Proyek Tol Serang-Panimbang Distop Warga Lebak

  • Whatsapp
Warga Kampung Pasirmuli, Desa Cisangu, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, Banten,menghadang truk tanah proyek Tol Serang-Panimbang, Rabu (07/08/2019).

REDAKSI24.COM – Puluhan warga melakukan aksi penghentian paksa aktivitas proyek pembangunan Jalan Tol Serang-Panimbang di Kampung Pasirmuli, Desa Cisangu, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, Banten, Rabu (07/08/2019).

Aksi penghentian paksa proyek jalan bebas hambatan tersebut dilakukan dengan cara menyetop puluhan kendaraan pengangkut tanah milik perusahaan pembangun jalan tol, yakni PT Wijaya Karya alias PT Wika.

Bacaan Lainnya

Warga menuntut agar PT Wika menghentikan sementara aktivitas pembangunan jalan tol dan segera bertanggungjawab terhadap lahan milik mereka yang menjadi korban pembangunan jalan tol tersebut.

Iyeng (41), warga Desa Cisangu mengancam akan terus melakukan aksi penghentian truk pengangkut tanah setiap harinya hingga pihak perusahaan dapat mengganti rugi lahan milik masyarakat yang menjadi korban pembangunan jalan tol tersebut.

Pasalnya, dalam pembangunan tersebut pihak perusahaan telah merugikan dirinya dan warga lainnya dengan telah mengurug lahan persawahan milik warga. “Kami akan melakukan demo setiap hari, sampai perusahaan mengganti rugi lahan milik warga yang diurug,” kata Iyeng kepada Redaksi24.com.

Menurut Iyeng, dalam waktu dua tahun ini warga Desa Cisangu dan sekitarnya merasa telah dirugikan akibat proyek pembangunan Tol Serang-Panimbang. Pasalnya, pihak proyek telah mengurug secara paksa lahan sisa milik warga yang tidak terbebaskan.

“Kami mengalami gagal panen, karena lahan tempat menanam padi diurug pihak perusahaan,” ujarnya.

Ia meminta perusahaan menghentikan sementara aktivitas proyek pembangunan tol, dan segera melakukan ganti rugi. “Yang kami harapkan adalah perusahaan dapat segera mengganti rugi, karena lahan kami saat ini sama sekali tidak bisa dipakai untuk bercocok tanam,” pintanya.

Kepala Desa Cisangu, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, Banten, Ideng Sukatma mengharapkan adanya solusi yang ditawarkan PT Wika, Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan pemerintah terkait tuntutan warganya itu.

“Kami ingin berkomunikasi dengan perusahaan, BPN dan pemerintah guna mencari solusi atas lahan warga yang telah menjadi korban pembangunan tol,”katanya.(Yusuf/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.