Ribuan Pekerja Industri di Banten Terancam PHK Massal

oleh -
umk 2020
Massa buruh industri di Banten menggelar aksi unjukrasa menuntut kenaikkan UMK 2020.

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Angka pengangguran di Provinsi Banten nampaknya bakal bertambah. Tiga perusahaan sepatu di wilayah Tangerang sudah dipastikan akan hengkang dari Banten lantaran tak mampu membayar Upah Minimun Kota (UMK) yang dinilai terlalu tinggi.

UMK sebesar Rp4 juta dinilai telah membebani keuangan perusahaan. Akibatnya, sekitar 100 ribu buruh terancam akan mengalami PHK masal karena perusahaan tersebut akan migrasi ke Jawa Tengah yang dinilai lebih ramah terhadap investor.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Banten, Babar Suharso mengatakan, pihaknya telah mengidentifikasi pada tahun 2018 sebanyak tiga perusahaan yang bergerak di industri padat karya telah membangun perusahaan baru di Jawa Tengah dengan alasan ekpansi pengembangan perusahaan.

Namun akhir tahun 2019, menurutnya, mulai mencuat kabar beberapa perusahaan di Banten akan melakukan relokasi, khususnya perusahaan industri alas kaki. “Dari tiga perusahaan yang diidentifikasi relokasi diperkiraan dengan tenaga kerja pasti lebih dari 100 ribu orang,” kata Babar saat dikonfirmasi, Rabu (13/11/2019).

BACA JUGA:

. Pengangguran Tinggi, Kemiskinan di Banten Justru Turun

. Pengangguran Membludak, Pemprov Banten Dinilai Minim Inovasi

. Gubernur Banten Diminta Fokus Atasi Pengangguran

Meski upah minimum dua daerah di Banten seperti Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak masih rendah, perusahaan-perusahaan tersebut tetap lebih memilih untuk angkat kaki dari Banten.

“Bahwa upah minimum di 2020 akan menjadi Rp4 juta lebih. Karena itu (perusahaan) persepatuan, padat karya mereka semakin kuat rencana pengembangan di luar Banten tahun depan yang akan berdampak pada pekerja,” katanya.

Dalam waktu dekat, Disperindag akan melakukan pertemuan dengan asosiasi perusahaan persepatuan yang berada di Banten untuk membahas persoalan tersebut. “Yang kami khawatirkan adalah perusahaan yang tidak mampu relokasi terancam tutup. Ini yang mungkin kami dalami menghindari terjadinya relokasi maupun tutupnya perusahaan,” katanya. (Luthfi/Difa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.