WHO Sebut Eropa Lambat Dalam Laksanakan Vaksinasi COVID

oleh -
who,eropa,vaksinasi,vaksin,covid
Wakil Presiden Komisi Eropa Valdis Dombrovskis berbicara pada konferensi pers tentang transparansi ekspor dan mekanisme otorisasi vaksin COVID-19 di Komisi Eropa, di Brussels, Belgia, Rabu (24/3/2021).

ZURICH, REDAKSI24.COM–Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Eropa lambat yang bisa mengakibatkan pandemi berlangsung semakin lama, karena virus corona berbagai varian terus menyebar.

Menurut WHO, sejauh ini baru 10 persen dari populasi di kawasan Eropa yang telah menerima suntikan satu dosis vaksin anti COVID, dan hanya empat persen yang telah divaksin secara lengkap.

“Peluncuran vaksin benar-benar lambat,” kata Kepala WHO Eropa, Hans Kluge, Kamis (1/4/2021).

“… Kita harus mempercepat proses ini dengan meningkatkan produksi, mengurangi hambatan dalam pemberian vaksinasi, dan menggunakan setiap botol yang kita miliki, sekarang juga,” imbuh Hans Kluge.

Dia menyatakan, Eropa tertinggal di belakang Inggris dan Amerika Serikat (AS) soal pemesanan vaksin tahun lalu dari berbagai perusahaan, juga lebih lambat dalam mengeluarkan izin.

Bahkan setelah disetujui oleh kelompok negara di kawasan tersebut, tingkat vaksinasi di Eropa sebagian besar tertinggal dari Inggris dan AS.

Kata Kluge, infeksi baru di Eropa meningkat pada setiap kelompok usia, kecuali kalangan orang yang berusia di atas 80 tahun.

Perkembangan itu, dalih dia, menjadi tanda bahwa vaksinasi COVID yang diberikan pada kelompok penduduk usia lebih tua telah membuahkan hasil.

Namun sementara itu, gerakan vaksinasi yang tersendat-sendat membuat kalangan orang lebih muda rentan.

“Sementara varian-varian yang dikhawatirkan terus menyebar dan rumah-rumah sakit semakin kewalahan, hari raya keagamaan memunculkan kemungkinan peningkatan mobilitas. Dan mempercepat gerakan vaksinasi sangat penting ,” ucapnya.

Dia melanjutkan, pelaksanaan vaksinasi yang tersendat merupakan akibat dari pasokan yang terbatas, perselisihan tentang ekspor dan penundaan oleh beberapa produsen vaksin, serta kekhawatiran soal keamanan vaksin AstraZeneca/Oxford usai kemunculan kasus-kasus pembekuan darah.

Beberapa negara masih belum menyuntikkan vaksin buatan perusahaan gabungan Inggris-Swedia itu.

Sejumlah negara lainnya, termasuk Jerman, melarang penggunaan vaksin tersebut pada orang-orang yang berusia di atas 60 tahun.

Badan-badan pengawas obat-obatan maupun WHO telah menyatakan bahwa manfaat vaksin AstraZeneca itu lebih besar daripada risikonya ,mereka juga terus mempelajari kasus-kasus pembekuan darah. (ejp)

Sumber: Antara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.