Selama 5 Tahun Terakhir, Polhut KLHK Selamatkan Ribuan Hektar Hutan

  • Whatsapp
SPORC
Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Alue Dohong dalam keterngan persnya.

JAKARTA, REDAKSI24.COM– Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong, mengatakan pihaknya melalui Satuan Polisi Hutan Reaksi Cepat (SPORC) selama 5 tahun terakhir berhasil menuntaskan 441 operasi pembalakan liar hutan dengan hasil yang bisa diamankan sebanyak 34.934,82 M3.

Hal tersebut disampaikan pada peringatan hari ulang tahun SPORC di Gedung Manggala Wanabakti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta Selatan, Senin (6/1/2020). Alue menyebut SPORC telah melakukan berbagai upaya dalam mengamankan sumberdaya alam, hutan, kekayaan milik Indonesia.

Bacaan Lainnya

“Menjaga keunggulan komparatif yang kita miliki akan meningkatkan daya saing Indonesia, ini merupakan tugas mulia kita semua”, ujarnya.

Alue mengatakan, Indonesia memiliki kawasan hutan dan keanekaragaman hayati tinggi yang tidak dimiliki negara lain. Hal tersebut menjadi keunggulan bagi bangsa Indonesia sendiri. Ia pun meminta semua pihak untuk turut andil menjaga dan memelihara kawasan hutan dan keanekaragaman hayati Indonesia.

Selain itu, menurut Alue, satuan Polhut juga berhasil menindak 460 operasi perambahan kawasan hutan dengan hasil luas yang bisa diamankan seluas 18.777.295 Ha, 279 operasi tumbuhan dan satwa liar dengan hasil yang bisa diamankan 226.600 ekor satwa dan 12.688 buah bagian tubuh satwa. Serta 731 kasus telah dinyatakan P-21 bersama dengan Kepolisian dan Kejaksaan.

Lebih jauh Alue mengingatkan, SPORC harus tetap meningkatkan kerja kerasnya agar harapan dan kepercayaan publik kepada KLHK semakin meningkat.

“Publik berharap kepada kita untuk dapat menyelesaikan permasalahan kejahatan lingkungan hidup dan kehutanan yang terjadi saat ini. Harapan publik ini harus kita jawab dengan kerja-kerja yang lebih baik dan konsisten”, pintanya.

Menjaga dan mengamankan kawasan hutan Indonesia merupakan pekerjaan yang beresiko tinggi. Untuk itu, Alue meminta seluruh anggota SPORC terus mengembangkan kapasitas dan kemampuan dalam menghadapi berbagai bentuk kejahatan terhadap kawasan hutan.

BACA JUGA:

Tim Gabungan Tutup Penambangan Emas Ilegal di TNGHS

Para pelaku kejahatan di sektor kehutanan, Alue menjelaskan, terus mengembangkan modus operandi bahkan dengan melibatkan jaringan kejahatan antar negara. Para pelaku kejahatan ingin mendapatkan keuntungan finansial yang lebih besar sehingga mereka akan menggunakan berbagai cara untuk melindungi kejahatan yang mereka lakukan, termasuk melawan aparat penegakan hukum.

“Untuk melawan pelaku kejahatan seperti ini, maka aparatur penegak hukum harus menjadi pembelajar agar dapat menjadi lebih cerdas, lebih kuat secara individu dan jaringan, serta menguasai teknologi,” pungkas Alue. (Alfin/Aan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.