Tim Gabungan Tutup Penambangan Emas Ilegal di TNGHS

oleh -
TUTUP GALIAN EMAS ILEGAL : Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya ditemani para stake holder memimpin langsung penutupan kegiatan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang berada di Blok Cikidang Kawasan Hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Rabu (10/7).

REDAKSI24.COM—Tim operasi simpatik gabungan yang terdiri dari Ditjen Gakkum LHK, Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Pemda Lebak, Polres Lebak, Kodim Lebak, beserta masyarakat Adat Kasepuhan Cisungsang menutup kegiatan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang berada di Blok Cikidang Kawasan Hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Rabu (10/7).

Di area PETI tersebut ditemukan sekitar 20 lubang galian baik yang masih aktif maupun yang telah ditinggalkan oleh pelaku, kurang lebih 200 orang melakukan kegiatan PETI dan terdapat puluhan gubug penambang ilegal.

Kepala Balai TNGHS Awen Supranata saat penjelasan di lapangan mengatakan, penghentian kegiatan PETI ini merupakan upaya KLHK untuk menekan kerusakan kawasan hutan, kerusakan lingkungan serta upaya menghilangkan dampak pencemaran tanah dan air yang disebabkan oleh sampah, merkuri dan sianida.

“Berbagai upaya telah dilakukan oleh BTNGHS sejak tahun 2011-2017 dengan melakukan patroli rutin maupun operasi gabungan dengan berbagai pihak serta monitoring bersama PT. Antam, Tbk sebagai bagian dari kegiatan pasca tambang yang dilakukan,” jelas Awen.

Menurut Awen, kegiatan PETI di wilayah kawasan TNGHS mulai muncul dan berkembang sejak pertambangan emas PT. Antam Tbk Unit Usaha Cikotok mengakhiri kegiatan ekploitasi emas di wilayah blok Cikidang dan sekitarnya sekitar tahun 2010. Kegiatan penambangan terbuka dengan memanfaatkan lobang bekas pertambangan PT Antam, Tbk (Level 400 dan Level 500) atau membuat lobang langsung dari atas permukaan tanah sebagai pintu masuknya.

Selanjutnya penggalian lubang diarahkan secara vertikal (berbentuk sumur) atau horisontal (berbentuk lorong) menyesuaikan dengan temuan batuan atau perkiraan posisi batuan yang mengandung emas. Lubang yang tidak menghasilkan emas akan ditinggalkan begitu saja, lalu mereka membuat lobang yang baru.

“Pola penambangan yang dilakukan oleh para pelaku PETI mengakibatkan kerusakan lingkungan yang cukup berat khususnya ekosistem hutan. Penebangan pohon disertai rusaknya vegetasi bawah menyebabkan hilangnya habitat satwa liar. Selain itu tanah dan sungai mengalami pencemaran akibat sampah karung dan pla terdapat kandungan sianida dan merkuri. Berubahnya struktur tanah juga mengakibatkan tanah rawan akan longsor,” papar Awen.

Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan Ditjen Gakkum LHK Sustyo Iriyono ditemui saat acara apel persiapan operasi simpatik mengatakan bahwa Ditjen Gakkum LHK mendukung penuh kegiatan penutupan PETI di Kawasan Hutan TNGHS. Menurutnya Ini merupakan bentuk operasi pengamanan hutan dan Ditjen Gakkum terus berupaya agar kawasan hutan tetap terjaga dari bentuk tekanan dan upaya perusakan sehingga fungsi hutan tetap terjaga dan dapat dirasakan oleh masyarakat luas.

” Alhamdulilah dengan kegiatan ini Resort Gunung Bedil seluas 7.768 Ha dapat teramankan dari kegiatan PETI,” ungkap Susto.

Sementara itu, Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya menyambut baik kegiatan penutupan PETI di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini. Dalam sambutannya, Iti  mengatakan bahwa, kegiatan penutupan PETI Cikidang pernah dilakukan tahun 2010 saat awal pasca tambang PT. Antam, Tbk namun belum sesuai dengan apa yang diharapkan dan untuk yang keduakalinya diharapkan akan menjadi model penanganan PETI di tempat lainnya baik di Kawasan TNGHS maupun di kawasan hutan di seluruh Indonesia.

“Kami mengharapkan setelah kegiatan penutupan kegiatan PETI ini ada program lanjutan terkait sosial ekonomi masyarakat, yaitu mengembalikan kembali masyarakat mata pencaarian yang dulunya penambang menjadi kegiatan lainnya yang berbasis agrobisnis, untuk itu Pemda akan melakukan program perberdayaan masyarakat yang nantinya pihak LHK dalam hal ini Balai TNGHS dapat mendukung program perberdayaan masyarakat dimaksud,” pungkas Iti. (Yusuf/Hendra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *