Sambangi Dewan, Presidium Kota Tangerang Tengah Dinilai Gagal Paham Pemekaran Daerah

oleh -
Sambangi Dewan, Presidium Kota Tangerang Tengah Dinilai Gagal Paham Pemekaran Daerah
Ketua Tim Kajian BPP-KTT  Dr Hidayat Muchtar saat menyampaikan aspirasinya kepada DPRD Kabupaten Tangerang, Senin (14/2/2022) mengatakan, dari aspek potensi pendapatan asli daerah (PAD) dan infrastruktur, Tangerang Tengah  sudah layak untuk dimekarkan dari Kabupaten Tangerang.

KABUPATEN TANGERANG, REDAKSI24.COM – Para penggiat Presidium Badan Persiapan Pembentukan Kota Tangerang Tengah (BPP KTT) nampaknya belum memahami makna dasar dari wacana pemekaran daerah di Kabupaten Tangerang.

Ketika ditanya wartawan mengenai dasar aspirasi Pembentukan Kota Tangerang Tengah, mereka terkesan hanya menjadikan kawasan gemerlap yang diciptakan sejumlah pengembang di Kecamatan Cisauk, Pagedangan, atau Kelapa Dua, sebagai parameternya.

“Perkembangan pembangunan di Sumarecon dan BSD, sangat pesat, dan sudah menjadi kawasan perkotaan, sudah layak untuk menjadi kota sendiri, terpisah dari Kabupaten Tangerang,” demikian diutarakan para penggiat BPP KTT kepada wartawan usai menyampaikan aspirasinya ke DPRD Kabupaten Tangerang, Senin (14/2/2022).

Ketua Tim Kajian BPP-KTT  Dr Hidayat Muchtar mengatakan, dari aspek potensi pendapatan asli daerah (PAD) dan infrastruktur, Tangerang Tengah  sudah layak untuk dimekarkan dari Kabupaten Tangerang.

Dia memproyeksikan ada 6 kecamatan yang layak masuk dalam bagian Kota Tangerang Tengah, diantaranya Kecamatan Cisauk, Pagedangan, Kelapa Dua, Legok, Curug, dan Panongan. Namun sayangnya, Doktor yang disebut-sebut telah melanglang ke 40 negara Eropa tersebut, tidak bisa menggambarkan potensi PAD yang nantinya bisa menjadi andalan bagi Kota Tangerang Tengah.

“Kami sedang kaji ke arah itu,” sergahnya.

BACA JUGA: BPP-KTT Klaim Deklarasi Kota Baru Tangerang Tengah Keinginan Masyarakat Kearah Lebih Baik

Kesan masih kurangnya memahami makna dasar dari wacana pemekaran daerah juga muncul dari pernyataan penggiat BPPKTT lainnya, Stefanus. Menurut dia, Tangerang Tengah layak dimekarkan lebih dikarenakan gaya hidup masyarakatnya yang sudah modern.

“Banyak kaum urban yang tinggal di BSD dan Sumarecon sudah bergaya hidup perkotaan, tidak pantas sepertinya jika masih disebut tinggal di desa,” begitu kata Stefanus menanggapi pertanyaan wartawan yang menanyakan mengapa BPPKTT dalam aspirasinya lebih memilih status Kota bukan Kabupaten Tangerang Tengah.

Dari pernyataan itu saja, para penggiat BPPKT dinilai telah gagal paham terhadap parameter dari pemekaran Kota Tangerang Tengah itu sendiri. Disebut gagal paham lantaran mereka lebih mengenal nama atau lebih melihat kaum urban di kawasan gemerlap ciptaan pengembang, bukan nama atau kebutuhan dasar warganya yang tinggal di pedesaan.

Mereka terkesan lebih melihat infrastuktur atau utilitas yang telah dibangun pengembang di kawasan BSD atau Sumarecon. Sebaliknya mereka justru terkesan mengaburkan infrastruktur atau utilitas apa saja yang masih dibutuhkan warga di balik tembok berlin pembatas antara kawasan gemerlap dengan pemukiman pedesaan tersebut.

BACA JUGA: Wacana Pembentukan Kota Tangerang Tengah Terus Menguat

Bahkan, mereka memperluas cakupannya dengan mengklaim Kecamatan Panongan juga layak masuk dalam bagian daerah pemekaran Kota Tangerang Tengah. Jadi menurut BPPKTT, Kota Tangerang Tengah kini terdiri dari enam kecamatan, yakni Cisauk, Pagedangan, Kelapa Dua, Curug, Legok dan Panongan.

“Ini yang menimbulkan kesan aspirasi pembentukan Kota Tangerang Tengah cuma titipan pihak-pihak tertentu yang telah memaksa warga terusir dari desanya dengan dalih pengembangan pemukiman,” cetus seorang warga Pagedangan.

Dia menilai, “pencaplokan” Kecamatan Panongan oleh BPPKTT ke dalam wacana pembentukan Kota Tangerang Tengah, telah melencengkan makna dasar pada blue print atau cetak biru yang pernah dibuat Bupati Tangerang Ismet Iskandar saat menggaungkan wacana Provinsi Tangerang Raya beberapa tahun silam.

Kala itu, Bupati Tangerang Ismet Iskandar sengaja memekarkan Kecamatan Curug dengan membentuk Kecamatan Kelapa Dua. Maksudnya, untuk memudahkan pemetaan dalam mewacanakan pemekaran daerah selanjutnya, setelah sejumlah kecamatan sebelumnya juga telah masuk atau menjadi bagian dari Kota Tangerang Selatan.

Pertanyaannya, BPPKTT itu memegang blue print yang telah dibuat Bupati Tangerang Ismet Iskandar atau tidak dalam kegiatan sosialisasi pembentukan Kota Tangerang Tengah? Lantas apa dasar mereka memasukan Panongan ke dalam bagian Kota Tangerang Tengah?

“Kayaknya BPPKTT masih harus banyak mencari tahu tujuan dasar dari wacana pembentukan Kota Tangerang Tengah, jangan asal klaim layak hanya dengan melihat gemerlap BSD atau Sumareconnya hingga sangat kental nuansa politisnya. Belajarlah dari pembentukan Kota Tangerang Selatan yang awalnya juga mencaplok Pagedangan dan Cisauk,” ungkap seorang warga Pagedangan lainnya menanggapi pernyataan para penggiat BPPKTT tersebut.

Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Tangerang, Kholid Ismail mengakui telah menerima aspirasi pembentukan Kota Tangerang Tengah dari BPPKTT. Menurut Kholid, sejak 2018 Pemkab Tangerang telah mengalokasikan anggaran untuk menindaklanjuti wacana pemekaran daerah Kabupaten Tangerang.

“Besarnya sekitar 1 miliar (Rupiah), digunakan untuk kajian pembentukan Kota Tangerang Tengah dan Tangerang Utara,” tandas Kholid didampingi Ketua Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Tangerang, Akmal Nugraha saat menerima aspirasi BPPKT di Ruang Rapat Gabungan Gedung Dewan di Tigaraksa.(Difa)

No More Posts Available.

No more pages to load.