Wah, 40 Persen Santri di Banten Berasal dari Zona Merah Covid-19

  • Whatsapp
santri banten
Kemenag dan Pemprov Banten masih mengkaji pembukaan Ponpes pada masa Covid-19.

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Pemprov Banten hingga kini masih mengkaji rencana kembali beroperasinya Pondok Pesantren (Ponpes) pada masa Pandemi Covid-19. Banyak pertimbangan yang menjadi kajian, salah satunya penerapan protokol kesehatan di seluruh Ponpes di Provinsi Banten.

“Berdasarkan hasil kajian kami, dari total 4.000 Ponpes yang ada, hanya sekitar 500 yang sudah dianggap memenuhi protokol kesehatan, dilihat dari ketersediaan bangunan tempat karantina,” kata Gubernur Banten Wahidin Halim (WH), Senin (15/6/2020).

Bacaan Lainnya

Kondisi ini, lanjut WH, menjadi pertimbangan yang harus diperhatikan secara serius, mengingat dari ribuan santri yang ada, 40 persennya berasal dari daerah zona merah covid-19. Jangan sampai Ponpes kemudian menjadi klaster baru penyebaran Covid-19.

“Ini jangan sampai terjadi. Makanya kami akan sediakan 20.000 alat rapid test untuk santri yang akan masuk. Sehingga ketika peraturan pembukaan kembali Ponpes disahkan Kementrian Agama, kami sudah siap,” ujarnya.

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementrian Agama (Kemenag) Provinsi Banten, Ahmad Bazari Syam mengatakan, kesiapan penerapan protokol kesehatan sebenarnya ada pada Ponpes yang bersangkutan. Tapi, protokol kesehatan harus dijaga. Masalahnya yang berwenang dalam menangani protokol kesehatan ini Pemda, dalam hal ini Dinkes.

“Jika protokol itu sudah bisa dijalankan sesuai aturan, ya itu sudah sesuai dengan haknya untuk kembali beroperasi,” katanya.

Bazari menambahkan, titik tekan dari permasalahan ini pemerintah harus hadir dalam persoalan yang menyangkut keumatan, apalagi pimpinan pesantren. Tapi pesantren juga tidak boleh memaksakan beroperasi harus sesuai aturan. Apalagi nanti ada persoalan, dan lempar tanggung jawab.

“Misalnya dilakukan rapid test terlebih dahulu sebelum masuk. Ponpes juga sudah siap melaksanakan physical distancing dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), tempat tidur dan pola makan para santri. Pola belajar diubah maksimal 50 persen di kelas, tempat tidur juga diubah mengikuti protokol kesehatan,” katanya.

Untuk itu, lanjutnya, pihaknya bersama gubernur belum bisa mengeluarkan surat pembukaan kembali Ponpes, karena ada persoalan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. “Kemenag sudah memberikan bantuan yang sederhana kepada beberapa Ponpes, itu upaya kami agar protokol kesehatan tetap dijalankan Ponpes,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Yayasan Pendidikan Al-Fatah, Cilograng, Kabupaten Lebak, Iip Makmur menyambut baik kebijakan pemerintah yang akan menerapkan protokol kesehatan dalam aktivitas di Ponpes.

Ada sekitar 300 santri yang belajar di Ponpes Al-Falah dari jenjang SMP dan SMK, serta Mts dan MA. Dari total itu, sekitar 10 persennya berasal dari daerah zona merah covid-19, seperti Sukabumi. Sedangkan sisanya berasal dari Pandeglang, Lebak dan lainnya di Banten.

“Secara teknis, kami sudah siap untuk menjalani protokol kesehatan. Namun juga harus hati-hati, karena menyangkut kesehatan para santri,” jelasnya. (Luthfi/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.