Wah, Takut Divaksin, Puluhan Warga Alor NTT Kabur ke Hutan

  • Whatsapp
vaksin, covid-19, kabur, hutan, Alor, NTT, sinovac,
Seorang dokter sedang mengambil cairan vaksin untuk disuntikan kepada tenaga kesehatan di RSUD SK Lerik Kota Kupang, NTT, Jumat,(15/01/2021). Sebanyak 2000 tenaga kesehatan di Kota Kupang akan disuntik vaksin COVID-19 tahap pertama. ANTARA FOTO/Kornelis Kaha.

KUPANG, REDAKSI24.COM – Puluhan warga di Dusun II Batu Putih, Desa Alila, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), ramai-ramai kabur ke hutan. Mereka kabur lantaran takut divaksin sinovac oleh petugas kesehatan di daerah tersebut.

Kapolres Alor AKBP Agustinus Christmas dihubungi dari Kupang, Jumat (19/2/2021) mengakui, warga satu dusun yang belum diketahui pasti berapa jumlahnya itu, memilih kabur karena takut divaksinasi.

Bacaan Lainnya

Menurut Agustinus, peristiwa yang terjadi Kamis (18/2) siang itu akibat kurang sosialisasi terkait manfaat dari vaksin bagi upaya pencegahan Covid-19.

“Mereka kabur karena panik dan takut setelah membaca informasi hoaks seputar vaksin COVID-19 yang beredar di media sosial,” katanya.

BACA JUGA: Presiden Keluarkan Aturan Denda dan Pidana Bagi Penolak Vaksinasi

Agustinus mengatakan, informasi kaburnya warga satu dusun itu ke hutan setelah pihaknya mendapatkan laporan dari Bhabinkamtibmas Aipda Dominggus Bole Dede. Anak buahnya itu melaporkan peristiwa tersbeut kepada dirinya saat berkunjung ke dusun itu.

Aipda Dominggus yang wilayah kerjanya sampai di dusun itu seketika langsung berangkat ke hutan untuk mencari puluhan warga tersebut.

“Mereka pun langsung diberikan pemahaman oleh Bhabinkamtibmas yang kebetulan pada saat itu ditemani Kepala Desa Alila dan tokoh masyarakat setempat,” ujarnya.

Mereka mencoba memberikan pemahaman kepada warga yang sebagian ditemui di hutan itu untuk tidak percaya dengan pemberitaan bohong yang disebar di media sosial.

Hasilnya beberapa warga di dusun itu akhirnya kembali ke rumahnya di dusun tersebut, tetapi sebagian lagi tetap bertahan di hutan dan di pegunungan karena masih menunggu musim panen jagung.

“Kami berharap warga menyaring lagi informasi yang masuk, jangan ditangkap begitu saja tanpa disaring, karena banyak berita hoaks yang menyebar di media sosial,” katanya.

Untuk mengedukasi warga di daerah pedalaman, ia mengharapkan bantuan dari para kepala desa tokoh masyarakat, petugas kesehatan dinas kesehatan serta Bhabinkamtibmas di daerah itu.(ANT/DIFA)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.