Sanitasi Buruk Jadi Penyebab Stunting di Kabupaten Tangerang

  • Whatsapp
Kampanye pencegahan stunting.

REDAKSI24.COM – Sanitasi yang buruk menjadi salah satu penyebab kasus stunting atau terganggunya pertumbuhan tubuh seseorang karena kekurangan asupan makanan bergizi di Kabupaten Tangerang.

Berdasarkan data nasional hasil Riset Kesehatan Daerah (Riskesda) yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, sepanjang tahun 2018,  sebanyak 23,8 % anak di bawah usia lima tahun (Balita) dan 19,2 % anak dibawah usia dua tahun (Baduta), di Kabupaten Tangerang mengalami stunting atau kegagalan pertumbuhan.

Bacaan Lainnya

Kepala Seksi Bidang Gizi Dinkes Kabupaten Tangerang, Kusnadi kepada wartawan Selasa (3/9/2019) menjelaskan, faktor lingkungan terutama kondisi sanitasi yang buruk menjadi salah satu faktor utama penyebab seseorang mengalami stunting.

Menurutnya, kondisi sanitasi yang tidak bagus akan mengakibatkan infeksi, seperti diare. Jika infeksi tersebut terjadi secara terus menerus, kata dia, dapat menyebabkan terganggunya penyerapan makanan, baik bagi anak maupun pada ibu hamil.

“Kalau penyerapan makanannya terganggu, nafsu makannya pun nggak bagus, kalau itu terjadi secara terus menerus berat badannya akan rendah, turun, inilah yang menjadi salah satu penyebab stunting,” jelasnya.

BACA JUGA:

. Wah, Kasus Stunting Pandeglang Tertinggi di Banten

. Rumah Desa Sehat Dinilai Bisa Tekan Kasus Stunting

. Lebak Jadi Lokus Penanganan Stunting

Maka dari itu, sambung dia, penanggulangan stunting tidak bisa hanya diintervensi dinas kesehatan, tetapi harus ditanggulangi melalui lintas program dan lintas sektor. Kata dia, dalam upaya menekan angka kasus stunting, pihaknya hanya bisa melakukan melalui intervensi sensitifnya, seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT), terutama pada ibu hamil yang beresiko melahirkan bayi berpotensi stunting.

“Untuk intervensi spesifiknya siapa? sekarang soal air bersihnya siapa? Faktor ekonomi kemiskinan siapa? Apakah dinas kesehatan juga? Nggak kan? ” kata Kusnadi.

Dalam upaya menekan angka stunting, Pemkab Tangerang berencana menerbitkan Peraturan Bupati (Perbup) tentang penanggulangan stunting hingga tahun 2020. Terlebih, pada tahun depan, kata dia, Kabupaten Tangerang dan Serang akan menjadi lokus nasional dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting.

“Jadi nanti penanggulangannya itu ada di Bappeda juga, jadi siapa yang berbuat apa, stunting itu bukan cuma memberikan PMT sebanyak-banyaknya terus dia menjadi tinggi, nggak! ” katanya.

Ia menambahkan, kasus stunting di Kabupaten Tangerang, paling banyak ditemukan di kawasan Pantura yang rata-rata kondisi sanitasinya masih buruk. Meski demkian, lanjut dia, kasus stunting Kabupaten Tangerang masih rendah dibandingkan Pandeglang yang mencapai 40 persen.

“Kami himbau beberapa Puskesmas punya konseling gizi untuk ibu hamil. Kader kami juga mengunjungi para ibu hamil yang beresiko memiliki anak stunting,” tandasnya.(Ricky/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.