Tolak Perintah Junta, Tiga Polisi Myanmar Melarikan Diri Ke India

oleh -
junta militer,myanmar,kudeta,melarikan diri,polisi,new delhi
Sejumlah orang menghadiri proses pemakaman Kyal Sin (19) alias Angel, seorang pengunjuk rasa yang tewas tertembak oleh pihak militer saat berunjuk rasa menentang kudeta militer di Mandalay, Myanmar, Kamis (4/3/2021)/Antara.

NEW DELHI, REDAKSI24.COM–Tiga polisi Myanmar melarikan diri ke India menolak perintah junta militer yang tidak dapat dipatuhi mereka.

Ketiga polisi myanmar itu menyeberang ke Negara Bagian Mizoram di timur laut India untuk mencari perlindungan di sana.

“Daripada menjalankan perintah yang diberikan oleh junta militer,” kata seorang Pejabat Polisi India, Kamis (4/3/2021).

Ketiga pria itu melintasi perbatasan dekat Kota Vanlaiphai Utara pada Rabu sore (3/3) dan pihak berwenang setempat sedang memeriksa kesehatan mereka dan membuat pengaturan untuk mereka, kata pengawas polisi di Distrik Serchhip, Mizoram.

“Apa yang mereka katakan adalah mereka mendapat instruksi dari penguasa militer yang tidak dapat mereka patuhi, sehingga mereka melarikan diri,” kata Inspektur Stephen Lalrinawma.

“Mereka mengungsi karena pemerintahan militer di Myanmar,” kata Lalrinawma.

India berbagi perbatasan darat sepanjang 1.643 kilometer dengan Myanmar, di mana lebih dari 50 orang telah tewas selama protes terhadap kudeta militer pada 1 Februari 2021.

Kudeta militer menggulingkan pemerintah yang dipilih secara demokratis, dan menahan pemimpinnya, Aung San Suu Kyi, setelah mempermasalahkan kemenangan telak partainya dalam pemilu November tahun lalu.

India sudah menjadi rumah bagi ribuan pengungsi dari Myanmar, termasuk orang-orang etnis Chin dan Rohingya, yang melarikan diri dari negara Asia Tenggara itu selama peristiwa kekerasan sebelumnya.

Sebelumnya diketahui, seorang remaja Kyal Sin alias Angel berusia 19 tahun ditembak di kepala hingga tewas di tengah unjuk rasa di Kota Mandalay pada Rabu (3/3), saat memakai kaus bertuliskan “Semua akan baik-baik saja.”

Ratusan pelayat, banyak dari mereka yang masih muda seperti dia, melewati peti matinya yang terbuka dan menyanyikan lagu-lagu protes, memberi hormat tiga jari untuk menentang dan meneriakkan slogan-slogan menentang kudeta militer yang telah menjerumuskan negara ke dalam kekacauan.

Kyal Sin adalah satu dari 38 orang yang tewas pada Rabu itu, menurut penghitungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Seorang juru bicara junta tidak menanggapi permintaan untuk mengomentari pembunuhan tersebut.

Sai Tun (32) yang menghadiri pemakaman, mengatakan dia tidak bisa menerima apa yang terjadi pada Kyal Sin.

“Kami merasa sangat marah atas perilaku tidak manusiawi mereka dan pada saat yang sama sangat sedih,” kata dia.(Yashinta Difa Pramudyani/Ant/ejp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.