Puluhan Pabrik Hengkang, Disnaker Banten: Yang Baru Datang Ratusan

oleh -
pabrik disnakertrans banten hengkang investasi ketenagakerjaan al Hamidi
Ilustrasi - Kepala Disnakertrans Provinsi Banten, Al Hamidi mengatakan, meskipun banyak karyawan yang dirumahkan dan di-PHK karena perusahaan tutup serta berpindah ke daerah lain, namun banyak juga karyawan yang direkrut perusahaan yang baru buka di Banten.

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnekertrans) Provinsi Banten, Al Hamidi  mengakui banyaknya pabrik yang hengkang dari tanah jawara. Namun  jumlahnya hanya puluhan, tidak sebanding dengan investasi baru yang mencapai ratusan.

“Kalau sekarang tidak ada (pabrik yang hengkang). Kemarin-kemarin ada yang pindah ke daerah lain, tapi sudah datang lagi perusahaan lain yang baru,” kata Al Hamidi kepada wartawan di Kota Serang, Selasa (15/6/2021).

Ia mengakui, sejak awal pandemi hingga sekarang sudah banyak perusahaan yang pindah dan gulung tikar. Namun demikian, kata dia, banyak juga investasi yang masuk dan membuka pabrik baru di Banten.

“Perbandingannya perusahaan yang pindah dan tutup itu kurang lebih sekitar 70-an perusahaan. Tapi, datang yang baru mungkin sudah lebih dari 100 pabrik. Ini artinya kondisi ketenagakerjaan di Banten tetap kondusif,” kata Alhamidi.

Ia mengatakan meskipun banyak karyawan yang dirumahkan dan di-PHK karena perusahaan tutup serta berpindah ke daerah lain, namun banyak juga karyawan yang direkrut perusahaan yang baru buka di Banten.

“Hitungan kami sejak awal tahun 2021 ini sudah lebih dari 20 ribu karyawan yang direkrut. Belum lagi yang tidak diketahui Disnaker,” katanya.

BACA JUGA: BI Banten Dorong Pembentukan Tim Digitalisasi Daerah

Dengan demikian, kata Alhamidi, kondisi investasi dan ketenagakerjaan masih kondusif di Banten, sehingga mendorong para investor untuk menanamkan modalnya di Banten.

“Ini artinya iklim ketenagakerjaan di Banten kondusif. Sehingga membuat kepercayaan para investor. Buktinya Banten berada di peringkat empat secara nasional untuk PMDN,” kata Alhamidi.

Ia mengatakan sebelumnya memang ada sejumlah pabrik yang pindah dan mengembangkan investasinya ke daerah lain termasuk Jawa Tengah. Perusahaan-perusahaan tersebut terutama untuk perusahaan alas kaki dan garment.

“Kami juga belum mengerti kenapa di sisi lain investasi dan perekrutan karyawan baru juga banyak, tapi persentase pengangguran di Banten masih tetap tinggi,” kata Alhamidi.

Sebelumnya Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Firman Bakrie mengatakan, gelombang relokasi pabrik dari Banten dan Jabodetabek ke daerah lain seperti Jawa Tengah kembali mengemuka.

Alasan utamanya, selain persoalan upah, ada alasan mulai meratanya pembangunan infrastruktur di Pulau Jawa, seperti tol Trans Jawa yang sudah terkoneksi.(Ant/Difa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.