program vaksinasi nasional, program vaksinasi untuk mencapai herd immunity

Vaksinasi Harus Gaspol Gak Pakai Rem Agar Ekonomi Rakyat Cepat Pulih

oleh -
Ilustrasi - Program vaksinasi untuk mencapai herd immunity 70 persen harus gaspol, agar Pandemi COVID-19 segera selesai, dan ekonomi rakyat pulih kembali/dok R24.

Pelaksanaan program vaksinasi secara nasional diperlukan kecepatan tinggi untuk mencapai tingkat herd immunity yang ideal melawan Pandemi COVID-19, tentu ketersediaan vaksin harus dipastikan sesuai target nasional agar kekuatan ekonomi rakyat bisa segera bangkit dan pulih kembali.

Badai pandemi COVID-19 satu tahun sudah melanda Indonesia, serangan virus radikal itu bukan saja telah menimbulkan krisis kesehatan, namun hampir semua sektor dibuatnya terjungkal hingga lumpuh tak bergerak.

Ekonomi rakyat menjadi sulit, sektor ril sekarat, usaha ini usaha itu dibatasi, rakyat dikurung berlama-lama di rumah menjadi tidak produktif. Dilema, di luar ada virus, di dalam rumah banyak perut yang harus diisi kelaparan.

Namun, harapan rakyat kini muncul dan menguat, setelah pemerintah mulai melakukan vaksinasi pada awal Januari 2021 lalu. Rakyat pun  menunggu untuk mendapat giliran divaksin, agar segala kesusahan hidup bisa cepat berakhir.

 

Vaksinasi bagi seluruh rakyat

Pelaksanaan vaksinasi bagi seluruh rakyat itu kini harus menjadi fokus kerja pemerintah, segala sumberdaya harus dikerahkan untuk menyembuhkan rakyat dari serangan virus tak terlihat tapi mematikan.

Anggota Komisi II DPR RI Mardani Ali Sera menyebut vaksinasi COVID-19 adalah hak seluruh rakyat Indonesia, tanpa membedakan dilayani oleh layanan kesehatan pemerintah maupun swasta.

“Secara prinsip sudah menjadi tanggung jawab negara untuk memvaksinasi seluruh rakyat tanpa terkecuali,” kata Mardani, di Jakarta, Rabu (3/3/2021).

Mardani minta pelaksanaan vaksinasi dilakukan agar lebih cepat lagi, sebabnya dia melihat pelaksanaan vaksin itu oleh pemerintah masih banyak ditemukan kendala, mulai dari proses produksi vaksin, mekanisme distribusi, hingga penyuntikan.

“Bila produksi vaksin lambat, akan berimbas pada distribusi ke daerah yang juga terhambat. Padahal, masyarakat tengah menunggu untuk bisa mendapatkan vaksinasi,” cetusnya.

Selain itu, pelaksanaan vaksinasi yang baru 100 ribu per hari juga membuat Mardani sangsi akan dapat selesai sesuai target Presiden Joko Widodo, yaitu selama satu tahun.

“Target 182 juta penerima, dikali dua kali dosis, berarti harus ada satu juta orang yang disuntik setiap hari. Bila hanya 100 ribu per hari, maka vaksinasi baru akan selesai selama 10 tahun,” kata Anggota DPR RI dari Fraksi PKS itu.

Ilustrasi – Vaksin/Istimewa.

Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin menyatakan, pemerintah berupaya mempercepat program vaksinasi Covid-19 agar herd immunity atau kekebalan komunitas tercapai.

Menkes menargetkan, mulai Juni 2021, penyuntikan vaksin Covid-19 dapat menyasar 1.000.000 penduduk per hari.

“Juni Juli baru satu juta. Kenapa? Karena ketersediaan vaksinnya di Juni Juli baru bisa 25 jutaan sebulan,” ucapnya.

Untuk mempercepat program vaksinasi, pemerintah telah membuka vaksinasi jalur mandiri bagi kalangan swasta.

Terkait itu Budi Gunadi menegaskan, vaksin gotong royong yang dilakukan mandiri oleh perusahaan kepada karyawan dan keluarganya akan diberikan secara gratis, dan menjadi tanggung jawab perusahaan tersebut.

Vaksin gotong royong sendiri telah diatur dalam Pasal 7 ayat (4) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 10 Tahun 2021 tentang Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi COVID-19.

Jenis vaksin untuk pelaksanaan vaksinasi gotong royong juga harus berbeda dengan jenis vaksin COVID-19 yang digunakan untuk vaksinasi program pemerintah, agar tidak mengganggu jalur distribusi vaksin nasional, dan disalahgunakan untuk vaksinasi mandiri.

“Yang penting, prinsipnya harus gratis diberikan. Yang namanya vaksin gotong royong sumbernya adalah perusahaan, mereka yang mencarikan vaksin, dan harus gratis untuk seluruh karyawan dan keluarganya,” katanya.

