Tersangka Pembuang Mayat Bayi di Pagelaran Pandeglang Pasangan Pelajar

oleh -
pembuang bayi
Kapolres Pandeglang, Polda Banten, AKBP AKBP Sofwan Hermanto menunjukan barang bukti yang digunakan pelaku pembuang mayat bayi.

PANDEGLANG, REDAKSI24.COM – Jajaran Polres Pandeglang, Banten, telah mengamankan dua tersangka pembuang mayat bayi laki-laki di Kampung Kahuripan, Desa Sukadame, Kecamatan Pagelaran, Pandeglang. Kedua tersangka yang diamankan masing-masing berinisial MRT dan AZ. Keduanya masih berstatus pelajar SLTA.

Terungkapnya kedua pelaku pembuang mayat bayi tersebut, setelah pihak petugas Polres Pandeglang melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi-saksi serta pengumpulan barang bukti yang didapat.

Kapolres Pandeglang, Banten, AKBP Sofwan Hermanto menjelaskan, mayat bayi berusia sekitar 6 bulan itu ditemukan dua warga di taman samping rumah Rohayah, warga sekitar Minggu (1/12/2019) sekitar pukul 6:30 WIB.

“Saat itu saksi jalan berbarengan hendak ke pasar. Saksi melihat bercak darah. Karena penasaran, mereka menelusuri bercak darah itu. Ternyata ada bayi di sela-sela bunga dalam keadaan sudah meninggal,” ungkap Kapolres saat ekapose kasus pembuangan mayat bayi di Aula Mapolres Pandeglang, Selasa (3/12/2019).

BACA JUGA:

. Terduga Pembuang Mayat Bayi di Sukadame Pandeglang Berstatus Pelajar

. Mayat Bayi Laki-Laki Dibuang di Samping Rumah Warga Sukadame Pandeglang

Kemudian lanjut Kapolres, saksi mata menghubungi warga lainnya dan melaporkan kejadian itu ke petugas Polsek Pagelaran. Sekitar pukul 7:00 WIB, petugas mendatangi lokasi dan melakukan olah tempat kejadian perkara.

“Dari olah TKP, selain dua saksi dari warga sekitar, kami juga mendapati saksi kunci dari petugas Puskesmas Pagelaran,” katanya.

Berdasarkan hasil keterangan saksi-saksi, terutama Bidan Puskesmas Pagelaran, pada malam hari sebelumnya ada salah seorang perempuan berinisial MRT datang mengeluhkan sesak nafas dan sakit perut.

“Lalu anggota kami mendatangi tempat praktek bidan itu. Pada saat kami lakukan pemeriksaan di ruangan-ruangan termasuk kamar mandi di tempat praktek bidan itu, ditemukan ada bercak darah di kamar mandi,” jelasnya lagi.

Saat itu, MRT datang ke rumah bidan diantar kedua orang tuanya untuk diperiksa. Namun dalam proses pemeriksaan itu, MRT tidak memiliki BPJS Kesehatan, kemudian kedua orang tuanya pergi meninggalkan tempat praktek bidan untuk mengurus BPJS Kesehatan.

“Dari temuan yang kami dapat, kami melakukan introgasi terhadap MRT. Memamg mulanya MRT tidak mengaku, namun kami melakukan langkah pengecekan telepon genggam milik MRT, dan ditemukan ada percakapan dengan seorang yang diduga pacarnya,” ujar Kapolres.

Dalam percakapan di telepon seluler milik MRT dengan pacarnya, kata Kapolres, kurang lebihnya menyampaikan janin bayi sudah keluar. Kemudian, pihaknya menelusuri keberadaan pacar MRT, berinisial AZ.

“Melalui penelurusan itulah pacar MRT berhasil kami amankan, dan dalam handphone AZ juga terdapat kesesuaian percakapan dengan MRT,” ujarnya.

Kepada petugas AZ mengakui perbuatannya tersebut. Dari keterangan MRT, keduanya sempat datang ke dukun bayi. MRT kemudian diurut dan diberikan obat. Setelah itu MRT merasa mual dan sesak nafas.

“Dukun bayinya hingga saat ini masih dalam pencarian. Kami telah mengumpulkan bukti untuk penetapan tersangka,” tuturnya.

Tambah Kapolres, dengan alat bukti yang didapat dan keterangan saksi-saksi, serta didukung dari hasil visum yang menerangkan ada luka robek pada bagian kemaluan MRT, sehinga kedua pelaku ditetapkan sebagai tersangka.

“Namun kami tidak melakukan penahanan terhadap kedua pelaku, karena masih dibawah umur. Selain itu, pelaku juga sedang mengikuti ujian sekolah,” tambahnya.

Saat ditanya pasal yang disangkakan, Kapolres menyebut keduanya bakal dijerat pasal 76 huruf C jo pasal 80 ayat 3 dan 4, yang bunyinya setiap orang dilarang menempatkan dan membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

“Ini masalah serius. Berawal dari persoalan inilah menjadi pemicu kami dalam melakukan penertiban dan penegakan hukum terkait tindakan aborsi,” tandasnya. (Samsul Fathoni/Difa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *