Tugu Mauk Catat Sejarah Gugurnya Pahlawan Otto Iskandar Dinata

  • Whatsapp
Mauk Tangerang
Tugu Mauk, kabupaten Tangerang

KABUPATEN TANGERANG, REDAKSI24.COM– Otto Iskandar Dinata merupakan salah satu pahlawan nasional yang dikenal dengan sebutan Otista. Pahlawan asal Mauk Tangerang ini cukup dikenal di kalangan masyarakat. Bahkan selain namanya terukir di sejarah nasional, juga diabadikan di salah satu monumen, di kampung halamannya, tepatnya di Perempatan jalan Mauk, Desa Mauk Timur, Kecamatan Mauk, Kabupatelain Tangerang, Banten.

Monumen itu lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Tugu Mauk. Tujuan dibangunnya monumen tersebut tidak lain untuk mengenang sejarah kelam gugurnya Otto Iskandar Dinata pada tanggal 20 Desember 1945 di Desa Ketapang, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang.

Bacaan Lainnya

Berdasatkan data yang diperoleh Redaksi24.com dari berbagai sumber, Tugu Mauk dibangun pada tahun 1966 oleh pemerintah daerah Tingkat II Tangerang. Dimana pada waktu itu masih menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat.

Monumen yang dibangun dengan tinggi sekitar 3 meter itu, sebagai tanda bahwa Kabupaten Tangerang memiliki pejuang yang sekaligus pernah menjabat Menteri Keamanan di Era Presiden Soekarno.

Dan di monumen itu juga disebutkan, Otista lahir di Desa Bojong Soang, Bandug, Jawa Barat, pada tanggal 31 Maret 1897. Kemudian pada tanggal 10 Desember 1945, Otista diculik oleh anggota Laskar Hitam Tangerang. Konon, berembus kabar penculikan itu dilatar belakangi fitnah yang menuduh Otista terlalu dekat dengan militer Jepang. Sehingga dianggap gagal melakukan pendekatan saat Jepang mengambil alih persenjataan dari tangan para pemuda Indonesia pasca kemerdekaan.

Selama 10 hari diculik dan beberapa kali dipindahkan, akhirnya pada tanggal 20 Desember 1945, para anggota Laskar Hitam Tangerang membunuh Otista di sebuah pesisir pantai, Desa Ketapang, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Dan Hingga kini, makam atau jasat Otista tidak pernah ditemukankan. Pembunuhan kepada Otista itu terjadi pada saat ia tengah mempertahankan keutuhan NKRI yang baru saja merdeka.

Namun, semangat perjuangan Otista tetap menggelora bagaikan kobaran api yang tersimbol pada Tugu Mauk. Rasa nasionalis yang gagah berani juga tercermin pada tiga patung pria perkasa yang berdiri tegak mengangkat kobaran api membara itu.

“Kami bangga dengan adanya Tugu Mauk. Karena dari sinilah semangat perjuangan dan rasa nasionalisme bisa ditularkan kepada para generasi muda,” tutur Ade Irawan, warga Mauk.

BACA JUGA:

DPRD Bentuk Pansus Perubahan Hari Jadi Kabupaten Tangerang

Upacara Peringatan Harkitnas, Wabup H. Ombi Sebut Perbedaan Politik Hal Biasa

Senada pula dengan Amirullah, lemuda Mauk lainnya. Ia mengatakan, keberadaan Tugu Mauk dapat dijadikan sebagai refleksi dan renungan khususnya bagi para anak muda, agar bisa lebih menghargai catatan sejarah kemerdekaan Indonesia. Supaya di era modernisasi seperti sekarang ini, kata dia, rasa nasionalisme dan cinta tanah air tidak mudah pudar.

“Bukankah bung karno pernah berkata Jas Merah! Jangan sekali-kali melupakan sejarah, untuk itulah Tugu Mauk dibangun,” tutupnya. (Ricky/Aan). 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.