Zaman Disrupsi (Bagian IV)

oleh -

Oleh : Achmad Chodjim

REVOLUSI Industri mengubah Inggris menjadi negara industri maju dan modern. Revolusi Industri juga membawa akibat yang lebih luas dalam bidang ekonomi, sosial dan politik, baik di negeri Inggris sendiri maupun di negara-negara lain. Negara-negara Barat –karena tidak hanya terbatas yang di Eropa– membangun usaha industri dengan menggunakan mekanisasi modern. Produksi massal dibikin di pabrik-pabrik yang berada di pusat-pusat kota. Produk-produk yang diperlukan untuk kehidupan, semakin terbeli oleh masyarakat luas.

Sejak awal abad ke-20 negara-negara penjajah melakukan perubahan dalam menguasai kekayaan negara-negara yang dijajahnya. Kemerdekaan secara teritorial diberikan, baik setelah mendapat perlawanan, maupun yang melalui jalan damai dengan negosiasi damai dan dibuat perjanjian-perjanjian dan kesepakatan yang tetap menguntungkan negara-negara maju. Kita yang hidup di Indonesia pun dibiarkan untuk melakukan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Belanda menolak proklamasi tersebut dan kemerdekaan harus dilakukan melalui perundingan. Menurut ilmuwan sosial di bidang studi Belanda, Annemarie Toebosch dari Universitas Michigan, Amerika Serikat, Belanda mengabaikan penderitaan rakyat Indonesia pada perang revolusi atau perang kemerdekaan 1945-1949, sebab Perang Kemerdekaan 1945 – 1949 diakhiri dengan perjanjian Konferensi Meja Bundar pada 2 November 1949 yang salah satu syaratnya adalah Indonesia mengambil alih utang-utang pemerintahan Hindia Belanda dan harus membayar kepada pemerintah Belanda senilai 4,3 miliar gulden untuk kemerdekaan. Pembayaran itu berlangsung hingga 2002. Namun, setelah ada pengakuan dari Pemerintah Belanda pada 15 Agustus 2005 bahwa Belanda mengakui Indonesia merdeka pada 17-08-1945, sisa utang 300 juta gulden tidak perlu dibayarkannya.

Dengan ketidakmampuan bangsa Indonesia untuk menjadi negara maju pada abad ke-20 yang baru lalu, bangsa Indonesia dihadapkan pada berbagai keadaan ekonomi dunia yang sedang mengalami turbulensi sejak awal abad ke-21, dan pada 2008 dunia dilanda krisis keuangan. Untuk menguasai sumber bahan bakar bagi industri modern Barat memantik terjadinya Arab Spring, dan melahirkan Perang Saudara di Timur Tengah dengan ISIS sebagai senjatanya.

Dengan kenyataan tersebut apa yang harus kita lakukan untuk generasi anak dan cucu kita? Kita sekarang ini tidak cukup hanya dengan berandai-andai untuk nasib anak dan cucu kita. Yang terjadi adalah keadaan disrupsi yang sedang berada di hadapan kita semua. Yang kita ketahui sekarang ini adalah manusia yang mempunyai kemampuan fisik dan kognitif. Pada masa lalu kita bertani dengan fisik kita, dan negara-negara maju sudah menggunakan mesin otomatik. Negara-negara maju melakukan investasi di negara-negara berkembang untuk mendapatkan upah murah melalui tenaga manusia, dan produknya untuk memenuhi pasar negara-negara berkembang, serta masyara-kat kalangan bawah di negara-negara maju.

Anak-anak yang berasal dari negara-negara berkembang yang terdidik dengan baik, mengisi lapangan kerja jenis keterampilan kognitif. Tetapi, sekarang ini algoritma-AI telah semakin melampaui hasil kerja berdasarkan keterampilan kognitifnya. Hal ini disebabkan kemampuan komputer sekarang ini lebih besar dan lebih cermat daripada manusia pada umumnya. Bahkan algoritma-AI telah mampu mengalahkan emosi manusia.

Pada masa yang lalu, seseorang yang bekerja sebagai komikus, benar-benar bekerja dengan keterampilan seninya dan kemampuannya mengendalikan emosinya selama membuat gambar-gambar komik untuk setiap satuannya. Tetapi, pada zaman sekarang, semua itu tinggal disetel melalui sistem pemrograman, sehingga gambar-gambarnya menjadi lebih hidup. Pada masa yang lalu, seorang designer (perancang pakaian) atau seorang arsitek menghabiskan waktunya untuk menggambar, dan bila keadaan emosinya lagi surut, gambar itu tak terwujud. Ia harus menggambar baru lagi. Tetapi, di masa sekarang, dengan algoritma-AI, pemelajaran mesin, semua unsur pokok untuk gambar dimasukkan lebih dulu ke dalam program. Setelah itu, tinggal memainkan tetikus (mouse komputer) dan melihat hasilnya pada layar komputer.

Algoritma-AI atau yang biasa disebut AI saja secara kenyataan telah bisa melakukan apa yang dahulu harus dilakukan dengan panduan intuisi. Itulah sebabnya negara-negara maju dewasa ini mulai merancang jenis pekerjaan yang hasilnya akan meningkatkan keselamatan bagi manusia. Misalnya, mobil-mobil baru dirancang untuk bisa mengemudikan secara otomatis dan penumpang atau pengguna tinggal duduk nyaman di dalamnya. Bila sekarang pengemudi menggunakan gps, maka sebentar lagi kita tinggal memasukkan data ke mana kita akan pergi. Kita tidak memikirkan lagi jalan yang harus dilewati, dan kecepatan kendaraan pun sudah di-input secara otomatis.

Masa Gen-Mile adalah masa datangnya zaman yang serba biotek dan infotek. Anak-anak kita harus kita arahkan untuk menguasai keterampilan di bidang algoritma-AI. Bagi bangsa Indonesia keterampilan algoritma-AI ini harus diarahkan untuk menguasai pertanian, perikanan, mineral, dan energi. Hal ini untuk mencegah eksploitasi terhadap tanah sebagai hunian untuk hidup yang sehat. Eksploitasi terhadap minyak fosil atau bahan bakar batu bara, cepat atau lambat akan menghancurkan ekosistem negeri ini. (*)

Bersambung ke Zaman Disrupsi V

Salam,

Rahayu…..

*Penulis adalah dosen untuk kuliah tasawuf di Yayasan Wakaf Paramadina  serta penulis buku Centhini, Syech Sitidjenar, Sunan Kalijaga dan berbagai buku lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *