Terbentur SOP, Jenazah Husen pun Dibopong Pulang

oleh -
Supriadi, paman Husen membopong jenazah keponakannya yang meninggal akibat tenggelam di Sungai Cisadane dari Puskesmas Cikokol.

Ya, saya langsung bopong keponakan saya. Karena sudah terlalu lama di Puskesmas sekitar hampir satu jam setengah. Dan waktu juga sudah mau magrib, kasihan jenazah sudah kelamaan,” ungkap Supriadi, paman Husen (8) korban tenggelam di Sungai Cisadane, warga Kampung Kelapa Indah RT 3 RW 5 Kelurahan Kelapa Indah, Kecamatan/Kota Tangerang. Sabtu, (24/8/2019).

Peristiwa ini pun sontak membuat banyak orang mengeryitkan dahi dan perihatin. Jenazah bocah Husen dibopong pulang pamannya lantaran tak mendapat layanan ambulance dari Puskesmas Cikokol. Petugas Puskesmas beralasan ambulance hanya untuk mengantarkan pasien bukan jenazah. Dan itu, sudah menjadi Standar Operasi Prosedur (SOP)  dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang.

Lagi-lagi masyarakat harus kehilangan hak pelayanannya karena terbentur SOP, sehingga peristiwa miris itu pun harus terjadi. Memang, bagi pegawai ditataran teknis harus taat prosedur, dan mereka didoktrin seperti itu. Namun ini harus dipikirkan ulang, karena kepatuhan terhadap SOP dalam situasi tertentu justru akan menimbulkan ‘korban’ baru.

Dan peristiwa di akhir pekan itu pun memberi kesan, pemerintah lebih mengutamakan SOP dalam menjalankan fungsi pelayanannya, ketimbang substansi dari masalah itu sendiri. Padahal SOP itu hanya urusan teknis, kalau pun terlalu dipatuhi, tidak berdampak lebih baik dari sisi pelayanan.

Bahkan dalam kasus tertentu, pelayanan terlalu prosedural justru dianggap ribet tidak simpel dan berimplikasi terhadap biaya. Sehingga orang akan mencari ‘jalan lain’ yang penting urusannya beres.

Ini masalah pelayanan, dan kasus ini juga murni masalah pelayanan. Bukan seperti tindakan medis, umpama oprasi bedah. Jelas itu harus menggunakan SOP secara ketat, jika tidak, nyawa pasien bisa melayang.

Dalam pelayanan, SOP itu hanya tatacara saja, ditrobos pun tak masalah. Sepanjang ada yang lebih harus diutamakan. Ya seperti pemintaan ambulance itu. Kan tidak beresiko apapun, selain untuk menjaga kondisi mental keluarga korban, juga menghormati jenazah itu sendiri.

Sesungguhnya kasus ini pun telah memberi pesan, harus ada pemikiran dan paradigma baru bagi pemerintah dalam menjalankan fungsi pelayanannya kepada publik. Bahwa membuat prosedur dan terpenuhinya standar pelayanan itu penting,

Namun lebih penting lagi mengedepankan substansinya dalam melayani masyarakat. Sehingga tidak perlu lagi terjadi, tak ada ambulance jenazah harus dibopong pulang, lantaran terbentur SOP. Begitu kan.(*)

(Endang JP, Pimpinan Redaksi redaksi24.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.