Warga Tangerang Ancam Blokir Permanen Tol Bitung

oleh -
Warga Tangerang Ancam Blokir Permanen Tol Bitung
Mereka, menuntut PT Jasa Marga bertanggungjawab lantaran pemukimannya kerap terendam banjir setinggi 2 meter akibat proyek pembangunan penambahan ruas jalan Tol Bitung.

KABUPATEN TANGERANG, REDAKSI24.COM – Ratusan warga Desa Kadu, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, Banten, melakukan aksi demo dengan menutup akses jalan Tol Bitung, Rabu(16/11/2022) sore. Mereka mengancam akan menutup secara permanen akses Tol Tangerang-Merak tersebut.

Mereka, menuntut PT Jasa Marga bertanggungjawab lantaran pemukimannya kerap terendam banjir setinggi 2 meter akibat proyek pembangunan penambahan ruas jalan Tol Bitung.

Kordinator unjuk rasa warga Desa Kadu, Kecamatan Curug, Mujan Arifin mengatakan, sebanyak 200 rumah warga terdampak banjir dari luapan air hujan, akibat pembangunan Tol Bitung yang dinilai tidak memperhatikan sistem saluran drainase.

“Jadi air tidak dapat langsung mengalir ke sungai. Padahal Jasa Marga pada 2020, pernah berjanji membuat gorong-gorong, agar ketika hujan tidak akan ada banjir lagi,” kata Mujan kepada wartawan.

BACA JUGA: Ribuan Buruh di Kabupaten Tangerang Belum Terima Subsidi Upah

Dikatakan Mujan, dengan adanya banjir tersebut, 500 KK di Desa Kadu, Kecamatan Curug terendam banjir, dan barang-barang elektronik serta kendaraan bermotor milik warga banyak yang rusak. Maka itu, lanjutnya, warga menuntut ganti rugi kepada Jasa Marga.

“Jasa Marga dan Astra Tol harus memikirkan kondisi warga. Jangan hanya memberikan makanan matang, ini banjir karena tol, dan banyak barang yang rusak akibat banjir,” ucapnya.

“Masyarakat itu membutuhkan kesehatan, anak-anak butuh popok. Selama ini yang turun dari pemerintah daerah saja, sementara Jasa Marga dan Astra Tol diam saja,” kecamnya.

Mujan menegaskan, bila tuntutan warga tidak dipenuhi, warga Desa akan kembali melakukan aksi unjuk rasa dengan jumlah yang lebih besar. Warga mengancam akan memblokir jalan Tol Bitung secara permanen.

“Saat ini kami blokir sementara, sebagai bentuk protes. Bila nanti tuntutan tidak dipenuhi, akan kami blokir selamanya,” ancamnya.

Salah satu warga Desa Kadu, Ramlah mempertanyakan peran anggota DPRD Kabupaten Tangerang, khususnya Dapil Curug. Menurutnya, sebagai wakil rakyat seharusnya peka terhadap kondisi yang dialami warga saat ini.

“Jangan hanya tampil ketika membutuhkan suara saja, tapi ketika warga membutuhkan, tidak pernah ada. Sekarang kami membutuhkan kalian, justru kalian tidak ada,” tuturnya.

BACA JUGA: Tidak Mungkin Selesai Dalam Setahun, Sekda: Optimis Atasi Persoalan Banjir

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Kadu, Kecamatan Cikupa, Asdiansyah mengungkapkan, awalnya sebelum ada pembangunan gerbang tol baru, saluran air atau drainase cukup besar.

Namun setelah dibangun akses gerbang tol yang baru, saluran drainase di Tol Bitung menjadi menyusut, dengan diameter lebar hanya 1 meter.

Ia menyatakan,  tidak hanya rumah-rumah warga yang terendam banjir, tetapi akses jalan utama juga ikut terendam banjir, sehingga warga kesulitan untuk beraktivitas.

“Sebelum ada gerbang tol baru, drainasenya besar, sekarang setelah dibangun akses tol baru, jadi kecil. Itulah salah satu penyebab banjir,” ungkapnya.

Menanggapi itu, Kepala Departemen Layanan Pemeliharaan PT Jasa Marga, Danang Eko Saputra menuturkan, banjir yang melanda Desa Kadu, Kecamatan Curug bukan sepenuhnya kesalahan pengelola tol.

Justru dia menuding Pemerintah Daerah yang tidak berperan aktif dalam merawat saluran air.

“Jadi kami perlu ada diskusi dengan Pemda setempat, karena banjir yang terjadi di Bitung bukan kesalahan Jasa Marga secara utuh,” katanya.

BACA JUGA: Tuntut Kenaikan UMK 2023, Buruh Minta Bupati Tangerang Cuekin Menaker

Danang mengaku pihaknya merasa kesulitan untuk membuang air ke sungai atau area yang merupakan hilir terdekat. Sejauh ini, katanya, pihak Jasa Marga sudah berupaya mengurangi banjir, dengan memompa air ke saluran pembuangan.

“Masyarakat juga harus mempertanyakan apakah Pemda telah menyiapkan pembuangan air, itu dikemanakan, sebesar apa salurannya,” tegasnya.

Namun, saat disinggung terkait tuntutan warga yang meminta dibuatkan gorong-gorong baru yang lebih besar, ia mengaku membutuhkan waktu untuk memenuhi tuntutan tersebut.

Sebab, kata Danang, proses pembuatannya terbilang cukup rumit. Seperti tahap proses penggalian jalan untuk memasang pipa baru  dan sebagainya.

“Tuntutan jangka pendek, seperti bantuan logistik dan sejenisnya, telah kami siapkan,” tandasnya.(Deri/Difa)

Tinggalkan Balasan