PSBB di Banten Diperpanjang, Karena “Genitnya” Masyarakat

  • Whatsapp
Pengamat sosial, Memed Chumaedi.

TANGERANG SELATAN, REDAKSI24.COM – Pandemi Covid-19 di Banten, terutama Tangerang Raya belum juga usai. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pun kini diperpanjang, lantaran tingkat kesadaran masyarakat mematuhi protokol Covid-19 dinilai masih rendah.

Di satu sisi, kehidupan kenormalan yang baru atau new normal terus digaungkan, berharap masyarakat dapat beradaptasi dengan protokol kesehatan Covid-19 yang akan diterapkan di era new normal pasca pandemi.

Bacaan Lainnya

Tetapi, untuk menerapkan kehidupan dengan kenormalan baru itu, pemerintah harus menjamin bahwa tingkat kesadaran masyarakat mematuhi protokol kesehatan benar-benar diterapkan. Sehingga, tidak menjadi boomerang dan menimbulkan gelombang kedua pandemi Covid-19. 

Pengamat sosial Memed Chumaedi mengatakan, problem utama dalam persiapan new normal pasca pandemi ini masyarakat masih ‘genit’ dalam pelaksanaan PSBB.

“Prinsipnya pemerintah se-Tangerang Raya sudah berupaya secara maksimal dalam penerapan PSBB. Begitu pun pemerintah Kota Tangsel. Problem utamanya tidak lain adalah masih ‘genitnya’ masyarakat dalam pelaksanaan PSBB tersebut. Banyak masyarakat yang beraktivitas meskipun tidak terlalu urgent. Bahkan tidak sedikit yang abaikan jaga jarak,” kata Memed.

BACA JUGA: PSBB di Tangerang Raya Diperpanjang Kembali Hingga Dua Minggu Kedepan

Memed menuturkan, ketika PSBB  dilaksanakan oleh pemerintah sudah menjadi konsekuensi logis bagi pemerintah untuk bertanggung jawab atas kebijakan tersebut. Tidak sedikit supporting materil dan moril yang dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi pandemi Covid-19. 

Diketahui, Pemkot Tangsel menyiapkan anggaran penanganan Covid-19 diperkirakan sebesar Rp 151 miliar. Sedangkan Pemerintah Kabupaten Tangerang diperkirakan mencapai  Rp 253,8 miliar dan Pemkot Tangerang diperkirakan sekira Rp 209 miliar.

“Akan tetapi upaya pemerintah tidak berbanding lurus dengan apa yang terjadi di masyarakat. Ekspektasi pemerintah dalam hal ini Pemkot Tangsel setidaknya mengurangi pandemi. Walaupun masih ada yang kurang dalam pelaksanaan, setidaknya masyarakat ‘sadar diri’ akan bahaya corona ini,” tutur Memed.

Menurutnya, persoalan now normal ini tidak bisa di titik beratkan kepada salah satu pihak. Tetapi, masyarakat dan pemerintah harus saling membantu. Pemerintah membantu dengan kebijakan secara materil misalnya memberikan bantuan sembako dan lainnya. Sedangkan masyarakat, harus mematuhi segala kebijakan yang diterapkan pemerintah.

“Pilihan new normal merupakan pilihan objektif kedua belah pihak antara masyarakat dan pemerintah. Masyarakat butuh normalisasi kehidupannya kembali dan pemerintah pun begitu juga. Apalagi anggaran Covid-19 tidak sedikit yang dikeluarkan oleh pemerintah, dan juga seberapa besar tingkat kehidupan masyarakat yang sempat terhenti gara-gara PSBB,” ungkap Memed.

BACA JUGA: Ini Alasan Kenapa PSBB di Tangsel Kembali Diperpanjang

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) itu berharap, masyarakat patuh terhadap protokol Covid-19 agar tidak ada gelomvang kedua pandemi Covid-19.

“Sudah sepatutnya dalam menyongsong new normal masyarakat sadar akan bahaya pandemi dengan mentaati protokol Covid-19 secara aktif dan pemerintah memberikan new hope kepada masyarakat untuk dapat beraktifitas kembali,” pungkas Memed. (wvyh/Aan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.