dengan kebajikan.
  11. Laksana mutiara yang tersembunyi.
  12. Sebagai balasan bagi apa yang mereka kerjakan.
  13. Mereka tak mendengar di dalamnya percakapan kosong dan tak pula perkataan dosa.
  14. Kecuali ucapan: “Damai, damai.”

Mereka adalah orang-orang yang hidup berlandaskan nilai-nilai ketuhanan, sehingga dapat dikatakan mereka adalah manifestasi kehadiran Tuhan itu sendiri. Tentu saja, mereka menikmati hidup ini sepenuhnya. Mereka adalah orang-orang yang hidupnya berada di atas, yang artinya orang hidup yang bebas dari perintah orang lain. Mereka juga disebut sebagai masyarakat yang egaliter melebihi dari yang pernah dislogankan selama Revolusi Perancis di abad ke-18. Mereka hidup sesuai dengan petunjuk hidup yang benar, dalam semangat muda, selalu disertai harapan hidup yang baik, yang digambarkan sebagai anak muda yang tetap muda. Segala jenis minuman dan makanan sangat sehat sehingga tak akan menyebabkan berkurangnya kesadaran. Buah dan makanan yang rasanya seperti daging unggas tersedia dengan mudah sesuai yang mereka perlukan. Mereka hidup dengan penuh kebajikan sesuai dengan pedoman hamemayu hayuning bawana. Percakapan yang tak berguna, hoaks dan sejenisnya tidak ada lagi. Semuanya dilakukan untuk kesalamatan hidup seluruh makhluk yang ada di lingkungannya.

  1. Dan golongan kanan. Alangkah –bahagia– golongan kanan itu.
  2. Di bawah pohon bidara yang tak berduri.
  3. Dan pohon pisang yang bersusun-susun.
  4. Dan tempat teduh yang terbentang luas.
  5. Dan air yang memancar.
  6. Dan buah-buahan yang melimpah ruah.
  7. Tanpa ada putusnya, dan tiada larangan.
  8. Dan sofa-sofa yang tinggi.
  9. Sesungguhnya Kami menumbuhkan semua itu sebagai ciptaan baru.
  10. Dan Kami jadikan mereka sebagai abkâr (belum ada sebelumnya).

Mereka yang termasuk golongan kanan adalah orang yang memperoleh karunia yang sebelumnya mereka tak pernah mereka dapatkan. Oleh karena itu, disebutkan bahwa mereka memperoleh keadaan sebagai ciptaan baru, dan sebelumnya tak pernah ada. Sayangnya, secara tradisional ayat itu langsung dikaitkan dengan perawan, yang justru bertentangan dengan laki-laki dan perempuan beriman yang masuk ke tamannya.

Ketika kesadaran telah bangkit, maka kita pun akan mengetahui tentang apa yang dulunya belum pernah kita nikmati. Misalnya, kita hidup sebelum tahun 1970, terus kita dihidupkan lagi sekarang, tentu kita menyadari bahwa yang kita peroleh sekarang ini belum pernah kita alami pada masa itu. Boleh jadi pada waktu itu masih berupa angan-angan. Oleh karena itu, kita harus dengan serius memahami Zaman Disrupsi ini agar kita dan generasi penerus kita tidak dilempar ke golongan kiri.

Kebebasan yang ada harus diarahkan untuk membangun perkebunan sebagai sumber bahan bakar gas atau etanol. Kita hidupkan pertanian untuk memenuhi kebutuhan akan karbohidrat, protein, dan vitamin. Untuk hal-hal yang berkelimpahan di Nusantara, kita tidak perlu mengimpor, dan harus menjadi komoditi ekspor. Jadi, yang harus dikembangkan adalah teknologi pertanian, teknologi industri pertanian, dan teknologi pangan. Bila ini kita sadari, maka kita bisa berharap untuk menjadi negara yang masyarakatnya masuk dalam kategori golongan terdepan dan golongan kanan.

Bersambung ke Zaman Disrupsi ke-9 tentang “Kesetaraan” (Equlity).

Salam,

Salom,

Peace,

Rahayu….

Hongngngngng…..

*Penulis adalah dosen untuk Ilmu Tasawuf di Yayasan Paramadina serta penulis buku Centhini, Syech Siti Djenar, Sunan Kalijaga dan beberapa buku lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.