Warisan Amarzan Loebis Bagi Dunia Jurnalistik Indonesia

oleh -
Amarzan Loebis
Amarzan Loebis (Alm) wartawan senior Tempo

Oleh : Alfin Pulungan*

KEPERGIAN wartawan senior Tempo, Amarzan Loebis pada Senin, 2 September 2019 lalu, telah menimbulkan awan kelabu bagi insan pers khususnya di lingkaran jurnalisme investigasi Tempo. Sebulan setelah ia menghadap sang Khalik, Tempo menggelar acara bertajuk “Mengenang Amarzan Loebis: “Amarzan dan Sejarah 1965 yang Berkabut” di gedung Tempo, Palmerah, Jakarta Barat, Selasa (01/10/2019).

Bagi para wartawan di Tempo, sosok Amarzan yang dikenal humoris itu tak cuma sahabat, tapi juga guru yang rajin memberi kajian jurnalistik di setiap jadwal yang dikenal dengan “Kelas Selasa”, sebuah kelas yang berisi evaluasi terhadap produk-produk jurnalistik Tempo. Kini materi kelas yang sudah berjalan lebih dari 10 tahun itu sudah dibukukan dengan judul “#KelaSelasa”.

“Kehilangan Amarzan bagi keluarga besar Tempo adalah kehilangan yang sangat besar karena kami kehilangan teman untuk mendapatkan ide dan mendapatkan sudut lain terhadap kerja-kerja di majalah Tempo,Koran Tempo, maupun Tempo.co dan semua produk Tempo”, ujar Bagja Hidayat, wartawan yang menjadi Redaktur Pelaksana berita investigasi majalah Tempo.

DIBUANG KE PULAU BURU 

Amarzan Ismail Hamid Lubis lahir di Medan, Sumatera Utara pada 26 Oktober 1941. Ia sudah mengenal dunia kepenulisan sejak usianya masih di bangku SMA. Di usia muda itu pula ia merantau ke Jakarta dan menjadi wartawan Harian Rakjat Minggu.

Tak hanya itu, ia juga menaruh minat besar di dunia sastra terutama genre puisi. Karya-karya puisinya banyak mengisi rubrik kebudayaan di Koran Harian Rakyat Minggu. Oleh karenanya, ia tak hanya dikenal sebagai wartawan, tapi juga seorang penyair.

Talenta yang besar disertai idenya yang cemerlang mengantarkannya untuk bergabung di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), sebuah organisasi seniman dan budayawan berhaluan kiri yang didirikan pada tanggal 17 Agustus 1950. Di Lekra ia aktif dalam sejumlah kegiatan dan banyak bergaul dengan para seniman.

Namun nahas, nasibnya celaka pasca peristiwa G30S, organisasi kebudayaan yang mengusung semangat sosialisme itu dirampas tentara Orde Baru, kantor berita Harian Rakjat tempatnya bekerja di bredel. Nama Amarzan pun berada dalam daftar yang menjadi incaran tentara Orde Baru. Operasi itu diintrodusir karena keterkaitan Lekra dengan PKI.

Setelah peristiwa yang merenggut hak asasi manusia itu, tepat pada tahun 1968, Amarzan ditangkap. Awalnya ia dipenjara di Rutan Salemba, 2 tahun setelahnya dipindahkan ke Nusakambangan lalu berbuntut pembuangannya ke Pulau Buru bersama 12 ribu tahanan politik (Tapol) lain, termasuk Pramoedya Ananta Toer.

Tempo

WARISANNYA UNTUK JURNALISTIK

Kemahirannya di bidang sastra rupanya membuat Amarzan mampu mengeksplorasi bahasa jurnalistik. Ditangannya, bahasa jurnalistik yang normatif –bahkan tak jarang kaku– dapat berubah menjadi bahasa yang elok bagaikan alur bahasa sastra. Bagi tim wartawan Tempo sendiri, Amarzan telah menghadirkan bahasa jurnalistik yang unik, asyik dan tentunya menarik untuk dibaca.

Hal itu diungkapkan oleh Bagja Hidayat, bahwa Amarzan mampu memberi alternatif bahasa junalistik dengan bahasa yang indah sekaligus hidup. Menurut Bagja, Amarzan biasa menekankan hal itu dalam kelas evaluasi Tempo yang rutin dilaksanakan setiap hari Selasa.

