Aksi Islamofobia di Prancis

Prancis Dirongrong Aksi Islamofobia Serang Pusat Kebudayaan Islam

oleh -
islamofobia, di, prancis, pusat, kebudayaan, islam
Seorang pengunjuk rasa membawa spanduk Menara Eiffel Prancis dan Masjid Nabawi Arab Saudi, dalam aksi protes terhadap majalah Charlie Hebdo, di depan Kedutaan Prancis di Teheran, Iran, Rabu (9/9/2020)/Antara.

PARIS, REDAKSI24.COM–Menteri Dalam Negeri Prancis Gerard Darmanin mengatakan, aksi bernuansa Islamofobia yang melakukan perusakan terhadap pusat kebudayaan Islam di Kota Rennes bagian barat Prancis adalah tindakan yang merongrong nilai-nilai negara itu.

Aksi Islamofobia penyerangan itu terjadi pada Minggu (10/4/2021) waktu setempat, dengan melakukan vandalisme yang dituliskan pada bagian samping gedung pusat kebudayaan Islam di Prancis.

Di antara slogan-slogan yang dituliskan di samping gedung yang digunakan sebagai ruang beribadah itu antara lain “Katolik – agama negara” dan “(Katakan) Tidak pada Islamisasi”.

Aksi bernuansa Islamofobia itu terjadi menjelang bulan suci Ramadhan bagi umat Islam di negara itu, yang jatuh pada Selasa (13/4/2021).

“Serangan-serangan terhadap Muslim adalah serangan terhadap Republik ini,” ujar Gerard Darmanin, usai mengunjungi lokasi kejadian.

Darmanin mengatakan aksi tersebut merupakan serangan menjijikkan terhadap kebebasan fundamental untuk mempercayai suatu agama dan bahwa para Muslim layak mendapatkan perlindungan yang sama dengan kelompok keagamaan lain di negara itu.

Sementara itu, Dewan Prancis untuk Kepercayaan Muslim (CFCM), salah satu kelompok utama yang mewakili Muslim di Prancis, menyebut kejadian tersebut sebagai “agresi tak dapat ditoleransi”.

“Dengan bulan Ramadhan yang segera tiba dan di hadapan lonjakan aksi-aksi anti-Muslim, CFCM menyerukan kepada semua Muslim di Prancis untuk waspada,” kata asosiasi tersebut melalui Twitter.

Darmanin adalah sosok konservatif di pemerintahan Presiden Emmanuel Macron, merupakan pendukung utama rancangan undang-undang, yang disebut pemerintah dibuat untuk mencegah tindakan yang merongrong nilai-nilai Prancis.

Para perwakilan senior dari semua agama telah dimintai pendapat dalam konsultasi terkait pembentukan rancangan undang-undang itu dan CFCM mendukung RUU tersebut.

Negara tersebut menganut sekularisme ketat, dikenal sebagai “laicite”, yang dibentuk untuk memisahkan kehidupan beragama dan kehidupan publik. (ejp)

Sumber: Antara