Sekali Tes Swab di RSKM Kota Cilegon Pasien Bayar Rp2.299.000

  • Whatsapp
tes swab RSKM Kota cilegon
RSKM Kota Cilegon mengakui pasang tarif tes swab sebesar Rp2.299.000.

KOTA CILEGON, REDAKSI24.COM – Manajemen Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Kota Cilegon, Banten, mengakui memasang tarif tes swab bagi pasien suspect Covid-19 sebesar Rp2.299.000. Tarif sebesar itu berlaku bagi satu pasien untuk sekali menjalani tes swab.

“Ya tarif (tes swab) kami memang segitu (Rp2.299.000). Apa yang harus dijelaskan lagi?” demikian diakui Kepala Bagian (Kabag) Humas RSKM Kota Cilegon, Agus Wirawan kepada Redaksi24.com, Senin (13/7/2020).

Bacaan Lainnya

Pengakuan Agus Wirawan menyusul beredarnya selebaran mengenai besaran tarif tes swab covid-19 di sejumlah rumah sakit, termasuk RSKM melalui media sosial (Medsos). Dalam selebaran itu tercantum tarif sekali tes swab di RSKM  sebesar Rp2.299.000.

Agus Wirawan menyebut,  setiap rumah sakit di seluruh Indonesia bervariasi dalam menetapkan tarif tes swab bagi pasiennya. Tarifnya, kata dia, mulai dari Rp1.500.000 sampai yang menyentuh angka Rp7.000.000.

“Kami tidak bisa bandingkan dengan (tarif tes swab) rumah sakit lain, karena mereka punya standar tarif sendiri,” kata Agus Wirawan.

BACA JUGA: Covid-19 Belum Berakhir, Pasukan 17 dan 45 HUT RI Kota Cilegon Ditiadakan

Agus juga menyebut, tarif tes swab yang diberlakukan pada masing-masing rumah sakit tidak bisa disamaratakan. Pasalnya, kata dia, masing-masing rumah sakit memiliki kemampuan operasional yang berbeda.

“Ya sama, RSKM juga begitu, memasang tarif standar rumah sakit. Itu berdasarkan berbagai komponen, jadi tidak bisa digeneralisir,” jelasnya.

Agus menambahkan, pihaknya juga tidak membedakan status pasien yang hendak melakukan tes swab di RSKM. “Jika ada warga perlu tes swab, ya kami tes swab, tidak kami bedakan, semua pasien dengan indikasi covid, kami lakukan tes swab dengan tarif yang sama,” akunya.

Namun ketika ditanya berapa jumlah warga yang telah melakukan tes swab di RSKM Kota Cilegon, Agus enggan merincinya dengan dalih sebagai rekam medis yang sifatnya personal yang tidak untuk dipublikasikan.

“Saya belum pegang data validnya, karena itu ada di tim Covid-19. Pokoknya sudah banyak, tapi angka pastinya tidak bisa kami sampaikan, karena itu data internal,” tandasnya.(Firasat/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.