“Di kelas Selasa, kelas evaluasi majalah Tempo tiap Selasa, ia senantiasa mengingatkan para wartawan agar mengasah keterampilan berbahasa. Sebab, jurnalistik kini bersaing dengan media hiburan, gossip, hoaks juga televisi. Tanpa kemahiran berbahasa, artikel jurnalistik tak akan dibaca orang jika wartawan menuliskannya dengan kering dan tak menghibur”, tulis Bagja Hidayat dalam majalah Tempo edisi 14 September.

Bagaimana mengahasilkan bahasa jurnalistik yang menarik? Bagja menuturkan dari Amarzan bahwa pertama-tama artikel media itu harus menghibur. “Hal ini yang menjadikan Tempo memiliki slogan enak dibaca dan perlu, setiap artikel ‘enak dibaca’ dulu sebelum pembaca merasa ‘perlu’ terhadap informasinya” Kata Bagja.

Setiap pembaca memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda-beda, oleh karenanya menurut Amarzan wartawan harus mampu menulis dengan narasi yang sifatnya “memberi tahu yang belum tahu, dan tak menggurui bagi yang sudah tahu”. Dengan begitu, artikel akan tetap dibaca oleh semua kalangan karena informasinya berguna seraya tetap menghibur pembacanya.

Untuk dapat menerapkan tulisan yang menghibur, teori jurnalistik menyediakan reportase yang namanya feature. Amarzan menyebut feature adalah artikel jurnalistik yang disajikan dalam bentuk cerita pendek dengan memanfatkan perangkat 5W+1H. Unsur-unsur dalam tulisan feature adalah: tokoh, adegan, kutipan, perspektif, humor, dan analisis atas fakta.

Latar belakang Amarzan sebagai penyair telah menghadirkan gaya bahasa jurnalistik yang lentur. Tak heran bila legenda sastra Indonesia, Goenawan Mohamad memujinya sebagai seorang penyair yang tak pernah vakum menggunakan bahasa, “Sajak-sajaknya (Amarzan) selalu membawa bunyi yang bening, tak pernah storing, tak pernah disonan, tak ada kalimat yang gagap”, Tulis Goenawan Mohamad dalam artikelnya di majalah Tempo.

Di tangan Amarzan bahasa jurnalistik berbeda dari bahasa jurnalistik pada umumnya, ia mampu memberi bahasa yang segar, menghidupkan kembali diksi Melayu lama yang mati karena tak lagi dipakai oleh penutur bahasa.

Sebagai contoh Amarzan pernah menulis opini pada Majalah Tempo edisi 9 Desember 2012, ia menuliskan perilaku Bupati Garut, Aceng Fikri dalam hal kesusilaan dengan judul “Kibang-Kibut Aceng Garut”. “Kibang kibut” adalah kosakata yang terdaftar dalam KBBI sebagai padanan dari “Kacau balau”, tapi jarang dipakai dalam percakapan orang Indonesia sehari-hari.

Selain masalah bahasa, Amarzan juga menekankan hal mendasar jurnalisme tentang curious (rasa ingin tahu) dan skeptic (meragukan informasi). Menurut Amarzan, seorang wartawan hendaknya selalu ragu akan informasi yang ia terima, senantiasa penasaran terhadap kabar yang beredar, bahkan curiga atas informasi yang resmi.

“Tanpa itu semua, wartawan akan terjebak pada permainan informasi, menyampaikan ‘informasi ludah’, bahkan termakan menyiarkan kabar bohong. Dengan penasaran dan ragu, wartawan terdorong terus memverifikasi sebuah fakta dengan bertanya kepada banyak narasumber, ke banyak data”, kata Amarzan sebagaimana yang dituturkan Bagja Hidayat.

Hal lain yang tak kalah penting kata Amarzan, bahwa seorang wartawan dituntut pula luas pengetahuannya karena jurnalistik mengabadikan sejarah hari ini, “Wartawan harus tahu segala sesuatu dan segala tahu tentang sesuatu,” Tuturnya.

*Penulis  adalah wartawan Redaksi24.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.