Wah, Dana Penanggulangan Covid-19 di Banten Tersisa Rp3 Miliar

  • Whatsapp
anggarna kesehatan
Dinkes Provinsi Banten menggelar Rakor penanganan Covid-19, Rabu (18/3/2020).

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten saat ini memiliki anggaran sekitar Rp18 miliar untuk menangani masa KLB Covid-19 di Provinsi Banten. Anggaran itu berasal dari Biaya Tak Terduga (BTT) sebesar Rp10 miliar dan Corporate Sosial Responsibility (CSR) sebesar Rp8 miliar.

Kepala Dinkes Provinsi Banten Ati Pramudji Astuti mengatakan, akan mengalokasikan anggaran yang berasal dari BTT itu untuk pengadaan prasarana ruang isolasi Rumah Sakit (RS) rujukan, pengadaan SDM operasional ruang isolasi RS rujukan dan penyediaan epidemiologi (contact tracing).

Bacaan Lainnya

Sementara dana dari CSR yang akan dialokasikan untuk pengadaan prasarana ruang isolasi RS rujukan dan pengadaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi tim medis yang menangani Cobvid 19.

“Anggaran ini masih sangat kecil, mengingat kebutuhan yang dialokasikan sangat banyak,” ujar Ati usai Rapat Kordinasi Rakor bersama Komisi V DPRD Banten, Rabu (18/3/2020).

Pemprov Banten mengalokasikan BTT dalam APBD 2020 sebesar Rp45 miliar. Dana itu kini hanya tersedia Rp13 miliar, karena sudah dipakai pada saat penanganan banjir bandang di Kabupaten Lebak awal tahun lalu.

Setelah diambil untuk penanganan KLB Covid-19 ini, dana yang tersedia hanya menyisakan sekitar Rp3 miliar. Dinkes sebagai leading sektor penanganan covid-19, mengaku sangat kurang dengan anggaran yang tersedia. Hal itu mengingat seluruh kebutuhan untuk penanganan ini harganya melonjak tinggi serta sudah langka di pasaran.

“Seperti baju astronot, yang harganya cukup mahal dan hanya bisa sekali pakai, setelah itu langsung dibakar. Artinya, kami membutuhkan barang ini dalam jumlah yang banyak. Katakanlah harga satuannya Rp400 ribu, jika dikalikan 100 saja, sudah berapa anggaran yang harus kami sediakan hanya untuk satu barang,” jelasnya.

Ati menambahkan, untuk kebutuhan alat saja, berdasarkan rincian sekitar Rp10 miliar dan kebutuhan SDM sebesar Rp800 juta. Belum lagi untuk penyediaan ruang isolasi yang tentunya memakan biaya yang lebih besar.

“Sementara ini ruang isolasi yang kami gunakan masih sangat terbatas. Di dua RS rujukan rekomendasi Kemenkes, hanya ada delapan ruang isolasi,” ujarnya.

Untuk itu, pihaknya sedang mengajukan tambahan RS rujukan Covid-19 seperti RS Balaraja dengan total delapan ruang isolasi, RS Banten delapan ruang isolasi dan RS Cilegon satu ruang isolasi. Sehingga total menjadi 27 ruang isolasi.

“Berdasarkan prediksi dari pusat, masa KLB ini kurang lebih akan memakan waktu tiga bulan, artinya akan sampai akhir bulan Mei. Sedangkan untuk lonjakan pasien, diprediksi akan terjadi antara akhir bulan April sampai awal Mei, pada saat Ramadhan,” ujar Ati

Ati menambahkan, meskipun semua tidak menginginkan terjadinya lonjakan itu, namun sebagai langkah antisipasi, gubernur mengusulkan RSUD Banten, seluruh ruangannya akan dijadikan tempat khusus penanganan pasien Covid-19. Sementara pasien umum akan dipindahkan ke RS terdekat.

“Kami sudah melakukan koordinasi dengan stakholder terkait, dan mereka mendukung itu,” katanya.

BACA JUGA:

. Gubernur Banten Tetapkan Corona sebagai Kejadian Luar Biasa

. Pernyataan Gubernur Banten Soal Pasien Corona Meninggal, Resahkan Warga Tangsel

. Gubernur Banten dan Kepala Daerah Se-Tangerang Raya Tetapkan KLB Wabah Corona

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris DPKAD Provinsi Banten, Dwi Sahara mengatakan, pihaknya sudah mencairkan permohonan bantuan dana yang bersumber dari BTT kepada Dinkes. Adapun jika masih mengalami kekurangan, pihaknya siap membantu mencarikan solusi anggaran yang bisa digunakan.

“Secara finansial intinya kami sudah siap membatu apa saja yang dibutuhkan dalam masa penanganan KLB Covid-19 ini. Namun tentu dengan aturan dan mekanisme yang berlaku,” jelasnya.

Adapun untuk dana BTT yang terpakai sekitar Rp42 miliar, dengan rincian Rp10 miliar untuk penanganan KLB Covid-19 yang sudah dicairkan, Rp29,4 miliar untuk pembangunan dua jembatan provinsi yang hanyut terbawa banjir bandang di Lebak, sedangkan sisanya untuk penanganan darurat bencana di Lebak. Sehingga yang tersisa sekitar Rp3 miliar.

“Jikapun nanti masa KLB ini diperpanjang, kami akan melakukan skema penggeseran anggaran,” tutupnya.

Sementara itu, berdasarkan data yang diterima, jumlah jumlah pasien yang positif Corona mencapai 10 orang, dan yang meninggal dua orang.(Luthfi/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 Komentar