Selanjutnya, jenis vaksin yang nantinya digunakan untuk vaksinasi COVID-19 harus telah mendapat persetujuan penggunaan pada masa darurat (emergency use authorization), atau penerbitan nomor izin edar (NIE) dari BPOM sesuai peraturan perundang-perundangan.

Menkes juga telah menetapkan jenis vaksin COVID-19 melalui Kepmenkes HK.01.07/MENKES/12758/2020 tentang Penetapan Jenis Vaksin untuk Pelaksanaan Vaksinasi COVID-19.

Kini, terdapat empat jenis vaksin COVID-19 yang sudah tiba di Indonesia yaitu Sinovac, AstraZeneca, Pfizer, dan Novavac.

“Mereknya tidak boleh sama supaya tidak terjadi saingan rebutan suplai. Jadi dipastikan suplainya adalah tambahan dari sumber-sumber produsen vaksin di seluruh dunia di luar empat yang pemerintah sudah dapat,” kata Menteri Budi.

Ia berharap, vaksin gotong royong akan mempercepat proses vaksinasi dan memperpendek target penyelesaian vaksinasi untuk lebih dari 181 juta penduduk Indonesia yang semula ditetapkan 15 bulan menjadi 12 bulan.

“Semakin banyak yang berpartisipasi, besar kemungkinannya untuk kita mencapai herd immunity. Modal sosial di Indonesia besar sekali. Kali ini, perang melawan pandemi, bisa kita hadapi bersama,” katanya.

Pemulihan ekonomi rakyat

Pandemi global benar-benar menjatuhkan martabat ekonomi di semua negara, pertumbuhan ekonomi anjlok, semua negara berjibaku agar tidak mengalami krisis ekonomi, dan terperosok ke jurang resesi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, percepatan program vaksinasi nasional dapat mendorong kepercayaan konsumen dan memulihkan kegiatan ekonomi nasional dalam waktu singkat.

“Dari sisi kesehatan, Pemerintah akan fokus memulihkan kepercayaan konsumen dengan mempercepat vaksinasi,” kata Airlangga.

Airlangga Hartarto menyatakan, pemerintah akan terus mempercepat belanja dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal I tahun 2021.

“Kami berharap ada perbaikan lebih lanjut. Kami mempercepat pengeluaran pemerintah termasuk program perlindungan sosial dan anggaran pemulihan ekonomi,” katanya.

Sebut Airlangga, percepatan belanja pemerintah dilakukan salah satunya melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang anggarannya mencapai Rp699,43 triliun.

Anggaran PEN tersebut memiliki fokus pada lima bidang yakni kesehatan Rp176,3 triliun, perlindungan sosial Rp157,41 triliun, program prioritas Rp125,06 triliun, insentif usaha Rp53,86 triliun, serta dukungan UMKM dan pembiayaan korporasi Rp186,81 triliun.

“Kami juga mendorong pembelian untuk usaha domestik serta usaha mikro, kecil dan menengah,” ujarnya.

Airlangga memastikan pemerintah akan terus menyeimbangkan antara pemulihan ekonomi dan penanganan kesehatan selama pandemi COVID-19 masih berlangsung karena kedua hal ini saling berkaitan.

Menurutnya, penanganan pandemi yang baik akan mampu memberikan kepercayaan kepada masyarakat untuk melakukan konsumsi sehingga perekonomian pun ikut terdorong.

“Kita tetap harus menjaga keseimbangan antara penanganan pandemi serta mendorong pemulihan ekonomi. Pemerintah akan fokus memulihkan kepercayaan konsumen dengan mempercepat vaksinasi,” katanya.

Ia menjelaskan salah satu langkah untuk mengembalikan kepercayaan konsumen adalah melalui program vaksinasi yang sampai akhir tahun diharapkan mampu mencakup 182 juta orang dari total 270 juta orang.

“Untuk bisa mencapai herd immunity 70 persen. Kita juga harus menjaga dan menegakkan protokol kesehatan yang ketat,” ucapnya.

Pandemi COVID-19 belum berakhir, vaksinasi adalah harapan rakyat agar perang melawan virus radikal itu bisa cepat usai.

Seperti dikatakan Sun Tzu (545 SM-470 SM), Jenderal Militer Kekaisaran Tiongkok Kuno.

Kata Sun Tzu, perang harus cepat selesai dan memenangkan perang, Karena jika waktu perang berlama-lama dan bertele-tele, anggaran semakin besar, rakyat makin sengsara. Selain itu, stamina dan semangat tempur prajurit juga akan merosot tajam karena perang terlalu lama.

Terbaiknya adalah vaksinasi harus dilaksanakan cepat, harus gaspol, harus kecepatan maksimum bila perlu jangan pakai rem. Agar cepat juga sampai tujuan yaitu menyembuhkan “sakit”, ekonomi cepat pulih, dan rakyat terbebas dari segala kesusahan. (Endang JP)