Sejarah Komunis Bukan Saja Lewat Film G30S/PKI

  • Whatsapp
PPD Cilegon bedah buku
Ketua Pemuda Dewan Dakwah Cilegon, Lukman Hakim bersama Penulis buku "Dari Kata Menjadi Senjata" Beggy Rizkiyansyah.

CILEGON, REDAKSI24.COM – Pemuda Dewan Da’wah (PDD) Kota Cilegon, Banten menggelar diskusi dan bedah buku “Dari Kata Menjadi Senjata” di Aula 3 Islamic Center, Kota Cilegon, Banten. Minggu (20/10/2019).

Ketua PDD Cilegon, Lukman Hakim mengatakan, acara ini digelar untuk mengingatkan generasi muda akan sejarah masa lalu, terutama sejarah tahun 1965. Sebab sejarah tahun itu, menurut dia, mulai hilang dari ingatan generasi milenial saat ini, terlebih bagi generasi 1990.

Bacaan Lainnya

Lukman Hakim mengatakan, pihaknya ingin merawat ingatan setiap generasi atas perjalanan sejarah bangsa. Dia berharap bisa memupuk kembali generasi dengan membaca dan menulis, terutama kegiatan literasi sehingga terbiasa menuntut ilmu.

“Tagline Dewan Dakwah dari dulu sampai sekarang, selamatkan Indonesia dengan dakwah Islamiyah dengan tuntutan Qur’an dan sunnah, salah satunya akan menyisir generasi mudanya dengan pola, tema, mendekatkan mereka langsung dengan kepemudaan dan milenial, jadi tujuannya selamatkan Indonesia dengan dakwah,” jelasnya.

BACA JUGA:

. Konfrontasi PKI dan Umat Islam Bakal Dibedah di Cilegon

. Membedah Teks “Dan Badai Menjadi Kekasihku” Gan-Gan R.A: Jejak Hasrat dan Pintu Sepi (Bagian 1)

. Membedah Teks “Dan Badai Menjadi Kekasihku” Gan-Gan R.A: Jejak Hasrat dan Pintu Sepi (Bagian 2-Penutup)

Penulis buku “Dari Kata Menjadi Senjata” yang juga merupakan narasumber dalam kegiatan itu, Beggy Rizkiyansyah mengungkapkan, selain buku ini, ada juga versi umat Islam lain. ” NU pernah nulis benturan NU dan PKI tapi dalam batas tertentu, bahasanya hanya konflik, tapi tidak membahas politik kontestuante atau pemilu,” ujarnya.

Pesan buku “Dari Kata Menjadi Senjata”, imbuh Beggy, melihat sejarah komunis di Indonesia dari awal sampai dampaknya. Pertama melihat sejarah komunis di Indonesia secara luas dari awal sampai akhir dari dampaknya, terutama melihat hikmahnya dari buku ini,” imbuh Beggy.

Beggy Rizkyansyah melanjutkan, masyarakat hanya disuguhkan film peristiwa G30S/PKI yang menampilkan kekejaman PKI. Namun tidak mengambil siapa saksinya. Ahirnya, dia mengimbil pengarsipan dari para saksi hidup peristiwa tersebut sehingga buku ini lahir.

“Mengajak berpikir tentang awal mula muncul dan perjalanan komunis khususnya di Indonesia. Berawal dari sosok Samaoen yang merupakan murid seorang komunis dan mulai masuk ke Sarikat Islam,” lanjutnya.

Ketika itu, kata dia, PKI tidak hanya menggunakan senjata yang menjadi lambang benderanya saja, palu dan arit. “Para pemuda dan buruh tani dibuatkan organisasi yang di kemudian hari melakukan aksi sepihak mengambil tanah warga. Para perempuannya dan budayawan juga dibuatkan organisasi yang di kemudian hari menggelar kesenian rakyat. Judulnya begitu menyinggung hati kaum muslimin, yaitu  “Matine Gusti Allah,” paparnya.

Lebih jauh Beggy menjelaskan, judul buku “Dari Kata Menjadi Senjata” merupakan salah satu isi dari sub bab di dalam buku. Kaum komunis juga memanfaatkan pers, seperti koran “Harian Rakyat” yang isinya para penulis mereka.

“Lewat tulisannya, mereka melakukan fitnah kepada Buya Hamka. Lewat tulisannya pula mereka menyebarkan ideologi komunis kepada para pembaca,” papar Beggy.

Masyarakat harus bisa mengambil hikmah dari sejarah masa lalu. Dikatakan Beggy, selanjutnya kembali kepada literasi, Islam harus memulai menulis lagi sejarah yang ditulis oleh mereka bukan oleh orang lain.

“Harapannya buku ini bisa mengisi dan menjadi alternatif bacaan versi umat Islam,” tegasnya.(Adi/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.