Sempat Baku Tembak, Prajurit TNI Selamatkan Bupati Lebak dari Kelompok Separitis

  • Whatsapp
Prajurit TNI dari Batalyon Mandala Yudha Kostrad teng melakukan operasi penyelamatan Bupati Lebak dari serangan kelompo separatis.

LEBAK, REDAKSI24.COM—Kelompok pemberontak atau yang sering disebut dengan Separitis melakukan pemberontakan terhadap Pemerintahan Daerah (Pemda) Kabupaten Lebak Rangkasbitung pada Sabtu (14/9/2019). Dalam aksi pemberontakan tersebut, kelompok separtis berhasil menawan Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya dan menduduki Kantor Pemda Lebak.

Aksi pemberontakan tersebut direspon langsung oleh Prajurit TNI dari Batalyon Mandala Yudha Kostrad yang langsung mengirim prajurit guna membebaskan Bupati Lebak dari tangan para kelompok separatis. Sedikitnya, terdapat 32 prajurit yang turun dalam melawan aksi pemberontakan tersebut.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan pantauan di lokasi, terdapat delapan anggota kelompok penyerbu (Pokbu) menggunakan motor trail dengan cepat masuk ke kawasan gedung Sekretariat Daerah (Setda) Lebak. Beberapa anggota TNI kelompok pengamanan (Pokmpam) nampak berjaga di dua pintu gerbang masuk kantor pemerintahan tersebut.

Baku tembak terjadi antara anggota TNI dengan pelaku kelompok separatis bersenjata yang sudah menguasai pendopo. Kurang dari tiga menit prajurit TNI berhasil melumpuhkan para pelaku. Sementara, beberapa anggota yang bertugas membebaskan tawanan (Pokbaswan) menggunakan mobil dengan pengawalan juga dengan cepat membebaskan bupati yang ditawan di salah satu ruangan setelah seluruh pelaku dilumpuhkan.

Setelah berhasil membebaskan tawanan, anggota kelompok penghancur (Pokcur) meledakan lokasi sebagai pertanda tempat yang sebelumnya dikuasai pelaku berhasil direbut. Pembebasan tawanan tersebut merupakan bagian dari simulasi materi Operasi Red pembebasan tawanan dan penghancuran yang digelar Batalyon Mandala Yudha.

“Simulasi Operasi Red ini diumpamakan apabila pejabat pemerintah ditawan oleh kelompok separatis bersenjata, maka pasukan Batalyon Mandala Yudha siap dengan kecepatan dan ketepatan melakukan pembebasan tawanan,” kata Dantim Operasi Red, Letda Kav. Johan Adhitama.

Johan mengatakan, simulasi melibatkan 32 prajurit yang dibagi menjadi empat kelompok. Mengingat bersifat urgent, kecepatan dan ketepatan sangat penting dalam operasi tersebut

“Kami harus selalu siap dengan terus berlatih untuk mengasah kemampuan dalam menghadapi berbagai ancaman kejahatan,” kata Johan.(Yusuf/Hendra)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.