Produksi Padi Gogo Jadi Andalan Ketahanan Pangan Warga Lebak

  • Whatsapp
padi gogo, ketahanan pangan, lebak, padi huma, andalan,
Petani padi gogo dari suku baduy di Desa Kanekes, Lebak, Banten.

LEBAK, REDAKSI24.COM – Produksi padi gogo atau padi huma di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, hingga kini masih dilestarikan. Bahkan sudah menjadi andalan ketahanan pangan warga di daerah itu.

“Kami terus mengembangkan pertanian padi gogo untuk memenuhi pangan dan peningkatan ekonomi petani,” kata Kepala Dinas PertangWaian dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar di Lebak, Selasa (2/2/2021).

Bacaan Lainnya

Produksi padi gogo di Kabupaten Lebak pada tahun 2020 menyumbangkan ketahanan pangan sebanyak 41 ribu ton gabah kering pungut (GKP) dengan panen seluas 13.912 hektare dan tanam 6.616 hektare.

Produksi sebanyak 41 ribu ton GKP itu, kata dia, jika diakumulasikan menjadi beras diperkirakan sekitar 35 ribu ton setara beras dan mereka petani yang mengembangkan padi gogo di lahan darat.

Kebanyakan warga yang mengembangkan pertanian padi gogo dari 28 kecamatan, mereka warga kesepuhan Sunda yakni adat Kakolotan dan Baduy.

BACA JUGA: Sejumlah Pejabat Pemkab Lebak Tidak Bisa Divaksin Covid-19

Bahkan, warga Baduy hingga kini pertahanan pangan keluarga dari pertanian padi gogo dengan alasan mempertahankan tradisi leluhur.

Mereka menanam padi huma di lahan perbukitan, karena dipastikan lahannya subur hingga bisa mencapai produktivitas empat ton/GKP/hektare.

Selain itu juga tanaman padi gogo lebih murah biaya produksinya dibandingkan padi sawah, karena tidak membutuhkan ketersediaan air juga tanpa menggunakan pupuk kimia.

“Kami melestarikan padi gogo dengan masa panen selama enam bulan dari hari setelah tanam (HST) guna membantu ketersediaan pangan keluarga, terlebih saat ini pandemi COVID-19,” katanya.

Sementara itu, Mulyadi (55) petani warga Sobang Kabupaten Lebak mengatakan, selama ini pertanian padi gogo dapat menyumbang ketahanan pangan keluarga dan mereka tidak menjual gabah maupun beras jika panen raya.

Saat ini, kata dia, kebanyakan tanaman padi gogo sudah memasuki usia tanam tiga bulan dan panen awal April 2021.

“Kami panen padi huma dan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi pangan keluarga,” katanya seraya menyebut menanam padi huma seluas setengah hektare dan menghasilkan 70 ikat padi (geugeus).

Pertanian padi gogo masih tradisional dan jika panen butir-butir gabah dipotong menggunakan alat ani-ani. Petani mengembangkan padi huma dengan sistem tumpang sari bersama pertanian palawija dan sayuran.

“Kami bercocok tanam padi gogo itu melestarikan tradisi kesepuhan untuk pertahan pangan keluarga dan panen setahun satu kali musim,” ujarnya.(ANT/DIFA)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.