Lebak Optimis Bisa Bebas dari Merkuri

  • Whatsapp
Sekda Lebak Dede Dede Jaelani pada Rakor Rencana Aksi Daerah (RAD) pengurangan dan penghapusan Merkuri tahun 2019 di Gedung Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Rangkasbitung, Kamis (8/8/2019).

REDAKSI24.COM – Pertambangan emas skala kecil (Pesk) menjadi sektor usaha cukup banyak dilakukan warga Kabupaten Lebak, Banten. Kondisi itu tidak bisa dihilangkan dari sejarah kegiatan pertambangan yang telah dimulai sejak 1900 silam.

“Desa Cikotok di Kecamatan Cibeber salah satu penghasil emas di Kabupaten Lebak,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lebak, Dede Jaelani  pada Rakor Rencana Aksi Daerah (RAD) pengurangan dan penghapusan Merkuri tahun 2019 di Gedung Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Rangkasbitung, Kamis (8/8/2019).

Bacaan Lainnya

Rakor membahas tentang Ekspose Hasil Kajian Inventarisasi penggunaan merkuri pada pertambangan emas skala kecil (Pesk) yang dilakukan warga penambang di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak.

Sekda menyebut, tambang emas Cikotok merupakan tambang tertua di kawasan Asia Tenggara, yang dimulai sejak zaman penjajahan Belanda. Dari sejarahnya, kata dia, penambangan emas Cikotok dimulai sejak tahun 1839, yang kemudian perusahaan asal Belanda melakukan eksploitasi besar-besarn pada 1936.

Ia menambahkan, sejak tanggal 5 Juli 1968 tambang emas Cikotok dikelola PN Aneka Tambang yang berubah menjadi PT Aneka Tambang. Saat ini pertambangan telah berhenti beroperasi. Asetnya telah dihibahkan kepada Pemkab Lebak.

“Namun, ketika PT Aneka Tambang tidak beroperasi lagi, tidak berarti aktivitas pertambangan emas berhenti. Aktivitas tetap ada, dilakukan warga, yang telah dikenal sebagai Pesk,” tegas Dede.

Dia menyebut, pertambangan emas sistem gulundung beresiko terhadap pencemaran lingkungan oleh logam berat, terutama merkuri. Paparan itu dapat dapat memengaruhi kesehatan masyarakat di sekitar Pesk.

Sejak 2013 hingga 2018,  sejumlah instansi pemerintah serta lembaga swadaya masyarakat melakukan penelitian terkait pencemaran merkuri di Kabupaten Lebak. Salah satu penelitian dilakukan Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) yang menunjukkan telah terjadi paparan merkuri pada lingkungan dan manusia.

Pada tahun 2016 dan 2018, dilakukannya penelitian kandungan beras di kawasan Pesk. Hasilnya 100% sampel beras dari 31 sampel di 25 kecamatan di 11 desa di Bayah, menunjukkan terjadinya paparan merkuri melebihi baku mutu yang diperbolehkan.

“Kandungan merkuri tinggi terjadi pada sedimen sungai yang berkorelasi pada ikan yang terdapat di dalamnya. Ini yang perlu diwaspadai karena mengingat akumulasi HG dalam jangka waktu panjang dapat membentuk senyawa methymercury yang bersifat racun dan akumulatif, bila masuk melewati rantai makanan dan terakumulasi dalam tubuh manusia,” jelas Dede.

Menurut Dede, Pemkab Lebak telah merespon kondisi itu dengan membentuk rencana aksi daerah (RAD) pengurangan dan penghapusan merkuri pada sektor Pesk tahun 2017 hingga 2020, yang tertuang dalam keputusan Bupati Lebak nomor 660/KEP.573-LH/2017.

“RAD pengurangan dan penghapusan merkuri menjadi komitmen kami dalam mewujudkan Lebak sehat yang bebas merkuri,” tandasnya.(Yusuf/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.