Saat Beladiri Pencak Silat dan Seni Dongkrek Tertuang Dalam Batik Khas Madiun

oleh -
Batik Khas madiun

MADIUN,REDAKSI24.COM–Bagaimana jadinya manakala seni bela diri pencak silat diimplementasikan secara pointilisme, menjadi lembaran kain bermotif batik nan indah menawan hati. Kian mempesona saja kiranya, jika seni musik tradisional ‘Dongkrek’ turut mewarnai mozaik batik tersebut.

Kedua jenis kultur kesenian tersebut, pencak silat dengan sebutan lengkap Pencak Silat Setia Hati dan seni musik Dongkrek, merupakan aset budaya khas yang lahir di bumi Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Dengan berbagai cara dan upaya, pemerintah daerah setempat berusaha mempertahankan  kekayaan olah karsa dan budaya moyangnya itu. Hingga, belum lama ini, tercetuslah sebuah media yang dianggap paling tepat guna melestarikan kedua kebudayaan tersebut.

Sementara tangan tangan lembut puluhan pengrajin batik lokal, menyambut gagasan pemerintah daerah setempat. Sentuhan canting pun segera menggores hamparan kain, hingga terwujud lembaran batik Madiun dengan motif khas Pendekar dan Dongkrek.

“Soal kegiatan pengrajin batik memang sudah lama. Namun saat itu belum memiliki kekhasan, sehingga sulit berkembang. Baru setelah memasukkan unsur pendekar dan alat musik dongkrek sebagai motifnya, kini mulai bergairah,” ungkap Drs. Indra Setyawan, Kepala Dinas Perdagkop dan UM Kabupaten Madiun, kepada jurnalis, Senin (16/11/2020) lalu.

Indra mengungkapkan hal itu saat menyempatkan diri  meninjau Pelatihan Keterampilan Desain Batik, yang diselenggarakan dinas yang dipimpinnya, berlangsung di aula rumah makan Caruban.

Tak kurang 30 pengrajin dari berbagai kecamatan di Madiun antusias mengikutinya. Dipandu pemateri praktisi batik asal Yogyakarta, Nur Ahmadi.

“Sehingga konsumen nantinya tidak lagi kesulitan mencari batik khas Madiun. Meskipun, terkait pemasaran  sebenarnya kami juga sudah membuka portal online,” cetus Indra Setyawan.

Batik Khas Madiun

Rizky, peserta termuda usia 19 tahun, asal Kecamatan Pilang Kenceng mengatakan keikutsertaanya dalam kegiatan ini untuk  “Tentu saya tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Terlebih orientasinya adalah menyelamatkan dan mempertahankan kebudayaan lokal, tempat saya lahir dan besar. Selain itu, program ini juga memiliki aspek ekonomis yaitu mengembangkan kemampuan membatik. Yang jika hebat dan digemari konsumen maka dagangan laris,” ungkap Rizky.

Sementara menurut Bagas, konsumen lokal, yang mengaku gandrung akan motif batik khas Madiun, menilai batik Madiun berciri khas motif pesilat dan alat musik Dongkrek itu bisa diadu dengan bermacam batik yang lahir jauh lebih dulu dari kota lain.

Kombinasi warna, lanjutnya, juga menawan hati dengan goresan Pesilat dan Dongkrek yang tidak mungkin ditemukan pada motif batik dari kota manapun. Kombinasi warna dengan muatan budaya khas Madiun, dinilainya sebagai daya pesonanya. 

Sementaraa itu Sri Lestari, salah satu pengrajin batik, asal Desa Sidomulyo,  Kecamatan Sawahan, mengaku dirinya k terus mengoptimalkan usahanya.

Tujuh tahun silam, ujar Sri, dengan modal hanya Rp. 500 ribu, dirinya memulai usahanya bidang membatik. Awalnya timbul tenggelam lantaran belum menemukan ciri khas pada batik buatannya. 

Namun setelah terpaten konsep batik dengan ciri khas ke Madiun-an, usahanya mulai dirasakan meningkat. “Alhamdulilah saat ini saya sudah mempunyai 12 karyawan. Kami menjual per lembar batik seharga maksimal Rp 300 ribu. Cukup banyak yang memesan,” ucapnya.(Fin/Hendra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.