Seni Perang Sun Tzu Melawan Corona

  • Whatsapp
Seni Perang Sun Tzu
Ilustrasi Sun Tzu

Oleh Endang Jp, Pimred Redaksi24.com

REDAKSI24.COM—  “Tahu kekuatan musuh dan tahu kekuatan sendiri, seratus kali perang tidak akan bisa kalah perang” Sun Tzu.

Bacaan Lainnya

Pandemik covid-19 harus segera disudahi. Kita harus berpacu dengan waktu melawannya, lantaran visus Corona atau Covid-19 ini rumit, menyebarnya sangat cepat dan masif, vaksinnya pun belum ada. Jika tidak segera dibendung, maka para ahli kesehatan memprediksi separuh penduduk negeri ini bisa terjangkit, kematian massal pun akan terjadi, dan bencana kemanusiaan tak lagi terhindarkan.

Untuk itu, perang melawan virus yang berasal dari Wuhan China ini diperlukan strategi yang jitu agar dapat segera diatasi, dan kehidupan bangsa ini terhindar dari kehancuran akibat terlambat dan salah dalam mengantisipasinya.

Rasanya ada yang pantas kita petik dari ahli strategi perang klasik untuk melawan ganasnya virus tersebut, melihat mulai kedodorannya pemerintah menghadapi isu pandemik ini.

Adalah Sun Tzu (545 SM-470 SM), seorang Jendral Militer Kekaisaran Tiongkok Kuno. Ahli strategi perang yang telah melahirkan banyak tokoh filosof dan peradaban besar di dunia. Ia juga dikenal sebagai penulis masterpiece “The Art of War”, sebuah stategi militer yang sangat berpengaruh terhadap filosofi Barat dan Timur.

Taktik perang Sun Tzu

Kata Sun Tzu, Tahu kekuatan musuh dan tahu kekuatan sendiri, seratus kali perang tidak akan bisa kalah perang. Jika kebalikannya, maka setiap perang pasti punya risiko menemui bahaya atau bisa kalah perang.
Sun Tzu memberi pesan, kalau mau perang musuh harus diidentifikasi dulu kelebihan dan kelemahannya.

Terkait Ini kan sudah disampaikan berkali-kali oleh para ahli kesehatan, bahwa virus korona baru ini memiliki daya tular yang sangat cepat dan massif lewat transmisi antar manusia, dan segala benda yang tersentuh atau kontak dengan suspect akan menjadi media penularan, seperti gagang pintu, pegangan tangga hingga uang kembalian. Virus ini juga memiliki daya ledak atau blasting penyebarannya sangat tinggi, bisa memapar ratusan ribu bahkan jutaan orang dalam waktu singkat. Namun virus ini punya kelemahan, konon mudah rusak dan mati terkena sabun atau sejenis deterjen lainnya.

BACA JUGA:

Saatnya Menjadi Pahlawan di Rumah

Saatnya Rakyat membutuhkan Pemimpin ‘Setengah Dewa’

Dus bagaimana kekuatan kita, kita bangsa besar, penduduknya banyak, kita punya sumberdaya yang kuat. Kita punya tenaga medis banyak, rumah sakit banyak, dan sumber keuangan besar. Pemerintah pusat punya APBN, daerah punya APBD dengan jumlah ribuan triliun, dan modal sosial kita cukup kuat karena bangsa ini terkenal memiliki gerakan kolektif yaitu jiwa dan semangat gotong royong. Tinggal bagaimana kita mampu menggerakan seluruh sumber daya itu untuk perang melawan virus Corona.

Sun Tzu mengingatkan, apabila ingin menghabiskan lebih banyak musuh, maksudnya menang perang. Maka kita perlu meningkatkan keterampilan perang dan semangat tempurnya. Karena, lanjut Sun Tzu, melancarkan suatu perang besar akan membebani anggaran negara yang besar untuk mengirim logistik ke garis depan, dalam hal ini APD (Alat Pelindung Diri), baju anti virus, dan masker. Juga mingirim kebutuhan hidup seperti sembako sampai ke pintu-pintu rumah warga, agar hidup rakyat tidak menjadi lebih menderita.

Butuh Jenderal Yang Kuat

Untuk perang menghadapi pandemik covid-19 ini diperlukan jenderal yang kuat dan memiliki bakat. Kata Sun Tzu, Jenderal adalah salah satu tiang penyangga pertahanan negara. Bila tiang penyangga kuat, negara akan kuat. Jika tidak, negara akan menjadi lemah.

