WHO: 1 dari 3 Perempuan Alami Kekerasan Seksual Terbanyak di Negara Miskin

oleh -
who.kekerasan perempuan,kekerasan seksual,ketimpangan ekonomi,negara miskin
WHO/Istimewa.

JENEWA, REDAKSI24.COM–Badan kesehatan dunia World Health Organization (WHO) mengumumkan data kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia,  pada Selasa (9/3/2021).

WHO mencatat 1 dari 3 perempuan di dunia mengalami kekerasan fisik atau seksual sepanjang hidupnya, dan korban terbanyak berada di negara miskin.

Badan PBB itu menyebut tindakan kriminal terhadap perempuan menjamur selama pandemi, ketimpangan ekonomi terkadang membuat kaum perempuan terjebak dalam hubungan yang kasar.

WHO mendesak pemerintah agar mencegah kekerasan, mengatasi ketimpangan ekonomi, dan meningkatkan layanan bagi kaum perempuan.

“Kekerasan terhadap kaum perempuan menjadi epidemi di semua negara dan budaya, merugikan jutaan perempuan beserta keluarga mereka, dan telah diperparah oleh pandemi COVID-19,” kata Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada Selasa (9/3/2021).

Menurut WHO, terdapat sekitar 852 juta perempuan mengalami kekerasan fisik atau seksual yang dilakukan suami atau pasangan intim, sekitar 31 persen perempuan berusia 15-45 tahun, data tersebut tercatat pada kurun 2000-2018.

Pejabat WHO mengatakan pelaku kekerasan paling umum dan jumlah korban terbanyak berada di negara miskin. Jumlah korban sesungguhnya kemungkinan jauh lebih tinggi sebab banyak pelecehan seksual yang tidak dilaporkan.

WHO menekankan, anak laki-laki seharusnya di sekolah diajarkan tentang perlunya saling menghormati dalam hubungan dan saling memahami dalam hubungan seksual.

“Angka ini sangat mengejutkan dan sebenarnya menjadi semacam seruan bagi pemerintah untuk bertindak lebih banyak guna mencegah kekerasan ini,” kata penulis laporan Claudia Garcia-Moreno.

Data WHO, negara-negara dengan prevalensi tertinggi di antaranya Kiribati, Fiji, Papua Nugini, Bangladesh, Republik Demokratik Kongo dan Afghansitan.

Kekerasan berawal pada usia yang sangat belia, satu dari empat perempuan dewasa berusia 15-19 tahun yang menjalin hubungan, menjadi korban kekerasan fisik maupun seksual.

“Ini adalah waktu yang sangat penting dan formatif dalam hidup. Dan kita paham bahwa dampak dari kekerasan ini dapat berlangsung lama dan dapat mempengaruhi kesehatan mental dan menyebabkan kehamilan yang tak dikendaki serta masalah lainnya,” ujar Garcia-Moreno. (Asri Mayang Sari/Ant/ejp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.