Sekda Kota Serang: Tegaskan Kerjasama Penanganan Sampah Dengan Tangsel Harus Saling Menguntungkan

Sekda Kota Serang Nanang Saefudin.

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Sekertaris Daerah (Sekda) Kota Serang, Nanang Saefudin menegaskan prinsip utama dari rencana kerjasama pengelolaan sampah dengan Kota Tangsel bukan hanya untuk pemasukan Pendapatan Asli Daerah (PAD) saja. menurut Nanang, kerjasama tersebut harus bersifat simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan.

“Tangsel saudara kita kesulitan di dalam penanganan sampah, di sisi lain kita ada tempat, tapi kita ada kesulitan di dalam penganggaran untuk membackup masalah sampah, jadi sifatnya simbiosis mutualisme saling menguntungkan satu dengan yang lain,” terangnya.

Bacaan Lainnya

“Bukan semata-mata PAD, berpikirnya bukan profit oriented, tapi social oriented. Tapi yang paling penting saat menangani sampah jangan sampai nanti masyarakat, ngurus sampah dewek saja ga mampu, apalagi ngurus sampah orang,” sambung Nanang.

Kerjasama tersebut nantinya, kata Nanang, ditinjau setiap 1 tahun sekali. Jadi tidak langgeng. Kalau Tangsel sudah punya TPSA sendiri silahkan untuk diakhiri nantinya.

“Nanti kan sampah datang ke kita, lalu masyarakat mendapatkan apa, kesehatannya harus terjamin dong, nah uang dari Tangsel nanti berikan BPJS kesehatan, bantuan apalagi yang sifatnya pemberdayaan,” ungkapnya.

Soal pengelolaan sampah nantinya mau dijadikan apa, secara teknis ada di Dinas Lingkungan Hidup (DLH), kata Nanang, yang jelas bisa dijadikan pupuk kompos, bio inspektan. Intinya tidak semerta-merta hanya membuang sampah saja Tangsel ke Kota Serang.

“Secara teknis LH nanti ada bekerjasama dengan pihak ketiga, mengelola sampah bisa menjadi pupuk kompos, bio inspektan. Tidak hanya membuang sampah,” tuturnya.

Nanang menambahkan rencana kerjasama pengelolaan ratusan ton sampah oleh Kota Serang dari Kota Tangsel sendiri saat ini masih dalam tahapan penyusunan draf. Draf tersebut salah satunya mengatur tentang mekanisme kerjasama antara Pemkot Serang dan Tangsel dalam pengelolaan sampah.  

“Jadi ini baru tahapan penyusunan draf. Kan nanti di Permen 22 tahun 2020 nanti tentang kerjasama antar daerah itu dijelaskan mekanismenya,” katanya.

Draf itu nantinya, sambung Nanang, ditandatangani oleh kepala daerah yaitu Wali Kota Serang dan Tangsel. MOU itu belum mengikat, artinya belum ada hak dan kewajiban.

“MOU baru ibarat seorang pasangan baru lirik-lirikan. Nah MOU itu nanti dilampirkan dengan draft perjanjian kerjasama. Kita sampaikan ke dewan, apakah mendapat persetujuan atau tidak. Begitu pun Tangsel juga MOU nya dilampirkan draf PKS nya, dia juga minta persetujuan ke dewan dia karena dia mau mengeluarkan uang,” imbuhnya.

Nanang melanjutkan, 

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Serang, Ipiyanto mengungkapkan Kota Serang menjadi penampung sampah itu merupakan kerjasama antara Kota Serang dengan Tangsel pada 2021 ini.

Kota Serang menjadi tempat penampung sampah 400 ton per hari dari Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Sampah tersebut disimpan di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Cilowong, Kecamatan Taktakan.

Kerjasama tersebut yaitu pengelolaan sampah yang rencana realisasinya bulan Maret 2021. Namun DLH saat ini sedang melakukan kajian-kajian soal kerjasama tersebut.

“Mudah-mudahan Maret itu sudah dapat direalisasikan kerjasama itu, kajian itu dilakukan oleh kami (Dinas Lingkungan Hidup Kota Serang), artinya kajian yang kami lakukan itu kemarin itu masalah daya tampung dari TPA itu sendiri,” ungkapnya.

Hasil kajian DLH kondisi Cilowong memungkinkan menampung sampah dari Tangsel itu. Yang paling penting, kata Ipiyanto, bukan soal penampungan sampah, tapi pengelolaan dan penanganan sampah.

“Kalau hanya dibuang saja jelas siapapun orangnya dan dimanapun tempatnya tidak akan mampu, tidak hanya membuang tetapi kita mempunyai hal-hal yang lain terkait masalah penanganan dan bagaimana mengelola sampahnya. Sehingga TPA kedapan ini insyaallah akan ditata lebih baik lagi,” terangnya.

Jumlah sampah yang akan dikirim Tangsel, dikatakan Ipiyanto, per hari 400 ton. Minimalnya, kata dia, sampah organik. Intinya ke Kota Serang bukan hanya membuang sampah, tapi pengelolaan sampah.

“Jumlah sampahnya kurang lebih 400 ton per hari, ya minimalkan sampah organik, tetapi kalau di lakukan sortir di Tangsel ya kemungkinan akan agak kerepotan yang paling penting dan harus di garis bawahi tidak membuang limbah sampah lalu ditinggal,” ungkapnya.

Pihaknya juga berharap, kerjasama dengan Tangsel itu berjalan 5 tahun kedepan. Tapi untuk sementara 3 tahun terlebih dahulu, kemudian setelah 3 tahun itu akan dilakukan evaluasi dilanjut atau tidak.

“Harapannya itu 5 tahun, tapi untuk sementara ini kita buat 3 tahun dulu dan kita akan lakukan evaluasi setelah 3 tahun itu. Kontraknya itu Rp. 48 miliar,” tandasnya.(Adi/Hendra)

Pos terkait