Warga Dua Desa di Pandeglang Gelar Ruatan Sungai Cilemer

  • Whatsapp
ruatan sungai
Warga dua desa di Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, Banten, menggelar tradisi ruatan Sungai Cilemer.

PANDEGLANG, REDAKSI24.COM – Ratusan warga dari dua desa yakni Desa Idaman dan Ciawi, Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, Banten, melakukan tradisi ruatan Sungai Cilemer, Minggu (1/12/2019).

Acara ruatan tersebut merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang jaman dulu, dengan tujuan untuk meminta keselamatan kepada Allah SWT dari segala mara bahaya, khususnya dari buaya sungai tersebut.

Bacaan Lainnya

Dalam acara itu, warga yang dipandu oleh sesepuh memanjatkan doa untuk keselamatan kepada Allah SWT dan membaca Kitab Syeh, kemudian melakukan tabur bunga ke Sungai Cilemer, setelah itu melaksanakan makan bersama di lokasi.

Adat istiadat itu diyakini warga agar terhidar dari segala marabahaya. Karena konon di sungai itu terdapat buaya siluman, agar buaya itu tidak mencelakakan warga, maka acara ruatan yang sudah dilakukan sejak puluhan tahun silam itu hingga saat ini terus dilestarikan dan dilaksanakan setiap Bulan Maulid.

BACA JUGA:

. Polair Polres Pandeglang Ungkap Pengguna Bom Ikan di Perairan Panimbang

. Dodol Makanan Tradisional Untuk Kaum Milenial

. Milad ke 68 TTKKDH Berlangsung Meriah, Tradisi Keceran Cuma Ada di Bulan Mulud

Kepala Desa Idaman, Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, Ilman menuturkan, acara ruatan Sungai Cilemer tersebut sudah menjadi kebiasaan warga sejak puluhan tahun silam. Kegiatan itu merupakan tradisi turunan dari nenek moyang jaman dulu. Tujuannya kata dia, tidak lain yaitu meminta keselamatan kepada Allah SWT.

“Tradisi ini dilakukan dalam setiap tahun sekali, tepatnya di Bulan Maulid. Warga membaca doa bersama untuk meminta keselamatan kepada sang pencipta (Allah SWT),” ungkap Ilman.

Menurut cerita lanjut Ilman, di bantaran sungai Cilemer tersebut terdapat buaya, bisa disebut buaya siluman. Agar buaya tersebut tidak mencelakakan warga, maka para nenek moyang jaman dulu melakukan ruatan dan berdoa kepada Allah SWT, agar dijaga keselamatan dari ancaman buaya tersebut.

“Nah tradisi itu hingga saat ini masih dilestarikan oleh warga, karena menurut cerita hal itu amanat dari nenek moyang,” katanya.

Dikatakannya, dalam acara itu warga bersama-sama membaca doa, laku membakar kemenyan dan tabur bunga. Setelah itu, dilanjut acara makan bersama. “Intinya tidak lain, warga hanya ingin terhidar dari segala marabahaya selalu dijaga keselamatannya oleh Allah SWT,” ujarnya. (Samsul Fathoni/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.