Proyek PLTS Rp5,63 Miliar di Pulau Tunda Serang Mubazir

  • Whatsapp
Pulau Tunda Serang
Ketua DPRD Banten, Andra Soni berkunjung ke Pulau Tunda menyusul rusaknya sumber listrii di pulau tersebut.

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Komisi II DPRD Banten menyoroti sarana penerangan di Pulau Tunda, Kabupaten Serang yang kondisinya memprihatinkan. Sudah dua bulan terakhir pulau itu gelap gulita ketika malam hari lantaran sumber pasokan listrik rusak. Genset yang menjadi satu-satunya sumber listrik di pulau itu, tidak pernah diganti sejak digunakan tujuh tahun lalu.

Kondisi yang memprihatinkan tersebut mendapat perhatian serius dari kalangan DPRD Provinsi Banten. Sejumlah wakil rakyat Banten melakukan peninjauan ke Pulau Tunda untuk mengetahui lebih jauh kondisi warga Pulau Tunda yang kini hidup tanpa aliran listrik.

Bacaan Lainnya

Koordinator Komisi II DPRD Banten, Andra Soni mengatakan, kunjungan dewan merupakan bentuk pengawasan serta menindaklanjuti laporan yang beredar di media masa terkait dengan kondisi pasokan listrik di pulau itu.

“Ada sekitar 400 KK (Kepala Keluarga) dan 1.000 jiwa warga Pulau Tunda yang mengandalkan listrik dari genset yang sudah berusia tujuh tahun. Ketika genset itu rusak, otomatis mereka tidak bisa mengandalkan apa-apa lagi,” jelasnya.

BACA JUGA: Banten Hadapi Ancaman PHK Massal Gelombang Kedua

Politisi Gerindra itu menambahkan, berdasarkan informasi dari warga setempat, pada tahun 2018 lalu pemerintah sudah menyediakan alternatif pasokan listrik selain dari genset, yakni Pembagnkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Namun sayangnya, lanjut Andra, sejak selesai pengerjaan proyek itu, PLTS itu tidak bisa digunakan, sehingga sampai sekarang kondisinya mangkrak.

“Padahal anggaran untuk PLTS itu sangat besar, sekitar Rp5,63 miliar yang dikerjakan PT Cahaya Kencana Kupang dengan nama proyek Pembangunan PLTS 50 kWp. Mulai dikerjakan tanggal 4 Mei 2018 sampai 1 Oktober 2018 lalu,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Eko Palmadi mengatakan, proyek pembangunan PLTS tersebut merupakan hibah dari pemerintah pusat kepada Pemprov Banten yang pembiayaannya bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK).

“Spesifikasi pembangunan proyek PLTS itu hanya untuk menjangkau sekitar 100 KK dengan asumsi setiap KK menggunakan KWh sebesar 400W,” katanya.

Namun, menurut Eko, dalam pelaksanaannya, PLTS itu digunakan sebanyak 350 KK. Kondisi itu mengakibatkan travo PLTS terbakar karena beban yang harus dikeluarkan melebih kapasitas. Selain travonya terbakar, tambahnya, chip PLTS itu juga hilang entah kemana.

“Padahal chip itu otak dari PLTS. Harganya juga sangat mahal dan harus impor dari Jerman,” jelasnya.

Diakui Eko, karena kondisi PLTS tersebut sudah rusak dan susah mencari sparepart-nya, Pemprov Banten berencana akan membuat saluran kabel listrik bawah laut yang bekerjasama dengan PLN.

Saluran kabel listrik bawah laut tersebut direncanakan untuk memasok aliran listrik ke Pulau Panjang yang terdekat, sementara itu genset yang sekarang digunakan sebagai pasokan listrik di Pulau Panjang akan digunakan untuk masyarakat Pulau Tunda.

“Tapi itu proyek jangka panjang, karena biayanya cukup mahal dan harus ada fasibility study-nya dulu. Mungkin kami masukan pada APBD 2021 untuk FS-nya,” tandanya. (Luthfi/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.