Rapat Dengan BUMN Farmasi, Ananta Wahana Pertanyakan Kelanjutan Biozek dan Saran WHO

  • Whatsapp
Ananta Wahana Komisi VI DPR RI
Ananta Wahana, Anggota Komisi VI DPR RI.

JAKARTA, REDAKSI24.COM–Anggota Komisi VI DPR RI, Ananta Wahana mempertanyakan kelanjutan alat rapid test Biozek yang di import dalam jumlah besar oleh BUMN Farmasi. Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini meminta penjelasan sudah sejauh mana pendistribusiannya alat rapid test yang yang dikabarkan memiliki tingkat akurasi rendah dalam mendeteksi virus Corona serta kemana saja pendistribusiannya.

“Alat rapid test Biozek di impor dalam jumlah banyak oleh BUMN Farmasi, bagaimana sekarang kelanjutannya? Karena kabarnya alat tersebut bermasalah,” tanya Ananta saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI dengan Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Farmasi membahas rencana investasi dan operasional empat perusahaan BUMN farmasi sepanjang tahun ini serta indikator pemulihan ekonomi nasional (PEN) usai pandemi Covid-19 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (5/10/2020).

Bacaan Lainnya

Terlebih lanjut Ananta, saat ini  badan kesehatan dunia (WHO) dan ahli medis dunia justru menganjurkan alat rapid tes tipe ANTIGEN yang jauh lebih murah tetapi tingkat akurasinya sangat tinggi. Menurut Ananta mengapa tidak dari dulu BUMN-BUMN Farmasi ini selangkah lebih maju dan mengupayakan alat rapid tipe ANTIGEN yang sudah dibicarakan sejak bulan Juni.

“Kalau alat ANTIGEN ini bisa diupayakan, maka akan sangat membantu keuangan negara dan masyarakat,” tegas legislator dapil Banten III tersebut.

Namun begitu Ananta juga tetap memberikan apresiasi dan berterima kasih kepada segenap BUMN Farmasi yang hadir, karena sebagai perusahaan BUMN telah bekerja keras menangani Covid-19, termasuk mengupayakan vaksin, dan memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat.

“Kita semua mengapresiasi dan berterima kasih kepada segenap BUMN Farmasi yang hadir, karena sebagai perusahaan BUMN telah bekerja keras menangani Covid-19, termasuk mengupayakan vaksin, dan memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat lewat pembagian APD dan lain-lain. Dan kita mengapresiasi manajemen perusahaan-perusahaan Farmasi ini karena mampu memberikan kontribusi pendapatan bagi negara yang cukup besar di masa pandemi, khususnya ketika banyak perusahaan swasta dan BUMN yang justru sedang merugi berat,” ujar Ananta.

Menanggapi pernyataan tersebut, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) selaku pengimpor rapid test Biozek dari perusahaan asal Belanda itu menyampaikan sudah menghentikan sementara pendistribusian rapid test Biozek ke fasilitas layanan kesehatan sambil meminta klarifikasi kepada Inzek International Trading BV Belanda selaku penjual. 

“Kimia Farma melakukan impor dan distribusi produk rapid test Biozek yang merupakan produk dari manufaktur Inzek International Trading BV Belanda sejak pertengahan April 2020,” ujar Sekretaris Perusahaan PT Kimia Farma Tbk, Ganti Winarno.

Ganti juga menjelaskan produk rapid test Biozek sudah memiliki sertifikat Conformite Europeenne (CE) yang memenuhi persyaratan hukum untuk dapat diperdagangkan dan dikomersialisasikan di pasar Eropa. 

“Dan Kimia Farma hanya mendistribusikan produk rapid test Biozek ke fasilitas layanan kesehatan, jejaring laboratorium pemeriksaan dan Dinas Kesehatan provinsi/kota/kabupaten,” ujar Ganti.

Sementara itu terkait dengan tes Antigen yang disarankan oleh WHO, PT Indofarma Tbk. siap mendukung pengadaan tes antigen untuk menggantikan rapid test (tes cepat) antibodi dalam pemeriksaan virus corona (Covid-19).

Mengganti tes rapid menjadi tes antigen sejalan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sebab, tes antigen memiliki keakuratan yang lebih tinggi.

Direktur Utama PT Indofarma Tbk Arief Pramuhanto mengungkapkan tes cepat merupakan alat screening (penyaringan) awal untuk mendeteksi orang yang terinfeksi Covid-19. Karena kebutuhannya yang tinggi, tes cepat antibodi disebut masih diperlukan walaupun standar pedoman infeksi harus berdasarkan tes PCR.

Sebagai contoh, Arief menjelaskan pihaknya bekerjasama dengan PT Angkasa Pura di sejumlah bandara untuk pemeriksaan awal Covid-19 menggunakan tes cepat antibodi.

Arief mengakui keakuratan tes cepat antibodi tidak setinggi tes PCR. Namun di bawah tes PCR, ada tes cepat antigen yang bisa dijadikan rujukan yang lebih akurat mengenai orang yang terinfeksi Covid-19.

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat regulasinya bisa keluar sehingga nanti kita juga bisa siap mendukung pengadaan rapid test antigen,” kata Arief.

Dia  menuturkan hingga saat ini, PCR masih jadi guidance standard, sehingga belum bisa gantikan. Selain itu, ada yang namanya rapid test antigen dan memang sudah ada produk rekomendasi WHO yang masuk.

Arief berharap regulasi mengenai penggunaan tes cepat antigen akan bisa segera keluar guna menggantikan penggunaan tes cepat antibodi.

“Kami mengharapkan juga pihak otoritas bisa memberikan aturan atau regulasi bahwa memang antigen ini bisa menjadi alternatif untuk menggantikan rapid test antibodi,” katanya. (Agung/Hendra)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.