Terkait Banyaknya Penolakan Pembangunan Geothermal Padarincang, Pakar UI : Semua Pihak Harus Arif

oleh -
Geothermal Padarincang

KABUPATEN TANGERANG,REDAKSI24.COM–Rencana Presiden Joko Widodo untuk melakukan pembauran energi baru terbarukan (EBT) pada 2025 sebesar 23% perlu didorong oleh semua pihak untuk mencapai cita-cita tersebut. Oleh karena itu, semua pihak diharapkan bisa duduk bersama menyelaraskan pikiran dan tujuan agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di daerahnya.

Hal ini disampaikan oleh Ahli Geothermal dari Universitas Indonesia (UI) Dr Eng. Yunus Daud, MSc. Ia melihat bahwa besarnya potensi dan manfaat dari EBT seperti geothermal belum banyak diketahui oleh masyarakat. Sehingga banyak penolakan terhadap pembangunan PLTP seperti yang terjadi di Padarincang, Kabupaten Serang, Banten. Menurutnya, pemerintah maupun investor perlu menggencarkan sosialisasi ke masyarakat.

“Gak semua tahu geothermal, termasuk di perguruan tinggi. Nah artinya kalau masyarakat tidak terlalu tahu juga maka wajar kalau terjadi gap informasi. Jadi baik pengusaha maupun pemerintah, harus apik dalam menyampaikan sosialisasi dan perlu dengan rendah hati,” ujar Yunus, Rabu (3/02/2021).

Menurutnya, dengan kultur budaya Indonesia yang beragam maka pendekatan yang bagus, penjelasan tepat, jelas, dan transparan akan menjadi kunci agar tidak terjadi perbedaan pandangan terhadap energi geothermal sehingga mampu diterima oleh masyarakat luas.

“Saya berdiri di atas semua komponen bangsa Indonesia di mana ada pengusaha, ada masyarakat, ada tokoh, nah saya berdiri di antara semua. Artinya bagaimana energi ini bisa dimanfaatkan namun juga dikomunikasikan dengan sangat baik kepada masyarakat,” jelasnya.

Dicatat oleh Kementerian ESDM, Indonesia memiliki potensi energi geothermal sebesar 23.900 MW, di mana dengan kondisi geografis Indonesia yang dilintasi jalur gunung berapi angka tersebut kemungkinan besar akan meningkat seiring dengan temuan dan investigasi baru lainnya.

Namun besarnya potensi tersebut sampai dengan saat ini baru dimanfaatkan sebesar 2.130 MW yang tersebar di beberapa wilayah di antaranya seperti Sorik Marapi (Sumatera Utara), Muara Laboh (Sumatera Barat), Lumut Balai (Sumatera Selatan), Kamojang (Jawa Barat), Dieng (Jawa Tengah), Ijen (Jawa Timur), Flores (NTT), dan Lahendong (Sulawesi Utara).

Menurutnya, geothermal memiliki banyak manfaat dan termasuk sumber energi yang bersih karena emisi CO2 geothermal paling kecil di antara energi-energi lain yang ada. Apalagi jika dibandingkan sumber energi dari fosil atau batubara. Besarnya potensi tersebut berjalan beriringan dengan manfaat yang dihasilkan dari energi geotermal ini. 

Yunus menambahkan selain mampu menghasilkan listrik, energi ini bila dimanfaatkan dengan maksimal juga mampu digunakan untuk Direct Uses (pemanfaatan panas secara langsung) seperti untuk penghangat ruangan ataupun untuk mengeringkan hasil-hasil pertanian yang dibutuhkan dalam bentuk kering seperti kopra (kelapa kering) dan lain-lain.

“Kalau di Belanda, mereka pengen banget punya geothermal gitu, tapi mereka harus ngebor dulu 3000 meter baru dapet 100 derajat (celcius,red.). Kalau di kita 100 derajat Celcius bisa diperoleh di permukaan bumi. Sementara kita kalau ngebor 3000 meter ya mungkin sudah bisa dapet 300 derajat celcius atau lebih. Dan ini anugerah yang luar biasa yang diberikan oleh Tuhan kepada bangsa Indonesia,” tambahnya. (Hendra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.