Sebatang Bambu Selamatkan Acuy dan Wawan dari Gelombang Selat Sunda

  • Whatsapp
nelayan pandeglang
Juhedi alias Acuy menceritakan peristiwa terbaliknya kapal Puspita Jaya di Perairan Selat Sunda.

PANDEGLANG, REDAKSI24.COM – Dua dari 16 orang nelayan asal Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, Juhedi alias Acuy dan Wawan selamat dari peristiwa kecelakaan (laka) laut. Keduanya selamat setelah berpegangan menggunakan sebatang bambu berukuran sekitar 2 meter.

Keduanya nelayan naas itu terombang ambing di laut menggunakan sebatang bambu setelah Kapal KM Puspita Jaya yang ditumpanginya terbalik akibat dihantam gelombang di Perairan Selat Sunda, pada Kamis (18/6/2020).

Bacaan Lainnya

Juhedi, menceritakan, dia bersama satu orang temannya, selama satu hari satu malam terombang ambing di tengah laut antara Pulau Rakata dan Panaitan hanya dengan menggunakan sebatang bambu. Setelah itu, ia ditolong nelayan asal Carita yang hendak memancing ikan.

“Alhamdulillah saya masih dilindungi yang Maka Kuasa (Allah SWT), dan bisa selamat dari bencana itu,” ungkap Juhedi saat ditemui di kediamannya Kampung Makui, Desa Kalanganyar, Kecamatan Labuan, Pandeglang, Minggu (21/6/2020).

Saat perahu yang ditumpanginya terbalik, kata dia, semua anak buah kapal (ABK) dan Nahkoda masih berkumpul di perahu dan sempat diskusi bagimana cara menyelamatkan diri. Keesokan harinya, mereka memutuskan untuk menyelamatkan diri dengan cara berenang menuju Pulau Panaitan.

“Namun karena ombak laut kencang akhirnya kami terpisah dengan yang lainnya. Saya bersama Wawan menggunakan bambu, dan teman-teman saya yang lain menggunakan alat pelampung yang lain,” katanya.

Diceritakannya lagi, saat berenang menuju Pulau Panaitan, ke 6 temannya yang lebih dulu diselamatkan itu, karena mereka kembali lagi ke kapal. Sebab ada sebagian nelayan yang tidak bisa berenang. Ia pun juga awalnya mencoba untuk balik lagi ke kapal, tapi karena arus gelombang cukup kencang akhirnya tidak sampai dan terombang-ambing di laut.

“Setelah satu hari satu malam di atas laut dengan menggunakan sebatang bamboo, tiba-tiba ada perahu nelayan yang melintas. Kami diselamatkan dan ternyata di perahu itu sudah ada satu teman saya yang diselamatkan,” tuturnya.

Mengenai 7 temannya yang hingga saat ini belum ditemukan, Juhedi mengaku mereka terpencar jauh darinya. “Kalau teman saya yang 7 orang itu sudah jauh terbawa arus ombak. Mudah-mudahan mereka selamat,” ujarnya.

Saat ditanya apa saja yang dilakukan selama di atas laut dengan menggunakan bambu, Juhedi mengaku, bersama rekannya, Wawan, sudah merasa pasrah. Terlebih melihat kondisi gelombang besar dan minimnya alat yang digunakan, mereka merasa tidak akan selamat.

Tapi, kata dia, Allah masih sayang kepada dirinya dan temannya, sehingga mengirim nelayan lain untuk menolongnya dari bencana tersebut. “Selama di laut kami tidak makan apa-apa. Saat laparpun kami hanya minum air laut. Sebab apa yang bisa kami makan di tengah laut,” ujarnya.

Saat ditanya lagi, bagaimana kondisi kesehatannya saat ini, ayah dua orang anak itu mengaku, dalam mkondisi sehat. Hanya saja mengalami luka lecet akibat benturan dari batang bambu yang dijadikannya sebagai alat pelampung.

“Alhamdulillah sehat, hanya lecet sedikit pada bagian kaki dan perut dan sudah diobati,” katanya lagi.

Ketika ditanya lagi, apakah punya perasaan yang beda atau sempat bermimpi sebelum terjadinya kecelakaan laut, ia mengaku tidak merasakan firasat apa-apa, bahkan tidak bermimpi apapun yang menyiratkan akan terjadinya kecelakaan laut tersebut.

“Saya hampir 7 tahun menjadi nelayan dan baru kali ini alami kecelakaan di laut. Alhamdulillah saya selamat,” imbuhnya.

Sementara, Imas istri korban mengaku mendapatkan informasi suaminya kecelakaan di laut dari tetangganya. Awalnya ia tidak percaya, tapi pada saat tetangganya itu memperlihatkan foto kecelakaan kapal, ia langsung kaget dan menangis.

“Tiap hari tiap sebelum suami saya ditemukan saya berdo’a. Tidak enak makan dan tidak biaa tidur. Alhamdulillah sekarang suami saya sudah selamat dan kami bisa kumpul lagi,” tandasnya. (Samsul Fathoni/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.