Siasati Kenaikan Harga Kedelai, Produsen Tahu Tempe di Lebak Kurangi Ukuran

  • Whatsapp
produsen tahu tempe. harga kedelai, lebak, banten, covid-19,
Produsen tahu di Lebak kembali produksi meski harus mengurangi ukuran.

LEBAK, REDAKSI24.COM – Produsen tahu di Kabupaten Lebak, Banten, terpaksa harus mengurangi ukuran hasil produksinya. Cara itu dilakukan agar mereka bisa bertahan ditengah melonjaknya harga kacang kedelai.

Pola itu dilakukan juga agar mereka bisa kembali memproduksi tahu setelah tiga hari terakhir melakukan aksi mogok produksi menyusul terjadi kenaikan harga kedelai di pasaran.

Bacaan Lainnya

“Kami menyiasati produksi diperkecil agar tetap bisa berjualan dan sedikit untung setelah harga kedelai melonjak,” kata Herman, seorang produsen tahu di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Senin (4/1/2021).

Harga kedelai di pasar sejak sepekan terakhir yang cukup mahal membuat produsen tahu terpukul dan terpaksa menghentikan produksi agar pemerintah bisa kembali menyetabilkan harga kedelai.

Sebab, jika harga kedelai itu tidak distabilkan dikhawatirkan para produsen tahu dan tempe terancam gulung tikar. Saat ini, harga kedelai sudah menembus Rp470 ribu dari sebelumnya Rp370 ribu per karung dengan berat 50 kilogram per karung.

“Naiknya cukup tinggi hingga mencapai Rp100 ribu,” katanya.

BACA JUGA: Mogok Produksi, Produsen Tahu Tempe di Lebak Minta Subsidi Kedelai ke Presiden

Ia pun memutar otak agar usahanya berlangsung dan dapat meraup keuntungan dengan memperkecil satuan tahu yang dijual ke konsumen. Apabila produksi tidak diperkecil, kata dia, dipastikan rugi, karena konsumen keberatan jika harga tahu harus dinaikkan.

“Kami bingung jika tidak diperkecil ukurannya dipastikan gulung tikar,” katanya.

Begitu juga Soleh (55), warga Rangkasbitung Kabupaten Lebak mengaku kini mengurangi penjualan yang awalnya satu kemasan dengan isi sebanyak 10 satuan tahu. Namun, kini dikurangi menjadi 8 satuan dengan harga jual sebesar Rp10 ribu.

Selama ini, harga kedelai sebagai bahan baku tahu sudah melonjak yang awalnya Rp7.500 per kilogram kini harganya menjadi Rp 9.000 perkilogram.

“Kami yakin harga kedelai impor tidak akan menurun sehubungan pandemi Covid-19,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak, Dedi Rahmat mengajak produsen tahu dan tempe agar tetap bertahan untuk memproduksi usaha karena kenaikan kedelai tersebut tidak berlangsung lama.

Saat ini, pemerintah telah melakukan intervensi agar harga kedelai kembali stabil sehingga produsen tahu dan tempe kembali memproduksi dan bisa meraup keuntungan.

“Kami sudah melaporkan aksi mogok tahu dan tempe agar cepat ditangani pemerintah pusat dan provinsi,” katanya.(ANT/DIFA)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.