Zaman Disrupsi (Bagian ke-VII)

  • Whatsapp

Oleh: A. Chodjim*

SESI ini masih bagian pembahasan tentang kebebasan dalam kehidupan di dunia ini.

Bacaan Lainnya

Baik kebebasan maupun larangannya harus dipegang teguh agar tetap terpelihara keseimbangan dalam sistem. Kebebasan tanpa larangan akan membuat sistem hancur, dan suatu sistem tanpa kebebasan akan mandeg, berhenti, dan suatu saat juga akan hancur. Negara seperti Yunani Kuna, Romawi, Babilonia, Mesopotami dan lain-lainnya lenyap karena kebebasannya sudah tak terkontrol lagi. Begitu juga banyak bangsa yang dikategorikan primitif, yang serba patuh pada aturan tanpa kebebasan warganya juga hancur. Itulah sebabnya bangsa seperti bangsa Indian di benua Amerika atau bangsa Aborigin di Australia juga mengalami kehancurannya.

Dengan adanya kebebasan membuat sebagian klan atau suku bangsa yang merasa kalah, atau terpinggirkan, mereka secara berkelompok mencari daerah baru. Ada kelompok yang bertarung untuk mengalahkan penduduk setempat di daerah baru itu. Ada yang datang dan berbaur dengan penduduk asli di daerah baru, dan ada pula yang membangun komunitas tersendiri, dan akhirnya menjadi suku baru di tengah-tengah suku yang sudah ada sebelumnya. Contoh konkretnya adalah bangsa Cina, bangsa Arab, dan bangsa Eropa.

Bangsa Cina mendirikan negara-negara di luar Cina, seperti Taiwan, Tibet, dan Singapura. Bangsa Cina juga ada yang berbaur dengan bangsa lain dengan jumlah penduduk yang relatif besar dan tidak mendirikan negara sendiri, seperti mereka yang hidup di Thailand, Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Bangsa Arab mendirikan negara-negara di sekitar Jazirah Arabia dan bagian utara Sahara di Afrika. Ada juga bangsa Arab yang berbaur dengan bangsa lain dengan jumlah penduduk yang relatif besar sehingga mewarnai negara-bangsa yang ditumpanginya, seperti Pakistan, India, dan Afganistan. Bangsa Eropa sejak abad ke-16 mulai mencari daerah-daerah baru, dan mendirikan negara di daerah-daerah baru yang ditaklukkan, seperti Kanada, Amerika Serikat, seluruh Amerika Tengah hingga Selatan, New Zealand, dan Australia.

Sekarang yang kita tinjau adalah Kawasan Nusantara yang meliputi anak-benua Indocina, Asia Tenggara, yang sekarang ini telah berdiri negara-bangsa di dalamnya, yaitu Indonesia. Sejak awal abad Masehi tercatat bahwa bangsa dari India dan Arab datang ke Nusantara sambil mencari rempah-rempah. Sebagian dari mereka yang datang itu ada yang berbaur dengan penduduk lokal dan mengajarkan agama yang dibawanya kepada penduduk lokal. Itu berlangsung terus hingga datang penjajahan dari bangsa Eropa melalui VOC. Semua itu bisa terjadi karena kebebasan yang ada pada bangsa-bangsa di Nusantara. Semula bangsa-bangsa di Nusantara menerima sambil menyaring, lalu terbentuk akulturasi dan asimilasi. Namun, dalam perjalanannya bangsa-bangsa di Nusantara ini tidak lagi melakukan penyaringan terhadap pendatang, sehingga banyak anak-bangsa yang dikalahkan. Artinya, penduduk lokal secara perlahan tetapi pasti mulai banyak yang termarginalkan. Keadaan ini semakin diperparah oleh kedatangan VOC.

Sejak awal abad ke-20 hingga lahirnya Indonesia pada 17 Agustus 1945, Nusantara menjadi kawasan yang terbuka di dunia. Semua isme dan agama yang ada di dunia masuk ke Nusantara. Yang jelas ada paham liberal, ada komunis, ada ideologi yang berbasis agama, dan lain-lainnya. Semua tumbuh di Nusantara seizin Belanda yang menguasai Nusantara. Bahkan secara formal paham-paham yang ada dikonkretkan dalam bentuk partai.

Yang jelas paham (isme) yang pertama kali bisa diterima bangsa ini pada abad ke-20 adalah paham liberal. Mengapa? Karena paham liberal berdasarkan kehendak bebas manusia dalam perasaan, keinginan, dan pilihan. Dalam politik paham liberal diwujudkan dalam pemilihan umum yang demokratis. Itulah sebabnya 10 tahun setelah Indonesia merdeka, yaitu 1955, dilakukan pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat di parlemen.

Bila dikaitkan dengan budaya di Nusantara, tentu sistem liberal yang langsung diterapkan di Negara Indonesia yang baru merdeka itu tidaklah tepat. Apa akibatnya? Meskipun sejak merdeka telah diteguhkan bahwa landasan atau dasar negara adalah Pancasila, tetapi pemilihan umum yang bebas itu membuat bangsa ini belum bisa mewujudkan sila-silanya. Akibat lebih jauh adalah 10 tahun kemudian, yaitu 1965 terjadi tragedi bangsa Indonesia yang sangat mengerikan. Orang Indonesia membantai orang Indonesia lainnya yang dianggap sebagai musuhnya, seperti yang terjadi dalam masyarakat primordial.

