Takut Tertular Virus Corona, Tenaga Medis RSUD Banten Ditolak Warga Untuk Sewa Tempat Tinggal Sementara

  • Whatsapp
tenaga medis rsu banten
Tenaga medis RSU Banten.

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM—Sejumlah tenaga medis yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten mendapat stigma negatif dari warga. Dengan alasan khawatir sebagai pembawa virus Corona atau Covid-19, para tenaga medis ini kesulitan untuk mendapatkan sewa tempat tinggal sementara atau indekos karena mendapat penolakan warga.

Seperti diketahui, Pemprov Banten menjadikan RSUD Banten sebagai RS pusat rujukan Covid-19, Rabu (25/3). Dengan statusnya itu, RS tak menerima pasien umum dan hanya melayani pasien kasus Corona.

Bacaan Lainnya

Salah seorang tenaga medis di RSUD Banten yang ingin namanya dirahasiakan menuturkan, dia bersama rekan-rekannya kesulitan mencari tempat indekos agar bisa fokus bekerja selama RS pusat rujukan korona beroperasi. Setiap ada tempat yang diincar selalu saja mendapat penolakan setelah pemilik kos tahu dia bekerja sebagai tenaga medis di RSUD Banten.

“Saya dan kawan-kawan tidak dapat kosan. Alasan pemilik kosan khawatir ada penularan, setelah tahu kami bekerja menangani pasien Covid-19,” ujarnya, Kamis (26/3/2020).

BACA JUGA:

Mulai Hari Ini, RSUD Banten Jadi Pusat Rujukan Pasien Covid-19

RSUD Banten Dipersiapkan untuk Menjadi Rujukan Regional

Ia mengungkapkan, lantaran tak kunjung mendapat kosan akhirnya dia terpaksa pulang pergi dari tempatnya bekerja ke rumahnya. Di sana dia tinggal bersama suami dan dua anaknya. Kondisi ini jelas membuatnya tak nyaman karena khawatir menulari keluarganya.

Dia juga sempat berpikir untuk menggunakan jasa angkutan daring tapi dia merasa tak tega. Alasannya sama, dia tak ingin menulari pengemudi angkutan daring dan penumpang lainnya. Pola kerja yang sesuai standar keamanan pasien infeksius seperti 14 hari kerja, 14 hari karantina dan 14 di rumah hanya tinggal wacana.

“Jujur saya takut menulari keluarga karena harus bolak-balik dengan kendaraan sendiri dari rumah sakit ke rumah bersama keluarga. Apa boleh buat karena tidak ada tempat khusus buat kami. Enggak ada angkutan antar jemput juga buat kami,” katanya.

Diakuinya, kondisi semakin mengkhawatiirkan setelah adanya pengunduran diri massal pegawai kebersihan. Akibatnya, beban kerja tenaga medis bertambah. “Sebelum efektif jadi RS Covid-19, ada sekitar 40 orang mundur kerja. Mereka semuanya tenaga outsourcing. Akibatnya kami yang harus membuang sendiri sampah medis. Dengan APD (Alat Pelindung Diri), bayangkan harus berjalan sampai ke IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah),” ungkapnya.

Terkait hal itu, dia meminta agar Pemprov Banten bisa lebih memerhatikannya, Diharapkan menyediakan fasilitas yang baik sehingga tidak terjadi penularan yang semakin luas. “Kami tidak meminta fasilitas nyaman, tapi kami minta penuhi saja standar keamanan supaya penularan tidak semakin luas,” harapnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan, awalnya saat RSUD Banten dijadikan RS pusat tujukan Corona adalah menggunakan konsep karantina seluruhnya bagi tenaga medis. Akan tetapi, secara teknis ketika sudah ada pemisahan zona infeksius dan non infeksius maka konsep awal yang disiapakan tidak perlu dilakukan.

“Maka tidak perlu melakukan karantina dua bulan pun itu sudah aman. Apalagi selama melaksanakan tugas sudah menggunakan APD secara lengkap,” ujarnya di Kantor Dinkes Provinsi Banten, KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang, kemarin.

Ia menjelaskan, mereka yang ingin tetap melaksanakan isolasi diri setelah melaksanakan tugas, Pemprov telah menyediakan fasilitasnya. Mereka bisa menggunakan bangunan di Pendopo Lama Gubernur Banten di Jalan Brigjen KH Syam’un, Kota Serang. Fasilitas di sana sudah cukup lengkap dan bisa langsung digunakan. Saat ini pihaknya sedang merekap siapa saja yang ingin memanfaatkannya.

“Sampai saat ini, berdasarkan pendataan, ada 121 yg bersedia dikarantina, dimana datangnya ke tempat karantina bergantian berdasarkan shift jaganya di rumah sakit. Kami menyediakan karantina ruangan untuk mereka melaukan isolasi sendiri yaitu sebuah tempat di pendopo lama. Seluruhnya bisa digunakan untuk mereka. Di sana sudah ada tempat tidur AC dan lain sebagainya sudah komplet,” katanya.

Ati juga menjamin, sangat memperhatikan standar operasional prosedur (SOP) saat menjadikan RSUD Banten sebagai RS pusat rujukan Corona. Setiap detail telah dikoordinasikan dengan berbagai lembaga dan juga Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

“Kami tidak sembaragan, kami terus melaksanaan rapat dengan IDI (Ikatan Dokter Indonesia), dengan persatuan RS, dengan beberapa perhimpunan dokter spesialis dan juga Kemenkes. Dari sisi keamanan dan sebagainya sudah sesuai SOP yang ada,” pungkasnya. (Luthfi/Hendra)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.