Timbulkan Kemacetan, Camat Sepatan Ingatkan Pedagang di Pasar Tumpah Pindah Ke Pasar Pelangi

oleh -
Kecamatan Sepatan Pasar pelangi
Camat Sepatan mengingtkan pedaganng untuk berjalan di Pasar Pelangi untuk mencegah timbulnya kemacetan.

KABUPATEN TANGERANG, REDAKSI24.COM–Camat Sepatan Dadang Sudrajat mengingatkan para pedagang yang menggelar dagangannya di bahu jalan dan bantaran sungai di Desa Sarakan untuk memanfaatkan lahan Pasar Pelangi. Jika tetap membandel menurut Dadang, team Satpol PP Kecamatan Sepatan akan melakukan penertiban 

“Kami.mengingatkan agar tidak menggunakan lokasi yang menimbulkan kemacetan di pagi dan sore hari,” ujar Dadang usai melakukan pengecekan ke lapangan, Senin, (22/3/2021)

Dadang mengaku sebelumnya pihaknya telah menertibkan sehingga  para pedagang sudah masuk ke area Pasar Pelangi. Namun beberapa pihaknya mendapatkan laporan jika para pedagang ini satu persatu 

kembali lagi ke lokasi semula. Untuk itu dirinya bersama Satpol PP Kecamatan Sepatan dan Kades Sarakan melakukan pengecekan lapangan. 

“Lokasi ini sudah pernah kita rapikan dan pedagang saat ini sudah masuk ke area Pasar Pelangi, akan tetapi beberapa dari mereka kembali lagi ke lokasi semula,” jelasnya.

Dadang juga mengaku telah meminta Kepala Desa Sarakan dan Pondok Jaya untuk mendata ulang para pedagang yang kembali  berjualan di bahu jalan dan bantaran sungai termasuk mengecek siapa.yang memungut penyewaan lokasi yang bukan peruntukannya tersebut.

“para pedagang  menggunakan bahu jalan dan bantaran sungai untuk berjualan namun anehnya mereka merasa menyewa lokasi ini walau mereka.tahu bukan lahan pribadi. Untuk saya minta Kepala Desa Sarakan dan Pondok jaya untuk mendata ulang dan mengecek siapa yang memungut  sewa lokasi yang bukan peruntukannya,” tegas Dadang.

BACA JUGA: Miris, 10 Tahun Bekerja Cuma Dikasih Santunan Sejuta, Anggota DPRD Kabupaten Tangerang Minta Disnaker Fasilitasi Hak Pekerja 

Adanya Pasar tumpah di Desa Sarakan Kecamatan Sepatan dan Desa Tanah Merah, Kecamatan Sepatan Timur dikeluhkan para pedagang di Pasar Tradisional Pelangi Sepatan. Mereka mengeluh karena keberadaan pasar tumpah tersebut mengurangi pendapatan mereka.

“Dengan adanya pasar tumpah otomatis warga yang belanja di pasar tradisional akan berkurang karena pembeli suka memilih pasar tumpah karena simpel walaupun bisa menimbulkan kemacetan,” ujar Ridwan salah seorang pedagang di Pasar Pelangi Sepatan.

Ridwan mengaku dengan keberadaan pasar tumpah tersebut membuat omzet dagangannya turun hingga 70 persen. 

“Rugi lah kita selain dagangan sepi kita sudah bayar sewa, sementara mereka tidak,” keluhnya.

Ridwan pun meminta agar ada penindakan dari aparat berwenang  terhadap pasar tumpah yang sudah meresahkan para pedagang di pasar Tradisional Pelangi.

“Sebaiknya ditindak, dan dipindahkan ke pasar tradisional. Tempat kan sudah disediakan, buat apa ada tempat kalau tidak ditempati. Kalaupun masih lebih sepi dibanding berjualan di pinggir jalan, itu proses merubah kebiasaan pembeli sehingga lama-lama mereka mau masuk ke pasar tidak lagi berbelanja di pinggir jalan yang menyebabkan kemacetan walaupun itu lebih simpel, ” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Tradisional Pelangi Sepatan Muhammad Jembar mengatakan, Pasar Tumpah yang ada di Desa Sarakan Kecamatan Sepatan telah membuat resah para pedagang yang belum terselesaikan relokasi nya. Menurut Jembar, tertundanya relokasi karena adanya hambatan tanah yang dijadikan pasar tumpah dan masih adanya para pedagang yang nakal.

“Ini semua tugas Satpol PP kabupaten Tangerang karena ada juga di Desa Tanah Merah yang dijadikan Pasar Tumpah oleh para pedagang nakal dan adanya pungli yang melindungi di area Pasar Tumpah di Jalan Raya Pakuhaji dan Pasar Tumpah di Desa Tanah Merah Kecamatan Sepatan Timur yang dilakukan oleh oknum sehingga pedagang di Pasar Tumpah itu merasa terlindungi,” ungkapnya.

Selain itu Jembar mengaku sebagai pengelola tidak bisa berbuat banyak untuk melakukan penataan Pasar Pelangi karena belum mendapatkan kewenangan penuh untuk pengelolaan Pasar Pelangi akibat belum selesainya pembuatan  regulasi dan aturan hukum.

”Kami mau lakukan berdasarkan apa (penataan-red).Surat tugas saja tidak ada. Kami orang yang taat akan hukum jadi semua yang kami lakukan berdasarkan aturan. Jangan biarkan masalah ini berlarut-larut tanpa kepastian,” tegasnya.(Hendra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.