Tangerang Raya Plus Cilegon Masih Rawan Covid-19 di Banten

oleh -
covid-19 tangerang raya zona kuning kota cilegon zona orange gubernur banten satgas covid-19 Ati Pramudji Hastuti
Peta penyebaran Covid-19 di Provinsi Banten sampai 20 Mei 2021.

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Wilayah Tangerang Raya yakni Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan (Tangsel), serta Kota Cilegon masih berada pada zona oranye atau risiko sedang penyebaran COVID-19 di Provinsi Banten.

Sementara empat kabupaten/kota lain di Provinsi Banten masuk katagori zona kuning atau risiko rendah penyebaran COVID-19. Empat daerah kuning itu, Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang dan Kota Serang.

Juru Bicara Satgas COVID-19 Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti di Kota Serang, mengingatkan warga yang berada di zona orange untuk selalu mematuhi protokol kesehatan untuk menekan penyebaran Covid-19.

Berdasarkan data Satgas COVID-19 Provinsi Banten secara keseluruhan di Banten hingga 20 Mei, kasus konfirmasi Covid-19 yang masih dirawat jumlahnya sebanyak 877 orang. Sedangkan yang sembuh bertambah memjadi 46.643 orang.

“Kemudian secara keseluruhan jumlah meninggal karena Covid-19 sebanyak 1.248 orang,” jelas Ati.

BACA JUGA: Sebanyak 20 Ribu Pelaku UMKM-PKL di Tangerang Akan Jalani Vaksinasi COVID-19 

Sementara itu, Gubernur Banten Wahidin Halim kembali memperpanjang status PPKM Mikro sejak tanggal 18 sampai 31 Mei 2021. Hal itu tertuang dalam Instruksi Gubernur Nomor 10 Tahun 2021 tentang Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Berbasis Mikro dan Mengoptimalkan Posko Penanganan Corona Virus Disease 2019 di Tingkat Desa dan Kelurahan Untuk Pengendalian Penyebaran Covid-19.

Dalam instruksi tersebut dikatakan PPKM Mikro dilakukan dengan mempertimbangkan kriteria zonasi di tingkat RT yakni Zona Hijau, Kuning, Oranye dan Merah. Zona Hijau dengan kriteria tidak ada kasus COvID-19 di satu RT. Maka skenario pengendalian dilakukan dengan surveilans aktif, seluruh suspek dites dan pemantauan kasus tetap dilakukan secara rutin dan berkala.

Zona Kuning dengan kriteria jika terdapat satu (1) sampai dua (2) rumah dengan kasus konfirmasi positif dalam satu RT selama tujuh (7) hari terakhir. Maka skenario pengendalian adalah menemukan kasus suspek dan pelacakan kontak erat, lalu melakukan isolasi mandiri untuk pasien positif dan kontak erat dengan pengawasan ketat.

Zona Oranye dengan kriteria jika terdapat tiga (3 ) sampai dengan lima (5) rumah dengan kasus konfirmasi positif dalam satu RT selama tujuh (7) hari terakhir. Maka skenario pengendalian adalah menemukan kasus suspek dan pelacakan kontak erat, lalu melakukan isolasi mandiri untuk pasien positif dan kontak erat dengan pengawasan ketat, serta menutup rumah ibadah, tempat bermain anak dan tempat umum lainnya kecuali sektor esensial.

Zona Merah dengan kriteria jika terdapat lebih dari lima (5) rumah dengan kasus konfirmasi positif dalam satu RT selama tujuh (7) hari terakhir. Maka skenario pengendalian adalah pemberlakuan PPKM tingkat RT yang mencakup, pertama menemukan kasus suspek dan pelacakan kontak erat, ke dua melakukan isolasi mandiri/terpusat dengan pengawasan ketat.

Selanjutnya menutup rumah ibadah, melarang kerumunan lebih dari tiga (3) orang, membatasi keluar masuk wilayah RT maksimal hingga Pukul 20.00 WIB. Meniadakan kegiatan sosial masyarakat di lingkungan RT yang menimbulkan kerumunan dan berpotensi menimbulkan penularan.

Selanjutnya, PPKM Mikro dilakukan melalui koordinasi antara seluruh unsur yang terlibat. Mulai dari Ketua RT/ RW, Kepala Desa/Lurah, Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas), Bintara Pembina Desa (Babinsa), Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas).

Juga Satpol PP, Tim Penggerak PKK, Pos Pelayanan Keluarga Berencana Kesehatan Terpadu (Posyandu), Dasawisma, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda, Penyuluh, Pendamping, Tenaga Kesehatan, dan Karang Taruna serta relawan lainnya.(ANT/DIFA)

No More Posts Available.

No more pages to load.