Sanik, Milenial Asal Kabupaten Serang Cetak 2 Karya Buku

  • Whatsapp
penulis
Sanik, penulis buku.

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Kisah inspiratif datang dari seorang milenial asal Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, Banten, bernama Sanik (23). Dia memiliki nama pena Sanikradufatih yang kini telah mencetak 2 karya buku.

Hobi yang ditekuninya menjadi jalan untuk berbagi dengan sesama. Alumni Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten Serang itu, memberikan 50 persen benefit dari hasil penjualan buku hasil karyanya untuk anak yatim dan kaum dhuafa.

Bacaan Lainnya

“Sejak tahun 2014 saya belajar di komunitas rumah dunia dibimbing Golagong di Kota Serang,” kata Sanik kepada Redaksi24.com, Senin (4/5/2020).

Proses kreatifnya dalam menulis didapatkan dari pengalaman pribadinya belajar dari Komunitas Rumah Dunia Golagong, hingga mengantarkannya ke Negara Singapura, Bali dan Surabaya untuk mengikuti belajar menulis dan kompetisi tingkat nasional.

“Yang menginspirasi saya dalam menulis pertama ingin membanggakan ibu, ingin berbagi tips dan cara membangun step by step mimpi ataupun goals,” imbuhnya.

Saat ini Sanik memiliki dua karya buku. Buku pertama berjudul Sebuah Seni Mengubah Kata-Kata Menjadi Nyata dan buku kedua berjudul Cosmic Dance. Buku Seni Mengubah Kata Kata Menjadi Nyata, sambung Sanik, adalah tentang tips menggapai cita-cita atau goals.

“Intinya lebih membangun konsistensi terhadap mimpi yang dicita-citakan, Dalam buku tersebut saya tulis sebenarnya kegagalan itu jarang tercapai karena konsistensi seseorang yang tidak fokus,” jelasnya.

Sedangkan buku berjudul Cosmik Dance, menurut Sanik, yaitu berisi tentang nilai-nilai humanis yang dibalut dengan bahasa sastra. “Intinya isinya bagaimana cinta itu menjadi obat. Jadi bagiamana memiliki cinta yang sehat,” ungkapnya.

BACA JUGA:

. Pemkab Serang Akan Gencarkan Budaya Literasi Hingga Tingkat RT

. Sanggar Raksa Budaya Bawa Kota Serang ke Panggung Internasional

Sanggar Raksa Budaya Bawa Kota Serang ke Panggung Internasional

Kedua bukunya tersebut diterbitkan dengan penerbit indie. Artinya, kata dia, hak si penulis menjual sendiri hasil karyanya. Hal tersebut, sambung Sanik, agar bisa menyumbangkan hasil penjualan kepada anak yatim dan dhuafa.

“Pertama saya kenal dengan penerbit lokal akhirnya ada pilihan kemudian saya mengambil penerbit indie, artinya buku ini kita sendiri yang jual. Alhamdulilah tinggi penjualannya,” ungkap Sanik.

Sanik berharap karya-karyanya tersebut dapat dinikmati masyarakat untuk mengdongkrak minat baca yang kian hari menurun. Pihaknya juga mengajak kaum muda untuk memiliki karya. Sebab banyak peluang untuk para milenial menuangkan karyanya.

“Berkaryalah selagi muda, agar bisa menjadi inspirasi dan motivasi penggerak untuk terus berkarya,” tandasnya.(Adi/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.