Nah, yang dimaksud jenderal dalam hal ini adalah para kepala daerah, gubernur, bupati dan walikota yang juga menjadi komandan lapangan untuk berperang menyelamatkan rakyatnya dari ancaman virus mematikan itu.

Menurut Sun Tzu, mereka harus memahami filosofi perang, dan menyadari bahwa merekalah pemegang nasib hidup dan matinya rakyat banyak, sekaligus pemegang kendali kedamaian atau bencana bagi suatu negara.

Kendati demikan, lanjut Sun Tzu, ada tiga hal yang sering dilanggar raja (pemimpin tertinggi negara) terhadap urusan perang. Pertama, sudah tahu pasukan tidak boleh maju, raja malah memberi perintah maju. Tidak mengerti pasukan tidak boleh mundur, raja memberi perintah untuk mundur. Dengan kata lain, tubuh pasukan terikat dan tidak bisa bergerak bebas lagi.

Kemudian, tidak memahami betul pekerjaan internal pasukan tetapi mau memimpin langsung pengelolaan pasukan sehingga para Jenderal dan stafnya menjadi bingung.

Dan terakhir, tidak memahami tubuh dan kekuatan pasukan yang seringkali mengalami perubahan, tetapi raja sering langsung intervensi dengan memberi komando, sehingga Jenderal dan prajurit menjadi serba sangsi dan bingung. Bila terjadi begitu, maka sewaktu-waaktu akan terjadi kemungkinan bahaya bencana invasi datang dari musuh. Inilah yang dinamakan menghancurkan diri sendiri yang membuat musuh mendapatkan kesempatan mencuri kemenangan.

Sun Tzu seolah-olah tahu runyamnya sistim koordinasi di negeri ini, kini para kepala daerah lagi pada kebingungan. Kebijakan pemerintah pusat social distancing, pembatasan aktifitas sosial, dan physical distancing, jaga jarak ternyata tidak efektif dan tanggung untuk membendung sebaran virus korona karena masih tingginya mobilitas warga antar wilayah. Sementara keinginan mereka untuk melakukan karantina wilayah atau istilah kerennya lockdown menutup pergerakan warga secara total tidak mendapat restu pusat.

Terkait ini menurut Sun Tzu, untuk memenangi peperangan setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Diantaranya, atasan dan bawahan punya satu visi dan misi, maksudnya harus kompak agar bisa menang perang. Kemudian Jenderal punya kemampuan memberi komando dalam perang, dan raja tidak mengitervensi ke dalam urusan perang agar bisa menang perang.

Jangan Buang Waktu

Prinsip perang Sun Tzu adalah harus cepat selesai dan memenangkan perang, tidak mengulur waktu terlalu lama berperang karena akan membebani anggaran negara terlalu berat, dan menyengsarakan hidup rakyat banyak.

Maksudnya Sun Tzu, kalau mau perang ya harus direncanakan sesuai standarnya, kalau anggaran negara sudah cukup, pasukan harus mampu segera memenangkan perang. Karena jika waktu perang berlama-lama, dan bertele-tele, anggaran semakin besar, rakyat makin sengsara. Selain itu, stamina dan semangat tempur prajurit juga akan merosot tajam karena perang terlalu lama.

Sekarang kelihatannya kepala daerah atau para Jenderal lapangan itu pun tambah bingung lagi, untuk urusan mudik lebaran pemerintah pusat tidak jelas fatwanya, memberi izin tidak, melarang juga tidak. Akhirnya para jenderal itu dibuat kalang kabut harus berjibaku mengamankan rakyatnya yang pulang kampung. Padahal jelas, untuk memutus mata rantai penularan virus itu yang paling efektif adalah dengan membatasi pergerakan orang, karena menjadi penularnya (carrier).

Sekarang diam di rumah saja terpaksa menjadi pilihan sulit bagi rakyat, dan menjadi dilema. Seolah-olah keluar rumah mati, tinggal di rumah mati, lantaran sudah hampir satu bulan mereka kehilangan mata pecaharian, sementara keluarga harus makan.

Sebenarnya rakyat masih bersedia bertahan dari kesulitan ini, tidak masalah sedikit terlambat asalkan tidak berlarut-larut, dan pemerintah dapat memberikan kepastian kapan kondisi buruk ini akan berakhir. Dan Pemerintah memenangi peperangan.

Seperti dikatakan filosof besar yang hidup pada zaman Sun Tsu yaitu Konfusius (551 SM–479 SM), Ia adalah guru bijaksana yang sangat mengedepankan moralitas. “Tak masalah seberapa lambat Anda berjalan, selama Anda tak pernah berhenti”.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.