Sebagai bangsa, setelah 1965 kita mulai berbenah diri untuk membangun Indonesia yang berpijak pada Pancasila dan UUD 1945. Namun, kita belum bisa mengambil pelajaran tentang kebebasan yang terjadi di dunia. Dengan kata lain, kita tidak mengantisipasi perubahan yang mungkin terjadi. Kita tidak melakukan iqra’ terhadap perubahan yang terjadi di dunia. Kita mennganggap dunia ini berjalan secara linier dan dengan mudah dapat kita prediksi. Kita tidak belajar mengapa pada abad ke-20 bisa sampai terjadi PD I (1914-1918) dan PD II (1939-1945). Kita hanya merasa maju, padahal sebenarnya tinggal di tempat.

Bangsa Indonesia mempunyai pedoman yang diwujudkan dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita), tetapi tidak disertai tindakan nyata untuk mengawal pelaksanaan pembangunannya. Kita menganggap gerakan-gerakan keagamaan sebagai hal yang lumrah. Gerakan keagamaan di Indonesia pasca Revolusi Iran dan masuknya gerakan kontranya yang datang dari Timur Tengah kita sikapi sebagai hal yang lumrah. Di sisi lain, gerakan untuk membaca dan memahami kandungan Alquran sejak awal 1980 di kalangan remaja semakin intensif.

Sayang sekali, tanda-tanda zaman disrupsi pada era 1980-an tak terbaca oleh kalangan cendekiawan dan elite bangsa Indonesia. Kita malah disibukkan untuk mempertahankan kekuasaan daripada membangun kembali nilai-nilai budaya yang telah lama ditinggalkan. Sejak 1980 apa yang dinamakan kearifan lokal mulai ditinggalkan, dan hal-hal baru yang berkaitan dengan agama dibuka selebar-lebarnya. Setelah timbul gejolak resistensi di tengah masyarakat, hal-hal tersebut ditekan dan dihilangkan.

Kita memasuki Zaman Reformasi sejak 21 Mei 1998. Pada masa ini segala gerakan sosial praktis tanpa saringan. Kita memasuki era yang benar-benar liberal tanpa ada pembatasnya. Yang terjadi adalah adu kekuatan antar anak-bangsa yang berbeda paham, atau keyakinannya. Saat itu pula masuknya pengaruh Revolusi Industri 4.0. Kebebasan telah menyediakan ruang bagi kewenangan manusia di dunia untuk mendatangkan revolusi teknologi di segala bidang. Bagi bangsa dan negara yang tidak siap menghadapi Revolusi Industri yang ke-4 ini, mengalami kesremawutan di berbagai aspek kehidupan. Hal inilah yang memunculkan Arab Spring, gerakan politik musim semi di negara-negara Arab. Imbasnya sampai ke Indonesia.

Perebutan sumber minyak di kawasan Timur Tengah menyebabkan harga minyak mentah tak terkendali menjadi US$ 139.96/barel pada kuartal ke-2 pada tahun 2008. Sejak itu harga minyak mentah turun-naik hingga mencapai US$ 44.6/barel pada kuartal ke-4 2008. Turun naik lagi hingga mencapai US$106.19 pada kuartal-1 2011. Pada saat ini meletus pergolakan Musim Semi di Timur Tengah sehingga harga minyak pada kuartal-4 2014 menjadi US$ 36.31/barel.

Sejak 2011 itulah dunia mengalami Zaman Disrupsi di abad ke-21 ini. Pada zaman ini, meski agama tampak bangkit dan menggeliat, tetapi sebenarnya kekuatan kapitalis dan algoritma komputer melalui media sosial (fb, WA, twiter, dan instagram) lebih menentukan. Akibatnya, semua tatanan tradisional secara cepat mengalami keruntuhan. Negara yang menerapkan sistem demokrasi liberal menjadi terombang-ambing. Bagi bangsa Indonesia yang bernegara berlandaskan Pancasila kelihatan semakin jauh dari sila-sila Pancasila.

Sejak merdeka Negara Indonesia telah menyelenggarakan Pemilu pada tahun-tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, 2004, 2009, dan 2014. Sebelas kali telah diselenggarakan pemilihan umum untuk memilih wakli rakyat, dan tiga kali bangsa Indonesia telah memilih presiden dan wakil presiden secara langsung. Hasilnya tentu sangat jauh dari harapan, karena kualitas rakyat tidak meningkat seiring dengan perkembangan demokrasinya. Secara budaya berarti kita telah mundur jauh ke belakang, karena suara satu orang yang bodoh sama sekali dinilai sama dengan satu orang yang paling cerdas.

Bersambung ke Zaman Disrupsi ke-8.

Salam,
Salom,
Peace,
Rahayu….
Hongngngngng…..

*Penulis adalah dosen untuk Ilmu Tasawuf di Yayasan Paramadina serta penulis buku Centhini, Syech Siti Djenar, Sunan Kalijaga dan beberapa buku lainnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.