Tiga Warga Curug Tersangka Penjual Tanah Wakaf

oleh -

REDAKSI24.COM–Polda Banten menetapkan tiga warga Kecamatan Curug, Kota Serang, Provinsi Banten sebagai tersangka kasus dugaan penjualan tanah wakaf. Ketiga tersangka masing-masing berinisial SW (55), NW (56) dan SN (46). Mereka  dijerat pasal berlapis,  yakni pasal 67 ayat (1), UU RI Nomor  41 tahun 2014 dan pasal 266 KUH Pidana serta pasal 385 KUH Pidana jo 55 KUH Pidana. Ketiganya terancam hukuman maksimal lima tahun penjara atau denda Rp500 juta.

Hal tersebut diungkapkan Kabid Humas Polda Banten, Kombes Pol Edy Sumardi di Mapolda Banten, Rabu (24/7/2019). Namun demikian Edy menyebut,  pihaknya masih dalam tahap pendalaman. Dia mengaku kemungkinan besar masih ada tersangka lain, karena diduga melibatkan aparatur desa.

“Tresangka semua bersaudara, termasuk aparatur desa yang diduga ikut terlibat,  juga masih ada hubungan keluarga,” ungkapnya.

Kasubdit Reskrimum Polda Banten, AKBP Sofwan Hermanto menambahkan, pihaknya melakukan penyidikan dugaan penjualan tanah wakaf setelah adanya laporan masyarakat pada Agustus 2018 lalu.

Setelah lebih dari setengah tahun melakukan penyelidikan, kata dia, pihaknya menemukan indikasi adanya tindak pidana berupa keterangan palsu dalam akta otentik dan atau penggelapan atas hak benda tidak bergerak (Wakaf).

“Tersangka dikenakan wajib lapor, karena cukup koorperatif. Bisa saja nantinya mereka ditahan berdasarkan hasil penyelidikan lanjutan,” ungkapnya.

Kasus dugaan penjualan tanah wakaf bermula pada 1984 silam. Kala itu almarhum Raiman mewakafkan tanah seluas 1.137 M2 kepada pengurus madrasah atas nama Burohim. Kemudian, pada tahun yang sama, seluruh warga bergotong royong membangun madrasah di atas lahan wakaf tersebut.

Kemudian pada tahun 1993, dibuatlah sebuah Akta pengganti Akta Ikrar Wakaf. Pada tahun 1994, para pengurus Madrasah membuat sertifikat tanah atas nama pengurus Madrasah sebanyak lima orang.  Para pengurus selalu membayar SPPT tanah setiap tahunnya. Hingga tahun 2009 terbitlah SPPT atas nama Wakaf.

Namun pada tahun 2010, setelah terjadi pemutihan, nama pada SPPT berubah menjadi Sawi. Menyusul kemudian para pengajar di Madrasah tersebut berpindah tugas, ada pula yang meninggal dunia. Sehingga kemudian kondisinya sepi dan tidak terurus.

Kondisi ini kemudian dimanfaatkan Sawi untuk mengklaim kepemilikan tanah wakaf tersebut. Pada tahun yang sama, dengan bermodalkan SPPT berdasarkan akta jual beli (AJB) nomor 170/2015, Sawi memerintahkan menantunya (NW) untuk menjual tanah wakaf tersebut kepada SBT seharga sekitar Rp90 juta.

“Sawi meninggal pada tahun 2015. Sedangkan NW memanfaatkan kedekatannya dengan keluarga dan aparatur desa untuk menjual tanah wakaf tersebut,” kata Edy seraya menyebut saat ini di atas tanah wakaf tersebut berdiri sebuah bangunan rumah milik SBT. (Luthfi/Odi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *