Presiden Jokowi  Dukung Pembentukan Majelis Syuro Dunia

  • Whatsapp
Jokowi-Bamsoet

JAKARTA, REDAKSI24.COM — Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo (Jokowi) memberi dukungan penuh pembentukan World Consultative Assembly gagasan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI).

Demikian pernyataan  Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo, Rabu (8/7/2020). Majelis Syuro Dunia, menurut pria yang akrab disapa Bamsoet ini, dibentuk bertujuan  untuk mendorong terwujudnya tatanan dunia Islam yang damai, harmonis dan beradab.

Bacaan Lainnya

“Presiden Jokowi memberikan dukungan penuh pembentukan Majelis Syuro Dunia atau World Consultative Assembly (WCA) yang nantinya  jadi wadah berkumpulnya MPR dari berbagai negara yang punya sistem sama, khususnya negara berpenduduk muslim. Berkat dukungan presiden, semangat MPR lebih terpacu untuk mendeklarasikan berdirinya WCA pada Agustus 2021 mendatang,” ujarnya.

Dalam pertemuan antara jajaran MPR dengan presiden, Bamsoet didampingi  Wakil Ketua MPR antara lain Ahmad Basarah, Ahmad Muzani, Jazilul Fawaid, Lestari Moerdijat, Syarief Hasan, Zulkifli Hasan, Arsul Sani, dan Fadel Muhammad. Sedangkan Presiden Jokowi didampingi Menko Polhukam Mahfud MD, Mensesneg Pratikno, dan Seskab Pramono Anung.

Bamsoet yang juga Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menuturkan, Majelis Syuro Dunia akan menginisiasi terbentuknya Bursa Efek Syariah Dunia (Global Syariah Stock Exchange) sebagai jawaban atas kondisi perekonomian global yang amburadul akibat dirundung kapitalisme dan liberalisme.

“Global Syariah Stock Exchange juga akan mewujudkan Islamic Capital Hub di Industri pasar modal dunia. Berbagai Bursa Efek Syariah ternama seperti Malaysian Islamic Capital Markets, Bursa Istanbul, dan Dubai Financial Market bisa dilibatkan sebagai awalan. Semua harus dikaji dan didalami lebih jauh oleh pakar ekonomi dari berbagai negara dunia yang difasilitasi Majelis Syuri Dunia,” ujarnya.

Mantan Ketua DPR RI ini juga yakin, dalam mendorong pemerintahan melepaskan diri dari jerat kapitalisme yang mencekik, parlemen dari masing-masing negara memiliki peran besar. Dengan industri keuangan syariah, para pelaku ekonomi selain terhindar riba, juga tidak akan berspekulasi terhadap mata uang.

“Uang digunakan untuk mencukupi kebutuhan sektor rill, tidak semata-mata untuk kepentingan spekulasi yang membuat ekonomi liberal rentan dengan krisis. Contohnya perang dagang yang terjadi saat ini antara Cina dan Amerika, tetapi negara di seluruh dunia yang terkena imbasnya. Hal tersebut dikarenakan tatanan ekonomi dunia tidak seimbang,” jelas Kepala Badan Bela Negara FKPPI itu.

Bamsoet menambahkan, pusat referensi produk halal dunia (World Hub of Halal) dapat terwujud melalu Majelis Syuro Dunia. Sehingga kedepannya tidak ada lagi kekhawatiran terhadap ketersediaan makanan dan minuman halal.

“Memajukan penduduk muslim melalui industri syariah bukan berarti memusuhi penduduk agama lain. Langkah ini justru sebagai solusi alternatif atas kondisi dunia yang sudah karut marut akibat kapitalisme dan liberalisme. Wajah dunia harus diubah jadi tolong menolong, solidaritas antar manusia, berikan kesempatan pada siapapun gapai kesejahteraan dan kemakmuran,” pungkas Bamsoet. (Agung/Jaya).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.