Warga Eks Irigasi Rawa Burung Tuntut Keadilan

  • Whatsapp
-Warga eks Irigasi Rawa Burung, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang menuntut keadilan kepada PT Angkasa Pura (AP) II

Laporan Reporter: M Iqbal

BANDARA SOETTA, REDAKSI24,COM-Warga eks Irigasi Rawa Burung, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang menuntut keadilan kepada PT Angkasa Pura (AP) II sebagai otoritas pengelola Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (26/2/2020).

Bacaan Lainnya

Aksi warga tersebut meminta ganti rugi bangunan rumah yang mereka dirikan di atas lahan negara yang sudah ditinggali puluhan tahun lamanya, lantaran terkena dampak pembangunan Runway 3 atau landasan pacu.

Diketahui untuk pembangunan Runway 3 pemerintah melakukan pembebasan lahan dibeberapa wilayah yang ada di Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang.

Sejak proyek nasional ini dilaksanakan pada tahun lalu, warga eks Irigasi Rawa Burung mulai risau akan nasib mereka kedepannya. Berbagai upaya telah mereka lakukan untuk mendapatkan uang ganti kerugian atas bangunan yang mereka bangun.

BACA JUGA:

Akses Jalan Ditutup, Ratusan Warga Benda Demo Pengembang Tol Kunciran-Bandara Soetta

Rencana Penutupan Jalan Gelora di Benda Kota Tangerang Diadukan Ke Dewan

Kemudian, puluhan warga terdampak itu pun turun ke Jalan Perimeter Utara, sembari membawa spanduk bertuliskan tuntutan agar konvensasi kerugian bangunan rumah segera ada kepastian pembayarannya.
Suara keadilan mereka sempat menutup akses masuk bandara melalui Jalan Perimeter Utara.

“Tolong kami pak. Kami tidak tau harus bagaimana lagi, kami mau tinggal dimana nanti,” kata Almah (57), salah satu peserta aksi.

Nampak juga beberapa warga lainnya melantunkan sholawat dengan membentangkan bendera kuning.
Untuk menjaga aksi ini agar tetap kondusif di objek vital, puluhan petugas kepolisian dan juga TNI disiagakan.

Warga rawa burung demo AP II

Upaya Hukum Gagal

Upaya hukum pun dilakukan, meski kemudian patah lantaran dalam putusannya Pengadilan Negeri Tangerang menolak gugatan mereka atas ganti rugi bangunan yang mereka bangun di lahan negara tersebut.

Hermanto (50) warga lainnya mengatakan, saat ini masyarakat Ex Irigasi hanya berharap pengelola bandara dalam hal ini PT AP II dapat memberikan konvensasi atas bangunan yang mereka bangun dengan susah payah.

“Kami tau kami kalah di pengadilan. Tapi kami harap PT AP II mau mengganti bangunan yang kami bangun dengan uang kami sendiri,” ungkap dia di lokasi.

Katanya, jika tuntutan warga tidak dikabulkan oleh pihak bandara, warga akan tetap bertahan melakukan aksi dan menutup Jalan Perimeter Utara. “Ya kami bertahan. Kami tidak punya pilihan lain, kami hanya minta pengertian dari mereka,” tukasnya.

Lilis (40) juga warga terdampak, merasa prihatin atas perlakuan PT AP II terhadap pengelola bandara. Pasalnya sejak proyek tersebut berjalan banyak warga yang sengsara. “Banyak warga eks Irigasi yang sekarang tidak punya rumah tinggal. Bahkan mereka ada yang tinggal di kebon timun, mengontrak tapi tidak bisa bayar,” ujarnya.

Menurut dia, jika nantinya pihak PT AP II tidak merespon atau menanggapi permintaan warga, pihaknya akan tetap melakukan aksi hingga didengar.

“Kami kompak sampai ada hasil akan kami lakukan untuk mendapatkan hak kami. Kalau sampai PT AP II tutup mata kami akan tetap berjuang sampai kapanpun. Kalau perlu kami akan bertemu pak presiden,” ujarnya.

Lilis menyayangkan, dari aksi turun ke jalan masyarakat Desa Rawa Burung kali ini terdapat kekecewaan. Pasalnya masyarakat tidak menemui titik terang kepastian pembayaran konvensasi.

“Hari ini kami kembali tidak menemui kepastian. Meskipun tadi pihak AP II datang belum kasih kepastian,” pungkasnya.

Sementara, saat Redaksi24.com mengkonfirmasi kepada pihak Humas AP II melalui pesan seluler. Hingga berita ini diturunkan belum mendapatkan tanggapan. (*)

Editor Endang JP.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.